MEMBONGKAR IPO Anak Perusahaan BUMN Telkom, Mitratel


Oleh: Agustinus Edy Kristianto

Wow, Indonesia berdagang dimulai lagi. Sedang ramai berita tentang rencana IPO anak perusahaan BUMN Telkom, Mitratel (PT Dayamitra Telekomunikasi). 

'Modus' pemberitaannya adalah Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo (bekas Dirut Bank Mandiri) memberikan pernyataan pekan lalu di Labuan Bajo, berita naik Senin (18/10/2021): Nilai IPO Mitratel bisa US$1,4 miliar (Rp20 triliun), 25% saham yang dilepas, penjamin emisi (underwriter) adalah Mandiri Sekuritas, BRIDanareksa Sekuritas (lokal), Morgan Stanley, HSBC Holdings Plc, dan JP Morgan Chase & Co (asing). 

Disebutkan juga, Lembaga Pengelola Investasi (LPI) yakni Indonesia Investment Authority (INA) akan terlibat dalam proses IPO ini untuk 'memasarkan' (Wamen BUMN menyebut istilah anchor investor) saham IPO dari Mitratel kepada investor luar, termasuk sejumlah dana abadi alias sovereign wealth fund (SWF) luar negeri (CNBC, 18/10/2021). Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC) disebut akan masuk. 

Bersamaan dengan berita IPO, muncul bumbu penyedap dengan judul-judul bombastis: "Karena Jokowi ingin Indonesia melompat" (Investor Daily), "Mitratel Bakal Jadi Bintang di Sektor Menara" (Liputan6), "Setelah BUKA, IPO Mitratel Bakal yang Terbesar" (CNBC), "Telkom Nangkring di Forbes Best Employer 2021" (Sindonews), "Gunakan Jiwa dalam Bekerja" (wawancara khusus Investor Daily dengan Theodorus Ardi Hartoko, Direktur Utama Mitratel).

Saya ingin nimbrung kasih beberapa catatan. Beberapa orang tanya apakah saya dalam posisi berinvestasi di bursa (memegang emiten tertentu), saya jawab tidak! (tapi saya senang membaca chart teknikal, data fundamental, maupun tendensi bandarmology). Keputusan investasi adalah sepenuhnya hak Anda masing-masing. 

1. Boleh dibilang ini adalah 'permainan' menggunakan 'uang dingin' karena pusat gravitasinya adalah anak perusahaan BUMN. Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) 10/2020 mengatur "Kerugian yang timbul pada anak perusahaan BUMN/BUMD yang modalnya bukan bersumber dari APBN/APBD. atau bukan penyertaan modal dari BUMN/BUMD dan tidak menerima/menggunakan fasilitas negara, bukan termasuk kerugian keuangan negara". 

Jika LPI/INA masuk pun, kurang lebih dinginnya sama. Sebab PP 74/2020 mengatur jika pun akumulasi kerugian menyebabkan modal LPI turun hingga 50% dari modal awal (modal awal LPI Rp75 triliun dari APBN, salah satunya), pemerintah dapat menambah modal LPI. Diberikan pula bantuan hukum bagi personel LPI apabila ada tuntutan/gugatan sepanjang kebijakan diambil berdasarkan iktikad baik. 

Kalau pun nanti rugi, mudah berdalih dengan mengatakan itu risiko investasi;

2. Terserah bumbu jualannya seperti apa, perhitungan valuasinya pakai ahli dari planet mana, yang perlu kita tahu adalah berapa modalnya. Lihatlah akta. Akta PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) baru diubah 31 Agustus 2021 (Akta Nomor 89, status perseroan terbuka). Modal dasarnya adalah Rp50,16 triliun. Modal ditempatkan dan disetor Rp13,6 triliun dan inbreng 798 menara. PT Telkom Tbk (TLKM) menguasai 99,9% dan sisanya PT Metra Digital Investama. Dari modal dasar itu dipecah menjadi 220 miliar lembar saham yang harga per lembarnya Rp228. Angka modal dasar itu tidak jauh berbeda dengan perhitungan enterprise value JP Morgan (September 2020) yakni US$3,9 miliar (Rp54 triliun kurs Rp14.000).

Tapi jika ikuti pernyataan Wamen BUMN yang menargetkan dana Rp20 triliun dari IPO dengan melepas 25% saham maka bisa diasumsikan nilai 100% Mitratel kira-kira Rp80 triliun, yang jika dibagi dengan total 220 miliar lembar saham, keluar angka Rp363 per lembar. Bahasa dalam berita adalah mengenai harga pelaksanaan belum ditentukan karena sekarang masih bookbuilding (pembentukan harga);

3. Tak perlu ribet-ribet berpikir. Harga naik karena demand lebih banyak dari supply. Demand terjadi karena ada yang beli. Pembeli/investor bisa individu atau institusi. Investor bisa anchor investor, qualified institutional investor, High net-worth individuals (HNIs)/Non-institutional investors (NII), dan ritel. Pemesanan ritel adalah di bawah Rp100 juta. Berat buat ritel melawan raksasa. Sudah jelas disebutkan anchor investor Mitratel adalah LPI. GIC dan ADIA investor biasa. 

Informasi orang dalam krusial di sini. 'Kerja sama' dengan sekuritas, manajer investasi, dealer, pejabat dsb sangat penting. Karena orang dalam yang tahu posisi dan jumlah pemesanan. Investor besar pun siapkan dana untuk pengeboman. Jika pada hari-hari pertama IPO harga saham naik, itu biasa. Karena ada aturan OJK tentang stabilisasi harga penawaran umum. Masalah kemudian hari ketika orang tertarik masuk saat harga di pucuk dan pemain besar jualan, itu lain soal. Tinggal tunggu ritel ngamuk-ngamuk karena merasa dikadali saja;

4. Reputasi dan rekam jejak Telkom dalam hal investasi di perusahaan terbuka cacat karena kasus Tiphone (TELE). Dokumen permintaan penjelasan bursa beberapa waktu lalu mempertanyakan tentang penurunan nilai penyertaan anak usaha Telkom (PT PINS) di PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) sebesar Rp1,17 triliun (2019) dan Rp485 miliar (2020) hingga nilai investasi menjadi nihil. Dulu kecapnya juga nomor satu dengan memberitakan TELE adalah authorized dealer voucher pulsa terbesar di Indonesia. Kasus ini sedang dalam tahap penyelidikan KPK. Dirut PINS 2013-2014 Slamet Riyadi diperiksa KPK pada 1 Oktober 2020;

5. Tapi TELE beda dengan Mitratel, meskipun urusan Mitratel juga pernah menjadi perhatian KPK ketika rencana share swap dengan TBIG pada 2015. Sekarang Mitratel menggelembung nilainya karena ketiban pengalihan menara dari Telkomsel. 

Cara mainnya begini: 6.050 menara Telkomsel dialihkan ke Mitratel berdasarkan perjanjian 14 Oktober 2020. 4.000 menara dialihkan pada 31 Agustus 2021. Nilai transaksi afiliasi itu (karena baik Telkomsel maupun Mitratel adalah entitas anak TLKM) dihitung Rp6,1 triliun. Menurut penilai independen, nilai itu lebih tinggi 4,93% dari harga pasar, tapi TLKM berdalih batas wajarnya adalah 7,5%. Setelah pengalihan menara itu, Mitratel akan menyewakan kembali kepada Telkomsel dan Mitratel akan menyewa lahan tempat menara itu berdiri kepada Telkomsel.

Dalam berita dalihnya adalah Mitratel akan fokus di sini, Telkomsel di situ. Digital connectivity, ekspansi bisnis, dsb. Namanya juga ngeles. Padahal duit berputar di situ-situ juga.

6. Risiko politik barang ini sangat tinggi. Sekarang semua licin karena Menteri BUMN adalah Erick Thohir. Jika 2024, kekuasaan berganti, tidak akan selicin ini. Penempatan pengurus (Komisaris/Direksi) TLKM dikritik belum lama ini karena diduga konflik kepentingan. Belum lagi rangkap jabatan Komisaris Utamanya Bambang PS. Brodjonegoro. Di Mitratel sendiri ada nama politisi PDIP Henry Yosodiningrat sebagai komisaris independen.

Jika Erick tidak menjadi Menteri BUMN, mungkin akan sulit bagi Gojek mendapatkan suntikan Rp6,4 triliun dari Telkomsel dalam wujud obligasi tanpa bunga.

Dengan demikian, menurut saya, itu semua adalah game keluar kantung kanan masuk kantung kiri. Telkom sudah setor modal Rp13 triliun ke Mitratel. Telkomsel sudah keluar Rp6,4 triliun buat Gojek. LPI/INA, yang modalnya dari negara juga, nanti masuk ke Mitratel. Selain itu, GIC Singapura masuk ke Mitratel. Padahal GIC ini juga investornya Gojek (komisaris utamanya Boy Thohir) dan Bank Jago/ARTO (pengendalinya adalah Northstar Group, juga investor Gojek).

Koneksi politik dan permainan persepsi publik adalah kunci dalam skema permainan begini. Tekniknya terserah bagaimana: wash trade, marking the close, pump and dumb/hype and dumb, fake demand/supply, alternate trade, pre-arranged trade... Bebas!

Silakan saja permak valuasi dari segala segi mengundang ahli dari bulan sekali pun, tapi ingat, tidak akan ada satu pun yang bisa memastikan masa depan. Boleh Anda bilang prospek bisnis menara akan berkilau, akan begini, akan begitu, fundamental perusahaan akan begini, akan begitu, tapi siapa yang bisa memastikan semua permak itu akan berkorelasi positif dengan jual-beli di pasar saham (banyak emiten yang buruk fundamentalnya, harga sahamnya naik terus tuh). 

Pasar itu isinya orang-orang. Bukan mesin. Orang-orang itulah yang dengan segala motif (fear, greed, interest, dsb) menggerakkan pasar. Makanya fokus saja pada siapa yang jelas-jelas akan dapat keuntungan secepat dan sebanyak mungkin pada kali pertama dagangan dibuka. Gorengan saham itu bisa dilakukan baik di saham kecil maupun big cap. Yang membedakan adalah isi kopernya saja.

Kasihan Indonesia, diperkosa habis-habisan terus!

Salam.

(fb)