Menghadapi Kolonialisme China di Laut China Selatan dan Laut Natuna Utara Indonesia

Menghadapi Kolonialisme China di Laut China Selatan dan Laut Natuna Utara Indonesia 

Oleh: Adi Ketu

1. Laut Cina Selatan adalah wilayah strategis. Selain menyimpan minyak, dan gas alam bawah laut yang berharga, itu juga merupakan titik pertukaran perdagangan hingga 40% dari pengiriman dunia.

Laporan lembaga penelitian EIA memperkirakan Laut Cina Selatan mengandung cadangan sekitar 11 miliar barel minyak dan 5,7 triliun meter kubik gas alam. Hidrokarbon konvensional yang sebagian besar berada di wilayah yang tidak dipersoalkan.

2. Secara historis, siapa pun yang mengendalikan chokepoint perdagangan internasional, berarti juga telah mempengaruhi perdagangan — mengendalikan pengiriman minyak dan hampir 90 % dari perdagangan global.

Itulah mengapa China sangat berambisi memiliki program penguasaan laut di setiap chokepoint perdagangan utama.

3. Bagi China, strategi di Laut Kuning, Laut Cina Selatan dan Laut Cina Timur lebih dari sekadar mengontrol saluran distribusi perdagangan. Lebih jauh, itu bagian dari strategi penolakan-wilayah, anti-akses.

4. Untuk mewujudkannya maka China membangun kekuatan angkatan lautnya hingga tiga lapis. Angkatan Laut Pertama terdiri dari pasukan kapal perang dan kapal selam, Angkatan Laut kedua terdiri dari pasukan Kapal Penjaga Pantai (CCG) dan Angkatan Laut Ketiga adalah Milisi maritim nelayan yang dipersenjatai atau tidak (PPAFM).

5. Ketiga pasukan laut ini beroperasi di daerah yang dinamakan China, Zona Abu Abu (Grey Area) untuk menegaskan kendali China atas ruang maritime wilayah, baik yang dipersengketakan atau tidak

6. Di satu sisi, mereka merasa perlu untuk mempertahankan dan memajukan klaim teritori China. Mereka menyebut tindakan ini “perlindungan hak maritim.”

Di sisi lain, mereka ingin menghindari tindakan cassus belli (aksi yang memicu peperangan ) yang sangat merusak hubungan mereka dengan negara lain.Dan menymbunyikannya dari pandangan negatif dunia internasional.

7. Menggunakan kekuatan angkatan laut kedua seperti penjaga pantai dan angkatan laut ketiga, milisi nelayan , memungkinkan mereka untuk menemukan keseimbangan yang optimal antara “perlindungan hak” dan “pemeliharaan stabilitas.”

Pasukan penjaga pantai jauh lebih tidak provokatif daripada kapal perang . Penjaga pantai China bisa beroperasi bebas dengan dalih penegakan hukum rutin, dan milisi maritim sering berpura-pura menjadi nelayan. Namun kedua kekuatan angkatan laut ini dapat digunakan untuk mengejar tujuan militer tradisional utama yaitu Pengendalian Ruang dan Wilayah.

8. Itu mengapa dari susunan gelar pasukan selalu tampak pasukan laut pertama Tiongkok – kapal lambung abu abu (PLAN) sering memainkan peran pencegahan (backstop) di cakrawala, sementara pasukan laut kedua – lambung putih (Penjaga Pantai China – CCG) di lapis kedua dan Angkatan laut ketiga ,Milisi maritim – lambung biru (Angkatan Bersenjata Rakyat / PAFMM) beroperasi di garis depan. (Mengenai kekuatan dan garis komando pertahanan China lebih jauh akan diungkap di tulisan lain)

9. Di zona abu abu termasuk daerah perbatasan dan wilayah sengketa, China lakukan taktik salami, yang kemudian dilanjutkan dengan strategi kubis.

10. Taktik Salami (cara mengiris seperti mengiris ikan salami – salami slice) adalah proses membagi dan menaklukkan ancaman dan persekutuan yang digunakan untuk mengatasi lawan.

Dengan itu, China mempengaruhi dan akhirnya mendominasi sebuah teritori, sepotong demi sepotong. Teritori yang dimaksud tidak hanya dalam bentuk kasat mata wilayah teritorial, tetapi juga dimaksudkan berbagai kekuatan poleksosbud lawan.

Dengan cara ini, kekuatan lawan dihilangkan “irisan demi irisan” dimulai dari bagian terlemah, bahkan dengan cara legal dan nampaknya tidak berbahaya, sampai pihak lawan menyadari bahwa kekuatan perlawanannya hilang secara keseluruhan.

11. Pada prakteknya di LCS dan LCT , Milisi nelayan melakukan operasi di daerah perbatasan , sedikit demi sedikit, bergeser makin jauh ke dalam wilayah ZEE negara lain bila tak ada tentangan berarti dari wilayah negara pantai yang ditargetkan.

Dari hanya satu dua yang terlihat , akan makin banyak berkerumun hingga puluhan kapal lambung biru, masuk makin jauh wilayah lawan, sambil mengklaim masih berada di wilayah ZEE China berdasar Jalur Sutra Kuno Nine Dash Line.

Milisi maritim tidak hanya bertugas memastikan perlindungan wilayah perikanan, mencari dan mengambil ikan, juga secara terkoordinasi meliputi upaya SAR, pengintaian/mata mata,dukungan logistik, penelitian hidrologi termasuk pemetaan geospasial potensi sumber ikan dan kekayaan dasar laut lainnya.

12. Setelah bisa memasuki dan mendominasi wilayah baru, maka langkah selanjutnya adalah menegaskan kedaulatan maritim China dengan melancarkan strategi kubis (cabbage strategy).

Mengutip pernyataan petinggi militer China Mayor Jenderal Zhang Zhaozhong yang mengatakan di televisi Tiongkok bahwa PKC akan mulai dengan mengirimkan kapal penangkap ikan, kemudian kapal pengintai maritim, kemudian kapal perang untuk merebut wilayah satu lapis pada satu waktu.”Pulau itu dibungkus lapis demi lapis seperti kubis … strategi kubis telah terbentuk,” kata Zhang, menambahkan, “Untuk banyak hal, kita harus mengambil waktu yang tepat untuk melakukannya.”

13. Bila muncul protes dari negara target, maka China lakukan strategi penipuan melalui tiga oprasi perang (Three Warfare) sebelum melakukan operasi perang militer yang semaksimal mungkin dibatasi untuk menghindari kecaman internasionl. yaitu perang hukum, perang psikologis dan perang media

14. Perang legal bekerja melalui manipulasi hukum nasional dan internasional untuk penggunaan strategis,

15. Perang psikologis bertujuan untuk mengubah cara seorang target memandang informasi, dan

16. Perang media bertujuan untuk mengendalikan dan memengaruhi pelepasan informasi kepada publik.

17. Di Laut Cina Selatan, PKC menggunakan perang hukum untuk mengajukan tuntutan hukum ke wilayah tersebut.

Akhirnya ketika kalah dalam pertempuran hukum, China akan abaikan keputusan yang merugikan itu.

18. Perang psikologis digunakan untuk membuat klaim publik “kepemilikan historis” dari wilayah tersebut. Perang psikologis yang lain adalah mengeksploitasi pemberitaan kekuatan Angkatan Laut China, untuk membuat takut negara target , disisi lain, membesarkan budi baik, kerjasama yang telah dilakukan China dengan negara target.

19. Perang media digunakan untuk menggalang media domestik dan mempengaruhi media asing untuk menyebarkan pokok pembicaraan yang menguntungkan dan membenarkan Pengendalian Ruang China .

20. Tiga perang ini merupakan proses perang dengan “dengan cara lain” yang gunakan penipuan sebagai cara untuk mengeksploitasi ,merasionalkan penguasaan lingkungan strategis dengan cara tidak rasional. Ini sama dengan slogan China untuk subversi yaitu untuk “mencekikmu dengan sistemmu sendiri.”

21. Konsepnya sederhana:

Jika suatu negara memberikan perlindungan kebebasan pers , misalnya, mereka akan merancang berita di dalam negeri Anda untuk menyerang Anda; jika Anda mengatakan Anda tidak percaya pada kebebasan pers, mereka akan mengirim agen untuk mengkritik Anda;

Jika Anda tidak menyerang kapal-kapal sipil, mereka akan menggunakan kapal penangkap ikan sipil untuk operasi militer, dan sebagainya.

Ada satuan intelejen di Cina yang mempelajari hukum dan sistem masing-masing negara sasaran, dan mengembangkan strategi untuk mengeksploitasinya.

22. Semua yang diungkap diatas sudah dilakukan China dalam berbagai kasus sengketa dengan negara tentangganya.

Sengketa yang didokumentasikan secara publik antara lain:

a..aneksasi Kepulauan Paracel Barat dari Vietnam th 1974,

b.penyerbuan laut territorial Kepulauan Senkaku th 1978 yang hasilkan konflik dengan Jepang

c.pendudukan dan pengembangan Karang Mischief yang menghasilkan insiden 1995 dengan Filiphina

d. pelecehan terhadap berbagai kapal pemerintah / survei Vietnam, termasuk Bin Minh dan Viking ;

e.pelecehan terhadap USNS Impeccable (2009) dan Howard O. Lorenzen (2014) ;

f. aneksasi Karang Scarborough 2012 dari Filipina dan blokade Thomas Secondale kedua (2014)

g.Pengusiran kapal kapal nelayan Vietnam pada tahun 214dari perairan yang disengketakan yang mengelilingi rig minyak HYSY-981 CNOOC;

h. Pengerumunan besar besaran kapal milisi maritime dan CCG di dekat Kepulauan Senkaku 2016;

i.mengunakan strategi kubis atas beting pasir Sandi Cay di dekat Pulau Thitu, tempat Cina telah mempertahankan keberadaan setidaknya dua kapal PAFMM sejak Agustus 2017.

j.Insiden Natuna Indonesia th 2013,2016 dan 2019

k. Pengerumunan (100 unit ) kapal nelayan China di perairan Malaysia yang dipersengketakan dengan China 2016 dan masih brlangsung hingga kini ,

23. Dari beberapa contoh di atas sebenarnya mengungkapkan bagaimana ambisi Pngndalian Ruang China menggunakan armada laut kedua dan ketiganya, dan di Paracel bahkan sudah membangun kekuatan angkatan perang penuh dengan membangun pulau pulau buatan untuk pangkalan militer baru. Apakah Indonesia akan diam saja ? Tentu tidak. Apa yang sebaiknya dilakukan Indonesia ?

24. Klaim atas Nine Dash Line adalah sesuatu yang tak masuk akal. Bila Nine Dash Line dianggap sebagai territory China, apakah dibenarkan pula Indonesia mengklaim wilayah laut yang dilewati atau pernah diduduki kerajaan kerajaan besar Indonesia di masa lalu seperti Sriwijaya, Singasari dan Majapahit wilayah di Kepulauan Sulu Filiphina, seluruh Selat Malaka dan wilayah laut seluruh Malaysia, dan Brunei bahkan ke wilayah yang berdekatan dengan daratan China ?

25. Upaya Indonesia dengan mengubah nama Laut seputaran Natuna menjadi Laut Natuna Utara dan Laut Natuna yang dilakukan 2015-2016 itu upaya cerdas dan perlu dikawal hingga selesai.

26. Mengubah pandangan negara bahwa angkatan laut kedua dan ketiga China adalah armada sipil

27. Mengingat kalah jauhnya armada angkatan laut Indonesia dibanding dengan China maka bila milisi maritime china masih bertahan, sebaiknya lakukan seperti Vietnam dan Jepang lakukan. Bukan lakukan seperti Filipina lakukan.

Apa yang Vietnam lakukan?

1. Lakukan perang sipil. Armada nelayan brhadapan dengan armada Nelayan, Polair berhadapan dengan CCG. Tabrakan kapal dengan kapal mereka hingga bocor.

2. Persenjatai nelayan. Atau ganti baju tentara menjadi baju sipil.

3. Amati dan dokumentasikan gambar, video setiap pergerakan kapal nelayan China untuk diungkap di media.

4. Permalukan China di dunia internasional dengan gambar, video yang diupload di media social dan media lainnya.

5. Lakukan demonstrasi damai Anti China Tiongkok yang libatkan semua komponen.

6. Ancam boikot produk China, yang direalisasikan bila China tidak mundur.

7. Ancam batalkan semua perjanjian dengan atau yang melibatkan China.

8. Usir diplomat China.

9. Galang dukungan regional dan internasional untuk mengecam China melalui media social, media lain.

10. Naikan Tagar #LautNatunaUtaraPunyaIndonesia atau sejenisnya.

11. Ajukan gugatan kepada Mahkamah Internasional dengan isu HAM.

12. Ajukan gugatan kepada Badan Arbitrase Interasional tentang 9 Dash Line.

Kesemua langkah ini bisa dilakukan berdasarkan eskalasi konflik yang terjadi. Untuk penjabaran hal diatas akan diungkap lain kali. Jalesveva Jayamahe.

(*)