Islam dan Adaptasi

Islam dan Adaptasi 

Oleh: Ahmad Sarwat, Lc, MA

Dalam beberapa hal, Sunnah Nabi itu bisa dimaknai sebagai inisiasi atau kepeloporan. Atau gampangnya sebut saja penemuan.

Jadi pengertiannya segala hal yang diinisiasi, dipelopori dan ditemukan pertama kali oleh Nabi SAW, dimana belum pernah ada orang yang melakukan hal itu sebelumnya.

Dalam hal hukum syariah yang ditetapkan Allah lewat wahyu samawi, semua detail hukum syariah Islam masuk hitungan ini.

Kalau pun para nabi terdahulu juga pernah diperintahkan untuk mengerjakaan hal yang sama, tetap saja tidak identik. 

Puasa Daud misalnya, meski berlaku pada kita, namun hukumnya tidak sama. Bagi Nabi Daud dan umatnya, puasamacam itu hukumnya fardhu, tapi bagi kita hukukmnya Sunnah. 

Sedangkan di luar urusan peribadatan, hampir seluruh yang dikerjakan Nabi SAW sifatnya tidak ada yang kepeloporan, inisiasi atau pun penemuan.

Naik kuda, memanah atau berenang, meski dikerjakan oleh Baginda Nabi SAW, namun sejak ribuan tahun sebelumnya manusia di dunia ini sudah melakukannya. 

Peranan Nabi SAW hanya mengenalkan kembali apa yang sudah dipakai generasi sebelumnya, bukan sebagai orang yang pertama kali jadi penemunya.

Berobat pakai madu, jintan hitam, kay, dan sekian banyak jenis pengobatan herbal lainnya, juga sudah digunakan umat manusia di berbagai belahan bumi jauh berabad-abad sebelumnya. 

Peranan Nabi SAW hanya mengenalkan kembali apa yang sudah dipakai generasi sebelumnya, bukan sebagai orang yang pertama kali jadi penemunya.

Namun dengan segala keterus-terangan ini bukan berarti kita jadi kurang hormat kepada Baginda Nabi SAW. Apalagi mendegradasi posisi kemuliaan Beliau SAW. Sama sekali tidak.

Justru kita malah menjaga kesucian Nabi SAW dari hal-hal yang hanya akan mengotori fakta hakikat diri Beliau. 

Tidak perlu kita membuat kamuflase-kamuflase yang penuh rekayasa atas sosoknya. Jangan dibiasakan kita bertindak kurang jujur dengan menambah-nambahi apa yang sebenarnya bukan jati diri Beliau. 

Jangan Sematkan Pada Nabi

Jangan katakan Beliau SAW ahli astronomi dan peta bintang. Sebab Beliau sendiri pun menyewa ahli penunjuk jalan yang bisa membaca peta bintang di malam hari untuk hijrah ke Madinah. 

Jangan katakan Beliau ahli strategi perang, sebab posisi pasukan yang Beliau SAW tetapkan di Perang Badar masih perlu dikoreksi ulang oleh para shahabat.

Jangan katakan Beliau ahli pertanian, sebab analisa Beliau tentang urusan penyerbukan bunga kurma rada meleset dan akibatnya hasil panen berkurang. 

Saat itu Beliau SAW sendiri secara profesional mengakui : antum a'lamu diumuri dunya-kum. Kalian lebih paham urusan dunia kalian.

Jangan katakan Beliau fisikawan, kimiawan, matematikawan dan lainnya. Sebab faktanya kita tidak menemukan penemuan ilmiyah di bidang-bidang itu dalam Sirah Nabawiyah. 

Nabi Sosok Yang Terbuka

Namun tidak mengapa kalau kita katakan bahwa sosok Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang terbuka dengan segala teknologi yang ada di masanya. Bahkan wawasan beliau lebih mendunia. 

Perang Ahzab tahun kelima itu sukses karena beliau mengadaptasi gaya pasukan Persia, yang menggali parit sebagai benteng. Teknik itu pertama kali digunakan di tanah Arab. 

Koin emas Dinar yang beredar di Syam dan Romawi tidak beliau tolak, bahkan jadi alat tukar yang sah dan diakui di Mekkah Madinah. Demikian juga dengan koin perak (Dirham) yang digunakan bangsa Persia, tetap Beliau SAW gunakan di negeri Arab. 

Beliau SAW tidak merasa harus bikin koin sendiri sebagai alat tukar. Dinar dan Dirham itu alat tukar milik orang kafir, bahkan gambarnya pun gambar raja-raja kafir. 

Dinar dan Dirham bukan mata uang ciptaan Rasulullah SAW, karena sejak ribuan tahun sebelumnya digunakan bangsa-bangsa di dunia.

Islam Adaptif

Dengan sebegitu terbukanya Nabi SAW terhadap perkembangan sains dan teknologi umat manusia di zamannya, maka begitulah yang juga diteruskan oleh para shahabat penerusnya. 

Mereka begitu adaptatif terhadap semua teknologi yang digunakan bangsa manapun, sehingga terserap ke dalam peradaban Islam lewat seleksi yang terstruktur.

Di bidang arsitektur, umat Islam di masa berikutnya banyak mengadaptasi gaya Eropa. Padahal Eropa saat itu identik dengan pusat Kristen. 

Sultan Muhammad Al-Fatih di tahun 1453 M menaklukkan ibukota Romawi Timur, Konstantinopel, umat Islam pun merengsek ke jantung Eropa. Dan terjadilah akulturasi yang indah. 

Sejak itulah masjid di seluruh dunia mengikuti gaya arsitektur Eropa Timur yang bercirikan kubah. 

Tapi coba perhatikan ciri arsitektur masjid Demak dan Kudus di masanya, nyaris tidak ada kubahnya. Bentuknya sangat berbeda, karena pengaruh arsitektur Turki belum sampai sini kala itu. 

Seni kaligrafi Arab juga ikut berkembang menyesuaikan diri dengan negeri yang dulunya masih belum terislamkan. 

Kita mengenal ada banyak gaya khat kaligrafi indah yang justru asalnya bukan dari Mekkah atau Madinah. 

Ada khat Naskhi, Farisi, Diwani, Riq'ah, Tsuluts, Kufi dan lainnya. Padahal itu bukan asli Mekkah Madinah. 

Seni baca Al-Quran atau yang dikenal dengan Ilmu Nagham dan Maqamat juga berkembang mengadaptasi langgam-langgam yang jauh diuar batas negeri Arab aslinya Mekkah dan Madinah. Ada Bayati, Nahawand, Jiharka, Rass,  dan seterusnya.

Peradaban Islam Menyerap

Kita tidak perlu malu untuk mengakui bahwa di masa keemasan umat Islam dulu, kita memang banyak menyerap ilmu tersebut dari ilmuan Barat. 

Ada begitu banyak manuskrip dari Eropa yang kita bawa pulang ke negeri Islam untuk dipelajari, diteliti bahkan tidak sedikit yang diadaptasi ke dalam bahasa Arab. 

Toh semua itu bukan hal yang najis. Sebab para cendekiawan muslim sudah punya bekal aqidah yang kuat, tidak mudah goyah begitu saja. 

Apalagi metode ilmiyah yang mereka pakai bisa memilah mana unsur yang baik dan bisa dikembangkan, dan mana unsur tidak baik lalu dibuang. 

Adaptasi di Indonesia

Tapi itu semua terjadi di tengah dunia Islam sana. Lalu bagaimana dengan kita bangsa Indonesia? Mampukah kita menyerap unsur asing tapi kemudian memilah dan mengolahnya menjadi sejalan dengan agama kita?

Untuk beberapa hal, menurut hemat saya mampu. Contoh sederhananya adalah dalam seni makanan dan bidang kuliner. 

Begitu banyak menu makanan kita sehari-hari yang kalau dilacak asal-muasalnya dari negeri non Islam, khususnya Negeri China. 

Mereka aslinya memasak dengan bahan-bahan yang tidak halal. Namun masuk ke negeri kita, semua diadaptasi ulang disesuaikan dengan ketentuan syariah kita.

Jadilah mie ayam, padahal aslinya mie babi. 

Jadilah bakso sapi padahal aslinya di Tiongkok sana bakso babi. 

Jadilah bakmi, bakpao, bakwan, bakpia, dan bak bak lainnya. Bahkan orang Sunda bisa merekayasa sesuatu yang di negeri asalnya tidak ada yaitu batagor alias bakso tahu goreng. 

Siomay pastinya asli China, tapi kita lebih akrab dengan istilah Siomay Bandung. 

Sebagian lagi ada yang masih lekat dengan nama kecina-cinaan, tapi sudah jadi muallaf semua. Ada Wonton, Fuyunghay, Kwe-ti-Yauw, Nih mi ap, Kaoya, Jiaozi, Nian Gao, dan nama-nama lainnya. 

Semua berhasil diadaptasi disini sehingga statusnya jadi halal. No pork, no lard, no angchiu, no yang haram-haram lah pokoknya. 

Tidak berhenti hanya sampai makanan, tapi dalam busana dan pakaian pun kita banyak melakukan adaptasi. 

Baju pak ustadz rata-rata baju orang China. Bahkan nama bajunya pun masih asli China yaitu baju Koko. Koko itu panggilan Kakak laki-laki. 

Dan yang paling khas adalah sarung. Banyak pengamat mengatakan bahwa sarung itu bukan pakaian asli Indonesia. Padahal sarung identik dengan pakaian khas para santri. 

Konon sarung dibawa oleh para pedagang dari Gujarat India sana di abad 14 Masehi ke Nusantara. Dan jadi pakaian masyarakat di pesisir pantai. 

Kalau kita ke Saudi atau Mesir, lalu lihat ada orang pakai sarung, pastilah dia orang Indonesia, Malaysia, Brunei. Sebagian orang Bangladesh dan Tailand ada juga yang sarungan. 

Yang jelas kalau orang Arab asli malah tidak ada yang sarungan. 

Ada sebagian teman cerita, entah benar entah becanda, katanya orang Mesir itu kalau lagi mau jima' dengan istrinya, mereka pada pakai sarung. 

Jadi kalau kita bertamu ke rumah orang Mesir di malam hari, kok tuan rumahnya sudah pakai sarung, segera pamit saja. Soalnya takut mengganggu urusan rumah tangga. 

Tinggal nanti orang Mesir bingung lihat orang Indonesia, shalat ke masjid lima waktu kok pada pakai sarung semua? Emangnya habis shalat pada mau ngapain? 

Lebih kaget lagi lihat anak-anak santri. Mereka mikir, kok kecil-kecil sudah pada pakai sarung ya? Emangnya . . . ah sudah lah.

Dasar orang Mesir, mikirnya pakai ukuran mereka saja.

(fb)