dr. Tifa Diprotes Gara-gara Koar-koar di Sosmed

"Dokter Tifa kenapa sih kalau bicara tidak di forum resmi saja, di forum tertutup saja, tidak melalui sosmed"

ini selentingan-selentingannya begini.

Lha.

Saya bicara selama ini, sudah di segala forum.

Forum yang terbuka lebar, forum terbuka sedeng, forum yang terbuka sedikit, sampai forum yang ditutupi korden, sampai forum yang tertutup rapat banget pake kunci dibuang pula. Saking rahasianya.

Wis kurang apa ta coba.

Mulai dari orang yang nempel-pel sama RI-1 himself. Menteri-Menteri. Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, RW, RT. 

Sampai orang yang tinggal di perbatasan Papua New Guinea sana. Ujung timur Indonesia. Sampai orang yang tinggal di Pulau Sabang, ujung barat Indonesia.

Bicara sama Rektor, Dekan, Guru Besar sampai Dokter unyu-unyu junior baru lulus.

Bicara sama Ulama, Habib, MUI, Pendeta, Pastur, Romo, Pendande, Rabbi. 

Teman-teman,

We cannot pleased everybody.

Kita tidak bisa selalu membuat semua orang senang.

Kadang saya bicara dengan santun halus dan lembut, Itu aslinya....cieeee..

Kalau bicara begitu di hadapan khalayak yang tidak pas, ya pada tidur ntar malah kan.

Kadang saya bicara  kencang, keras, jelas dan tegas. Itu rada asli juga, ingat pas jadi Komandan Peleton Inti jaman SMA....wueee.....

Itu juga dengan siapa khalayak yang diajak ngomong. Yang suka santun halus lembut, ya pasang headset saja biar ngga keberisikan. 

Kadang saya mengaum, menggelegar, pedas level 15 sampai 50. Cabe segenggam sampai sebaskom.

Itu kalau udah bicara dengan orang yang telinganya budeg, tapi punya kekuasaan. yang rakyat sudah menggelepar-gelepar seperti ikan diangkat dari kolam. 

Dianya masih cengengesan, malah ngecat rambut, eh ngecat pesawat dengan biaya Rp 2 Miliar.

Nah kepada dia itu, Doktif bakalan mengaum.

Auman itu isinya kritik, dan ingat setiap kali Doktif mengkritik, pasti kasih solusi, saran, dan alternatif.

Bukan asal mengkritik doang. 

No. Itu bukan Doktif. KW itu pasti. Doktif palsu. 

Buat yang telinganya tipis dan peka, pas Doktof mengaum, pake headset suara Doktif masih nembus juga, maka Doktif sarankan, tutupi bantal telinganya.

Atau menyingkir saja sana menjauh. Jangan keberisikan tapi malah ikutan nongkrong di sini. 

Jelas? Paham? 

Ini semua demi RAKYAT! Demi Umat Manusia!

Bukan demi satu dua orang. Bukan demi saya. Ngapain. 

Umat ini lagi sengsara. menderita. sebentar lagi, dikiiit lagi, bakalan banyak yang kelaparan. 

Harus ada yang bersuara, harus ada yang berani bicara, berteriak, dan mengaum. 

Pokoknya asal mengaum masih merdu ya, jangan suara cempreng, mengaum, belum sikat gigi pula.

Saya yang kabur ntar.

Sebentar mau ambil TOA. 

🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️

(dr. Tifauzia Tyassuma)