Kasih Grafik GDP, Tere Liye: Rezim Ini Memang Miskin Prestasi Sebelum Pandemi, Berhentilah Mengkambinghitamkan Pandemi

MISKIN PRESTASI

Saya itu paling malas bicara dgn orang2 yg tidak pakai data. Malasnya minta ampun. Termasuk saat dia pakai data, eh, dia cuma ambil sepotong2, semau dia saja, biar argumennya kuat.

Nih, saya kasih grafik pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak 2004 s/d 2020. Lihat sendiri. Data ini dari Bank Dunia, konfirm dengan data pemerintah juga. Ini bukan data reka2an saja. 

Kamu perhatikan.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia itu sejak 2014, stuck! Hanya di angka 4,8% hingga 5,2% per tahun. Segitu2 doang. 

2007, 2008, Indonesia pernah di atas 6%. Tahun 2009 saat krisis subprime mortgage melanda dunia, kita sempat jatuh ke 4%, setelah itu, naik kembali di atas 6%. Kemudian terus turun menuju rata-rata 5% saja.

2014. Saat pemilihan presiden baru, bukan main. Segala kecap dijual kemana-mana. Kecap ini nomor satu, kecap itu nomor satu. Tapi lihatlah, hingga 2019. Sebelum krisis pandemi, apakah pertumbuhan ekonomi lebih baik? Segitu-gitu doang. Bahkan cenderung turun sejak 2018 ke 2019. Nah, kacaunya, jika 2004 s/d 2014 pertumbuhan segitu2 doang, utang tidak menggila (silahkan cek juga data2nya, rasio, dll, cari sendiri). Sementara 2014-2019, sudah segitu2 doang, utang meroket naik. 

Rasio utang jelas ikut naik. Itu jelas sekali implikasinya. Pembayaran bunga dan pokok utang jatuh tempo semakin lama semakin berat. Pandemi datang. Yes. Itu jadi 'berkah'. Mereka mengkambing-hitamkan pandemi. Semua salah pandemi.

Tapi coba lihat dulu grafik ini baik-baik. Bahkan sebelum pandemi, tidak ada yg spesial dari 2014 menuju 2019. Utangnya spesial memang. 

Jadi, saya berharap, berhentilah menyalahkan pandemi. Terbuka sajalah dengan masyarakat luas. Kita itu memang segitu-gitu doang. Mentok. 

Apa penyebabnya? Gimana tidak mentok, korupsi masih menggila dimana-mana. Jangan harap pertumbuhan ekonomi meroket jika korupsi masih dimana-mana. Suap menyuap masih jadi hobi. Penegakan hukum jalan ditempat. Kita akan stuck jadi negera menengah ke bawah. Naik dikit, balik lagi ke bawah. Naik dikit, balik lagi. 

Baiklah, saya tutup tulisan ini dengan sebuah pertanyaan sederhana: Dimana Harun Masiku?

(By Tere Liye)

*sumber: fb penulis