Agustinus Edy Kristianto: Jika Corona adalah Manusia, Ia Akan Terbahak-bahak Melihat Indonesia, Betapa Lucu Cara Perangnya

Jika korona manusia, ia mungkin tengah terbahak-bahak melihat Indonesia. Betapa lucu cara perangnya. Betapa banyaknya waktu terbuang untuk hal yang tidak penting. 

Garda depan, menurut Perpres 108/2020, adalah Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN). Ketua Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Wakil Ketua merangkap Ketua Tim Pelaksana Menteri BUMN Erick Thohir

Tapi, ketika sistem kesehatan nasional nyaris ambruk dan kematian makin banyak, Ketua KPC-PEN malah memberikan penghargaan kepada Sinetron Ikatan Cinta sebagai paling banyak ditonton dan menghibur. 

Itu sinetron 'fenomenal'. Diproduksi MNC Pictures yang dikendalikan PT MNC Studio International Tbk (MSIN) milik pendiri Partai Perindo. Diulas dari sisi alat bukti sesuai Pasal 184 KUHAP oleh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi sekaligus Menkopolhukam pun Wakil Ketua II KPC-PEN Mahfud MD. Digoreng sahamnya oleh bandar setidaknya sejak 25 Juni 2021 sampai melambung 285%.

Ketika kematian nasional menyentuh tertinggi di dunia, Ketua KPC-PEN malah memikirkan crypto. Elon Musk saja belum tentu tega memikirkan crypto dalam kondisi horor seperti ini. Sang Ketua KPC-PEN juga ke Singapura, bertemu Presiden Estonia Kersti Kaljulaid, berbicara katanya tentang kerja sama digital dengan Estonia. Sementara Menlu Indonesia saja di dalam negeri.

Di sisi lain, Ketua Tim Pelaksana KPC-PEN (Menteri BUMN) sibuk betul urusan akhlak. Jika diteliti, sebetulnya kita kena prank. Akhlak yang dimaksud ternyata bukan dalam arti budi pekerti (KBBI) tapi akronim dari Amanah, Kompeten, Harmoni, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. 

Dari baunya tercium aroma proyek konsultan. Dan betul, Akhlak Award digagas oleh Ary Ginanjar Agustian, pemilik ESQ Group dan ACT Consulting, karibnya Ketua Tim Pelaksana KPC-PEN. Sudah 2 tahun kegiatan berjalan. Metode ESQ pernah dilarang oleh pejabat mufti Malaysia sekitar 11 tahun lalu karena dianggap menyimpang dari ajaran Islam. 

Akhlak Award itu sangat bias. Pemenangnya adalah BUMN-BUMN yang menjadi klien ACT Consulting sendiri. Ada 55 klien ACT Consulting, 90%-nya adalah BUMN dan anak perusahaannya.

Penerima terbanyak adalah grup Telkom: PT Telkom Indonesia, PT Telkomsel, Mitratel, Telin, Dapen Telkom, Telkom Akses, PT PINS Indonesia. Penghargaan khusus jatuh kepada Pupuk Indonesia Holding (kategori induk usaha) dan Telkomsel (kategori anak usaha).

Gampang saja bacanya. Mungkin Telkom klien terbesar ACT Consulting.

Heran juga saya. Kirain Telkom mau dibubarkan, kok malah dikasih penghargaan paling ber-Akhlak. 

Sebab, pada 12 Februari 2020, Menteri BUMN sendiri yang bilang, "Enak sih Telkom-Telkomsel dividen revenue digabung hampir 70%. Mendingan NGGAK ADA Telkom. Langsung aja Telkomsel ke BUMN, dividennya jelas."

Ternyata waktu menjawab juga. Setelah Telkomsel menyuntik Rp6,4 triliun ke Gojek (di mana kakak Menteri BUMN adalah Presiden Komisaris Gojek), mungkin niat itu batal. 

Pun, heran juga PT PINS Indonesia diganjar penghargaan Kolaboratif Terbaik BUMN. Padahal kasus korupsi penempatan investasi Rp1 triliun PINS di Tiphone (TELE) sedang diselidiki KPK. Oh, mungkin maksud kolaborasinya adalah berkolaborasi dengan oknum di KPK untuk mengerem kasus. 

Begitu juga Pupuk Indonesia yang dapat penghargaan khusus BUMN Role Model, Integrasi Roadmap, Holding-Anak Perusahaan. Padahal anak Pupuk Indonesia yakni Rekind sedang berkasus dengan Panca Amara Utama/PAU (di mana Boy Thohir sebagai Presiden Komisarisnya). Ekuitas Rekind negatif Rp1,9 triliun.

Saya dengar kabar juga sekarang ini Rekind butuh setidaknya Rp700 miliar buat cashflow (bayar gaji dan lanjutkan proyek). Oh, saya sadari. Mungkin, ber-Akhlak artinya role model holding-anak perusahaan yang paling 'baik' sama Menteri BUMN dan rombongan bisnisnya.

Menteri BUMN ternyata juga sibuk merombak jabatan di BUMN. Ternyata kemarin dia memasukkan sekretaris Menko Perekonomian sebagai komisaris PLN (Susiwijono Moegiarso) menggantikan komisaris lama yang juga deputi kemenko perekonomian Mohammad Rudy Salahuddin (dia juga ketua tim pelaksana Komite Cipta Kerja/Prakerja). Oh, ternyata harus ada ya kepanjangan tangan Ketua KPC-PEN Airlangga Hartarto di PLN.

Ada juga berita 'bagus' dari jalan-jalan pejabat ke luar negeri. Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengabarkan ia membawa oleh-oleh rencana investasi Rp5,23 triliun dari Cargill setelah ia ke Amerika Serikat. 

Tapi kita perlu skeptis kalau BKPM yang bicara. Masalahnya BPK dalam audit terbarunya menemukan manipulasi data investasi fiktif di BKPM senilai Rp15,2 triliun. Jangan-jangan oleh-olehnya dari AS ini fiktif juga?

Lagipula kalau hanya Rp5,2 triliun dan harus jauh-jauh ke AS selagi pandemi begini, pun dimaki-maki masyarakat, disenggol presiden karena tidak ada sense of crisis, lebih baik cabut kebijakan pembelian video di platform digital Prakerja senilai Rp5,6 triliun.

Sekarang masalahnya akhlak bangsa ini di mana jika dalam situasi sulit begini masih mengandalkan Ketua dan Ketua Pelaksana KPC-PEN yang 'budi pekerti' dan tindakannya semacam itu. 

Apa tidak terpikir untuk dicopot saja mereka berdua, Presiden Jokowi? 

Korona makin terbahak-bahak, lho. 

Salam Akhlak.

(Agustinus Edy Kristianto)