Edy Prabowo Yang Bermasalah, Kenapa Pak Prabowo Yang Salah?

Selamat Pagi orang-orang baik...

Samarinda Pagi ini hujan. Lumayan deras. Semoga bisa mencuci dosa-dosa kita. Agar Indonesia kembali suci. Bersih. Dan kedepan menjadi baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.

Jadi kemarin ramai tulisan sahabat saya yang menyerang Pak Prabowo lewat kasus Mas Edy Prabowo. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan. Karena konon, si mantan Mas Menteri, 'nakal' juga. Kirim-kirim uang kepada atlet muda-cantik dari Uzbekistan.

Saya baca dari media, si Gadis Uzbek bernama Munisa Rabbimova Azim adalah atlet Silat. Ikut pertandingan ke Indonesia. Mereka kenalan karena sebelum jadi Menteri, Mas Edy juga pengurus Pencak Silat Nasional. Kabarnya Dek Munisa terluka, pulang ke Negaranya, minta pertanggung jawaban biaya pengobatan.
Yang dilakukan Mas Edy walaupun bertujuan baik dan demi kemanusiaan dan rasa tanggung jawab ya tetap ngga benar. Coba kalau misalnya yang terluka itu atlet cowok, mungkin saja tetap dibantu, tapi seikhlasnya, ha..ha..ha...

Kalau ada yang bilang ada udang di balik bakwan, ya saya sepakat. Dek Munisa memang cantik menawan. Membuat laki-laki normal goyang iman. Sekali lagi, wajar saja kalau ulah 'nakal' Mas Edy disorot dan dihujat.

Cuma kalau sampai semua kesalahan Mas Edy dikaitkan dan ditimpakan ke Pak Prabowo, apa ngga berlebihan?

Apalagi bagi sebagian kawan-kawan masalah ini dijadikan amunisi untuk membalaskan dendam pada Pak Prabowo karena berpindah haluan merapat ke Istana. Memuaskan kebencian. Maaf, saya anggap sangat berlebihan.

Saya jadi teringat (Demi Allah, ini cerita benar) kisah saya sendiri.

Jadi beberapa bulan yang lalu, anak buah saya berlaku curang. Menjual barang perusahaan diam-diam. Unitnya digelapkan, uangnya dimakan. 

Namanya ulah busuk, lambat-laun akhirnya yang terbongkar juga. Konsumen komplain. Cek data Kantor namanya ngga ada. Tapi si Konsumen ngotot meminta pertanggung jawaban saya. Sebagai Pimpinan Perusahaan, saya diminta bertanggung jawab atas semua dosa dan kesalahan anak buah saya. 

Saya cuma jawab: "Perusahaan dan saya hanya bertanggung jawab atas semua pekerjaan dan tugas yang sesuai prosedur Kantor. Diluar itu tanggung jawab pribadi".

Ya, ngga mungkin dong. Ntar anak buah saya misalnya menghamili anak gadis orang. Terus saya disuruh tanggung jawab. Enak disaya dong? Ha..ha..ha...

Jadi maksudnya, saya sering bisa memahami yang dialami Pak Prabowo. Dikhianati anak buah sendiri. Dicurangi orang kepercayaan sendiri. 

Karena itu saya sering bisa membela beliau karena yang beliau alami sudah saya alami juga.

(By Azwar Siregar)