YU'MINUNA BIL GHAIB

YU'MINUNA BIL GHAIB

Kau mengangkat beras untuk anak yatim, kau antar ke pondok-pondok pengahafal Al Quran. Yang mana pondoknya jauh kedalam hutan, yang mana santrinya tak dipungut bayaran.

Bertahun-tahun kau lakukan, tak juga ada yang meliput dirimu, tak juga ada yang menyebut, sepi, senyap, tak juga bunyi nominal rupiah bergerak naik.

Lalu apakah kau memilih mundur? Bukankah Allah menjajikan balasan terbaik untuk HambaNya yang beramal sholih? Bukankah janji Allah itu nyata?

Janji Allah memang hal ghaib, bukan seperti isi amplop yang dzohir bisa diraba. Lalu mau beriman pada amplop atau surga Allah yang ghaib?

*

Kau putuskan hijrah, kau putuskan bergerak dengan dana halal, kau putuskan ubah gaya bisnismu.

Lalu setelah kau jalani, terasa pembiayaan proyek semakin berat, tak seperti dulu ketika banyak modal kerja berbunga tersedia.

Bukankah Allah janjikan Murogoman Katsiran wa sa'ah, bagi mereka yang hijrah. Tempat berlindung yang banyak, kehidupan yang luas. Pasti. Pasti. Allah tidak ingkar janji.

Namun memang janji Allah ini Ghaib, tak se dzohir business plan yang tegas jalannya, tak sejelas jalan beraspal yang jelas ujungnya, janji Allah dalam menolong HambaNya itu ghaib, disinilah Iman kepada ghaib bekerja.

Apakah masih ada iman di hati?

*

Terlalu lama sudah rumah tangga retak, belum lagi penyakit datang silih berganti, rasanya taubat sudah, minta maaf ke banyak orang sudah, bakti kepada orang tua sudah, beramal sholih ikut gerakan sosial juga sudah.

Namun kelam makin kelam. Seakan berjuta setan berbisik bahwa Allah telah pergi meninggalkan HambaNya yang banyak dosa, seakan muncul syahwa sangka buruk kepada Allah, bahwa Allah ternyata cuek, jahat, zalim pada hambaNya yang bertaubat.

Padahal kerja Allah itu ghaib, kerja hadirnya rezeki itu ghaib, mengapalah masih berfokus pada yang dzhohir-dzhohir saja. Bukankah pertolongan Allah itu adalah janjiNya. Tinggal sekarang apakah iman masih ada atau nggak?

*

Uang yang kepegang ya dzhohir, bisa diraba, kasat mata, tapi janji Allah atas surga, balasan Allah seperti keberkahan dan rahmahnya, harus dilihat dengan Iman. Tinggal sekarang imannya hidup atau nggak.

Outlet bisnis yang ada ya dzhohir. Aktiva yang bekerja ya dzohir. Pabrik, mesin, karyawan, asset, ya bisa kelihatan. Tapi bukankah jalan rezeki itu ghaib. Mengapa masalah hidup yang begitu besar ini tidak memberikan ruang pada IMAN UNTUK BEKERJA?

Mengapa tidak memakai iman sekali saja. Sekali saja gunakan iman, pada yang ghaib.

*

Setiap perbuatan baik tidak akan disia-siakan, pasti dibalas Allah. Cukuplah yakini itu. Imani. Ghaib memang. Pola Pertolongan Allah memang hanya bekerja pada yang beriman.

Laut terbelah hanya pada seorang Musa 'alaihissalam yang bulat yakinnya.

Dinginnya api hanya terjadi pada Ibrahim 'alaihissalam yang tegas imannya.

Maka itulah Iman kepada yang Ghaib,

Seperti sahabat yang beriman pada nubuwat Rasulullah shallallahu'alaihissalam, bahwa timur dan barat akan terbebaskan oleh Islam.

Seperti Al Fatih yang beriman pada janji Rasulullah Shallallahu'alaihiwassalam, latuftahannal qunstantiniyyah, bahwa konstantine akan terbebaskan, walau harus menjaga bara iman ini 800 tahun lebih.

Itulah Iman. Iman kepada yang Ghaib. Seorang muslim punya tuntunan pertama dalam hidup, beriman kepada yang ghaib.

*

Modal kita hari ini, jaringan kita hari ini, kapasitas kita hari ini, sumber daya kita hari ini, semuanya dzohir. Bisa dilihat, kasat, bisa dikuantifikasi.

Namun pertolongan Allah, kekuatan Allah, janji Allah, tentara Allah langit dan bumi, semuanya ghaib. 

Mau fokus kepada yang dzohir-dzhohir saja? Atau mau membuka ruang untuk iman kepada yang ghaib?

Semoga hadir keinsyafan hati di malam lailatul qadr ini, iman kita menyala kembali. Kita kembali beriman kepada yang Ghaib. 

Karena dalam ruang Ghaib inilah segala kemustahilan sirna menjadi kemungkinan.

(Ustadz Rendy Saputra)