PERSAINGAN POLITIK di MEJA IJAB QABUL

PERSAINGAN POLITIK di MEJA IJAB QABUL

Saya nggak tahu apa yang bikin chanel Youtube Atta Halilintar menjadi chanel dengan pengikut terbanyak se Asia Tenggara (26,9 juta subscriber). Saya coba beberapa kali nonton chanelnya, masih juga bingung, apa yang menarik? Biasa-biasa saja. Sama dengan pertanyaan, kenapa sih sinetron Ikatan Cinta jadi booming? Apa karena sinetron itu sebuah kesederhanaan yang diambil sudutnya dengan sudut pandang  dengan kamera yang pas. Jadi semua kaget dan menjadi booming? Eantahlah. Mungkin ini soal selera.

Saya malah menganggap chanel Fiki Naki lebih bagus (3,91 juta subscriber). Dia menjadikan Ome TV yang dianggap oleh banyak orang sebagai negatif, norak, kampungan, barbar menjadi positif. Walaupun dapat julukan Playboy Internasional, tapi kok saya ngelihatnya nggak begitu. 

Fiki Naki yang kebetulan sekampung halaman dengan Atta bukan cuma menguasai sejumlah bahasa asing—kalau itu mah banyak yang bisa –tapi bahasa asing yang digunakannnya dia bisa bikin jadi seperti bahasa ibunya. Itu kelebihannya. Komunikasinya dengan lawan bicaranya dari berbagai negara mengalir natural, sederhana tapi pas takarannya hingga menjadi booming. Padahal Fiki baru berumur 20an. Maka nggak heran kalau lawan bicaranya jadi betah ngobrol sama dia di Ome TV dan hebatnya, pembicaraan itu dijual di Youtube dan laku keras. Hanya dalam tempo sebulan dia jadi terkenal. Bahkan siapa saja lawan bicaranya, ikutan terkenal. Maka nggak heran Bosque mengontraknya dalam beberapa epoisode Bapau. Padahal Baim Wong jauh lebih ngetop dari Fiki.

Kembali ke Atta. Apapun ceritanya, Atta Halilintar adalah Youtuber yang kaya raya. Pajaknya saja sampai tembus 78 milyar perak. Nggak usah dibayangin berapa penghasilannya pertahun. Bagi Jokowi bukan hanya pajaknya itu yang bikin Negara untung. Jokowi sejak jadi Presiden gemar mengumpulkan aktivis medsos yang oleh Jokowi disebut sebagai influencer. Lawan politiknya menyebutnya BuzzeRp. 

Jokowi berani bayar mahal para influencer untuk menjajakan program pemerintah. Cuma yang tidak disadari oleh Jokowi, influencer itu sebutlah Youtuber misalnya, subcribernya lintas politik. Ada yang Cebong ada juga yang Kampret atau Kadrun. Selama sang Youtuber konsisten dengan gayanya, pengikut setia chanelnya masih ngasih jempol. Tapi kalau Yotuber ngiklanin program Jokowi, sebagian pengikut Youtuber itu ya memilih minggir, malah bisa-bisa Youtuber kena bully. Intinya gini. Duit Negara yang dikucurkan buat influencer hanya untuk menyenangkan pendukung Jokowi saja, nggak effektif malah mubazir.

Tapi Jokowi yang selalu terobsesi dengan revolusi industri 4.0 tetap yakin, aktivis medsos adalah kekuatan ketiga disamping TNI dan Polri untuk mengamankan masa jabatannya. Media mainstream sudah bukan lagi pilihan utama. Jokowi yakin, dia bisa 2 priode karena kedekatannya dengan aktivis medsos.

Prabowo beda lagi. Jarang Prabowo bersentuhan dengan aktivis medsos. Membicarakan secara khusus pun nggak. Kalau ada aktivis medsos yang mendukungnya itu karena kemauan aktivis medsos itu. Maka nggak heran ketika dia menyatakan diri masuk gerbong Jokowi, aktivis medsos yang dulu mendukungnya serempak membullynya. Pasukan medsos sukarela sebagain besar sudah meninggalkannya.

Mendapat undangan untuk jadi saksi nikah Atta Aurel yang disiarkan live oleh stasiun tivi ditonton jutaan pemirfsa tentu saja harus direspon. Youtuber terbesar se Asia Tenggara tentu saja bikin ngiler semua politisi untuk mendekatinya. Asumsinya gini. Jika misalnya saksi nikah yang berstatus pejabat  hanya Prabowo saja, tanpa Atta ngomong apa-apa soal Prabowo pun pasti bikin elektabilitas Prabowo melonjak. Sama dengan siapa saja yang akrab dengan Fiki Naki di Ome tivi pasti followernya meroket.

Tentu saja Jokowi nggak mau Prabowo meroket sendirian. Walaupun Prabowo adalah anak buah Jokowi, tapi menuju tahun 2024 lain lagi alur ceritanya. Bukan soal Jokowi diisukan akan 3 priode. Begini, Bro. Mempertahankan jabatan presiden lebih mudah daripada merasa aman setelah pensiun jadi presiden. Presiden Soeharto merasakan itu.

Kurang dahsyat apa tuntutan massa agar Soeharto diadili, tapi sampai akhir hayatnya Soeharto tidak pernah diadili. Karena orang-orang Soeharto yang pada masa reformasi masih jadi pejabat dan menjadi pimpinan Parpol besar masih tetap eksis untuk menjaga agar Soeharto tutup usia dalam keadaan terhormat. 

Maka nggak heran kalau Jokowi ngebet banget mindahin Ibukota. Itu satu-satunya yang bikin namanya dikenang. Semula dia disebut sebagai bapak Infrastruktur, tapi belakangan banyak yang mempertanyakan fungsi infrastruktur yang dibikin Jokowi. Bukan karena mangkrak pengerjaannya, tapi ada beberapa yang mangkrak fungsinya. Terakhir, bandara yang berubah fungsi menjadi bengkel pesawat. Sedangkan nasib politik anak dan menantunya di masa depan belum tentu melesat saat nanti Jokowi lengser. Maka kroninya harus tetap bertahan di puncak kekuasaan.

Jadi, meja ijab qabul Atta Aurel berubah jadi meja persaingan politik dalam senyap. Untuk mengujinya gampang saja. Coba pajang foto Jokowi dan Prabowo saat jadi saksi akad nikah. Tutup salah satu. Tutup foto Jokowi dengan tangan atau dengan apalah. Apa kesan yang muncul melihat foto itu? Dan sebaliknya. Tutup foto Prabowo. Apa kesan yang muncul?

Pengamat politik semacam M Qodari bisa juga eror. Dia bilang, kehadiran Prabowo dan Jokowi sebagai sinyal Jokowi dan Prabowo sebagai Capres dan Cawapres 2024. Mana mau Prabowo jadi cawapres? Dia pernah jadi cawapres gagal, dua kali jadi capres gagal. Masa dia mau senasib dengan wapres KH Maruf Amin yang jadi pejabat antara ada dan tiada. Masih mending jadi Menhan, masih ada fungsinya, sekurangnya dipercaya nanem singkong hektaran.

Lawan politik Prabowo juga nggak rela memberi jalan begitu saja kepada Prabowo menuju RI1 tanpa keuntungan politik yang memadai. Makanya Setneg semangat sekali memberitakan kehadiran Presiden Jokowi di meja ijab qabul Atta Aurel. Hingga meja ijab qabul itu jadi netral, tidak jadi promosi politik gratis bagi Prabowo. Begicuuuuuu….

(By Balyanur)