Cak Nun: Islam enggak maju karena ulamanya pada ngemis untuk dihormati!

[PORTAL-ISLAM.ID]  Baru-baru ini, ceramah lawas Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun mengenai bulan suci Ramadhan kembali viral di media sosial. Bukan hanya bicara mengenai puasa, Cak Nun juga menyinggung sejumlah ulama yang hobi ‘mengemis’ di Indonesia.

Disitat dari video berjudul ‘Puasa Bukan untuk Dihormati Orang Lain’ dari saluran Youtube Rifqi Firdaus, pertama-tama Cak Nun menyinggung umat Islam yang kerap minta dihormati saat berpuasa. Padahal, menurutnya, puasa bertujuan untuk belajar menghormati orang lain.

“Pas bulan puasa, kita berpuasa untuk menghormati orang lain, bukan untuk dihormati orang lain. Bulan puasa kok (bilang) hormatilah orang yang berpuasa. Fungsinya berpuasa itu biar kamu belajar menghormati orang, bukan malah minta dihormati!” ujar Cak Nun dengan suara tinggi, dikutip Rabu 14 April 2021.

Selama bulan Ramadhan, ada kejadian di mana sekelompok umat Islam meminta warung-warung makan ditutup sampai maghrib. Sebab, jika dibuka, ditakutkan puasa mereka terganggu. Bukan hanya itu, ada juga oknum muslim yang meminta orang tak berpuasa agar tidak makan atau minum di hadapannya.

Kasus-kasus tersebut yang kemudian membuat Cak Nun kesal dan berusaha meluruskannya.

“Hanya orang tidak terhormat yang minta dihormati orang lain, begitu lho,” tegasnya.

Cak Nun sindir ulama yang hobi ngemis di Indonesia

Lebih jauh, Cak Nun secara tak langsung mengatakan, budaya ‘minta dihormati’ sudah tumbuh di Indonesia sejak lama. Bahkan, dia sampai mengaitkannya dengan konteks keagamaan.

Cak Nun beranggapan, Islam di Indonesia tak maju-maju lantaran ulama atau tokoh agamanya hobi mengemis ke pemerintah. Padahal, menurutnya, perbuatan tersebut sama sekali tak pantas.

“Itu yang menyebabkan Islam enggak maju-maju, soalnya ulamanya pada suka ngemis! Ngemis ke bupati, ngemis ke gubernur, iya enggak? Jangan gunakan tenagamu untuk menunggu dihormati orang! Karena hidupmu habis untuk menghormati orang.”

Berkaca dari keterangan tersebut, Cak Nun berkesimpulan, alih-alih mengharapkan sesuatu dari orang lain, mengapa bukan kita sendiri yang melakukannya? Bahkan, dia membuat perandaian, jika tak bisa memberi materi, maka berikan hal lain seperti misalnya perhatian.

“Jangan menunggu dikasih, kamu sibuk saja mengasih. Kalau enggak bisa ngasih uang, kasih perhatian. Kalau masih enggak punya, kasih cinta!” kata dia.[hops]