REMUK REDAM PENANGANAN CORONA

REMUK REDAM PENANGANAN CORONA

BERBAGAI indikator pandemi Covid-19 memburuk dalam dua pekan terakhir. Misalnya, rasio positif di Indonesia yang mencapai 16 persen. Angka ini tiga kali lipat dari batas aman versi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang mematok angka 5 persen. Jumlah pasien yang meninggal juga berada di atas angka rata-rata global.

Sejumlah indikator pandemi Covid-19 melonjak dalam beberapa pekan terakhir. Salah satu parameter yang paling mencolok adalah kenaikan jumlah kasus terkonfirmasi positif yang menembus angka 1 juta. Anggota Divisi Laporan Warga LaporCovid-19, Yemiko Happy, mengatakan kegawatdaruratan wabah bisa dilihat dari habisnya ruang perawatan di Jakarta dan sekitarnya, Surabaya, serta Bandung.

LaporCovid-19, koalisi lintas profesi, memantau tingkat keterpakaian ruang perawatan alias bed occupancy rate (BOR) pada temuan di lapangan. “Kami punya seratus lebih kontak rumah sakit. Setiap mengontak rumah sakit, jawaban yang kami terima adalah tidak ada ruang (untuk pasien Covid-19),” kata dia kepada Tempo, kemarin.

Menurut Yemiko, kabar pasien meninggal di puskesmas atau non-rumah sakit rujukan menunjukkan rumah sakit sudah kolaps. Kondisi itu ditengarai akan semakin parah jika tidak segera direspons pemerintah.

Dia mengatakan situasi ini akan menimbulkan efek domino. Jika kematian dan jumlah kasus tidak ditekan, dampaknya akan mempengaruhi sektor lain, seperti ekonomi, politik, dan sosial, yang merupakan penyangga stabilitas nasional. Pemerintah, kata dia, harus mengetatkan pembatasan dan meningkatkan kapasitas testing, tracing, dan treatment.

Lemahnya akurasi data Kementerian Kesehatan memperburuk situasi. Yemiko menilai begitu banyak data yang tidak sinkron antara pusat dan daerah. “Kami melihat tes PCR (polymerase chain reaction) per kabupaten, tidak semuanya dibuka transparan. Hal itu menunjukkan belum ada perbaikan. Persoalan akurasi data saja banyak kelemahan, bagaimana membuat persepsi agar warga waspada?” ujarnya.

Senada, Chief Strategist Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Yurdhina Meilissa, mengatakan, pada awal tahun ini, penularan di tingkat komunitas memburuk. Rasio positif, kata dia, juga melonjak tajam. Puncaknya pada 24 Januari lalu, rasio positif mencapai 33,24 persen. Artinya, dari setiap seratus orang yang diperiksa, ada 33 yang positif tertular virus corona.

Menurut dia, kondisi ini mengindikasikan penyebaran wabah tidak terkendali dan tak terdeteksi. “Kami merekomendasikan untuk memperkuat penemuan dan pelacakan kasus, menambah ketersediaan tenaga kesehatan, dan meningkatkan kapasitas layanan kesehatan,” kata Yurdhina, kemarin.

CISDI juga merekomendasikan Kementerian Kesehatan untuk memperkuat sistem data dan informasi. Selain itu, organisasi ini meminta pemerintah mengendalikan mobilitas penduduk dan menjamin akuntabilitas publik.

Kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia menembus angka 1 juta pada Selasa lalu. Indonesia menempati urutan ke-19 negara dengan jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 terbanyak di dunia dan menempati urutan keempat di Asia.

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, kemarin, rasio positif nasional mencapai 17,13 persen, jauh di luar batas aman versi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 5 persen.

Sejumlah rumah sakit rujukan pun mulai kehabisan ruang perawatan. Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 pada 25 Januari lalu, tingkat keterisian RS di Jakarta mencapai 84 persen, Banten 77 persen, Yogyakarta 76 persen, Jawa Barat 72 persen, dan Bali 70 persen.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Abdul Kadir, mengatakan, secara nasional, masih terdapat jarak antara ketersediaan kapasitas bangsal perawatan dan jumlah pasien yang membutuhkan. Namun ia tak memungkiri kondisi keterisian rumah sakit di sejumlah daerah, seperti di Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Barat, berada di angka 70-80 persen. “Menkes mengeluarkan edaran untuk mengantisipasi hal itu. Rumah sakit di zona merah diminta mengalihkan tempat tidurnya 40 persen untuk isolasi dan 25 persen untuk ICU,” kata dia, kemarin.

Kementerian Kesehatan juga meluncurkan aplikasi Sistem Informasi Rawat Inap, disingkat Siranap, sebagai patokan masyarakat mendapatkan ruang perawatan. Namun, berdasarkan penelusuran Tempo, masih ada data yang kurang akurat.

Sebagai contoh, kemarin sore aplikasi itu menyatakan terdapat dua tempat tidur lowong di unit perawatan intensif Rumah Sakit Umum Daerah Wongsonegoro, Semarang. Kenyataannya, pada saat yang sama, semua kamar di sana penuh. Bahkan ada sebelas pasien yang antre.

Direktur Utama RSUD Wongsonegoro, Susi Herawati, menyatakan sedang menyelidiki penyebab perbedaan data itu. Menurut dia, ada keterlambatan data yang dikantongi rumah sakit dengan aplikasi. “Mungkin delayed,” ujar dia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, dalam penanganan pandemi, hal yang harus dibenahi adalah sistem kesehatan publik, pembenahan diagnosis, perawatan pasien, dan vaksinasi. “Ubah perilaku masyarakat. Sebelum dan setelah pandemi pasti beda. Itu harus disosialisasi,” kata dia, kemarin.

Budi menyatakan butuh bantuan masyarakat, terutama mengenai perubahan budaya pasca-pandemi. Protokol kesehatan, kata dia, harus dijalankan setiap orang sebagai gerakan bersama. Urusan diagnosis, ujar dia, pemeriksaan dan penelusuran harus bisa mengidentifikasi siapa yang terinfeksi, sehingga yang bersangkutan dapat diisolasi untuk melandaikan kurva penularan.

Ketika ditemui di Istana Negara, dia mengajak masyarakat ikut bersama-sama mengatasi pandemi ini. Hingga kemarin, ia menyebutkan sudah lebih dari 600 tenaga kesehatan meninggal saat bertugas menghadapi virus itu. “Saya mengajak masyarakat tak menyia-nyiakan pengorbanan mereka,” kata Budi Gunadi.

👉SELENGKAPNYA di Koran TEMPO, Kamis, 28 Januari 2021.