Syukur Alhamdulillah, Berubah Jadi Innalillah

Syukur Alhamdulillah, Berubah Jadi Innalillah

Presiden Jokowi Senin (25/1/2021) menyampaikan perasaan syukurnya. Pemerintah bisa mengendalikan pandemi dan ekonomi.

"Kita bersyukur Indonesia termasuk negara yang bisa mengendalikan dua krisis tersebut dengan baik," kata Jokowi dalam acara Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Persekutuan Gereja-gereja (PGI) di Indonesia.

Pernyataan itu sesungguhnya agak janggal, sekaligus mengejutkan.

Pada saat Presiden menyampaikan pidato, angka positif Covid-19 999.256. Beberapa ratus kasus lagi,  bakal menyentuh angka 1 juta. Sembuh 809.488, dan meninggal  dunia 28.132 jiwa.

Sebuah media media mencatat, dalam 1 bulan terakhir Presiden bahkan menyampaikan rasa syukurnya itu sebanyak tiga kali.

Artinya pernyataan itu tidak salah. Presiden sangat puas dengan kinerja pemerintahannya mengendalikan krisis. 

Tiba-tiba selang sehari kemudian, Selasa (26/1/2021) Presiden menyampaikan duka citanya karena positif Covid-19 melampaui angka 1 juta. 

Positif Covid-19  1.012.350 kasus. Dari jumlah itu, sebanyak 820.356 orang dinyatakan telah pulih, 163.526 orang menjalani perawatan di RS atau isolasi mandiri. Sementara 28.468 orang lainnya meninggal dunia.

Sebagaimana diungkapkan oleh Menkes Budi Gunadi Sadikin, Presiden Jokowi mengundang sejumlah menteri untuk Rapat Terbatas.

Kepada media, Menkes Budi Gunadi mengaku mendapat titipan pesan dari Presiden Jokowi.

Budi mengatakan pemerintah sangat berduka karena banyak masyarakat yang meninggal akibat Covid-19. 

Selain itu, sambungnya, ada lebih dari 600 tenaga kesehatan yang sudah gugur dalam menghadapi pandemic Covid-19.

“Mungkin sebagian dari keluarga dekat dan teman dekat kita juga sudah meninggalkan kita. Itu momen pertama yang harus kita lalui, bahwa ada rasa duka yang mendalam dari pemerintah dari seluruh rakyat Indonesia atas angka ini,” ujar Menkes.

Bila kita cermati dari redaksinya, Presiden sesungguhnya tidak secara langsung menyatakan duka citanya.

Menkes menggunakan kosa kata “pemerintah,” juga seluruh “rakyat Indonesia.”

Hanya saja media kemudian menggunakan judul “Presiden Jokowi berduka cita, kasus Covid-19 Tembus 1 juta.”

Dua pernyataan berbeda itu menunjukkan situasi paradok dalam pemerintahan, khususnya Presiden Jokowi.

Bagaimana mungkin hanya dalam waktu 24 muncul dua pernyataan yang sangat jauh berbeda.

Sebuah media menggambarkan situasi ini dengan sindirin kocak, sekaligus memprihatinkan. 

Harian Rakyat Merdeka membuat headline dengan judul “Syukur Alhamdulillah, Berubah Menjadi Innalillah.”

Ucapan syukur Presiden ketika angka Covid-19 hampir menyentuh 1 juta, sesungguhnya membuat banyak kening berkerenyit.

Angka tersebut, tidak layak disyukuri.

Apalagi berdasarkan perhitungan para ahli pandemi, angka sesungguhnya bisa berkali lipat.

Ada yang menyebutnya tiga kali lipat. 10 kali lipat. Bahkan sampai 27-28 kali lipat. Intinya jauh lebih besar dibandingkan data yang setiap hari dipublis pemerintah.

Soal kacaunya data milik pemerintah itu sudah diakui oleh Menkes Budi Sadikin.

Dia mengakui strategi testing pemerintah salah. Dampaknya bisa dipastikan, tracing (penelusuran) dan treatmentnya juga salah. Kacau balau lah semuanya.

Bahkan untuk pelaksanaan vaksin, Menkes sampai mengaku kapok menggunakan data Depkes.

Mengapa bisa begitu?

Mengapa Presiden Jokowi mengeluarkan berbagai pernyataan yang  ajaib untuk masalah seserius Covid-19.

Pernyataan yang membuatnya, jadi bulan-bulanan media dan media sosial?

Mereka kemudian membanding-bandingkan pernyataan Jokowi dengan berbagai kepala negara lain.

Akun Instagram Pandemitalks membuat perbadingan pernyataan Presiden Filipina Duterte dengan Jokowi.

Dengan populasi 110 juta jiwa, Presiden Filipina langsung mengakui kesalahannya. Padahal saat itu angka positif Covid “baru” tembus 100 ribu.

“Kami gagal total. Tidak ada yang mengantisipasi ini,” tegasnya.

Di Indonesia, dengan populasi 270 juta, dan angka Covid nyaris tembus 1 juta, Presiden Jokowi menyatakan “bersyukur.”

Situs Pandemitalks biasanya hanya memaparkan data-data saja, tak mampu menahan diri untuk tidak bersikap nyinyir.

Ketika akhirnya angka positif  Covid tembus  1 juta, Presiden menyatakan duka cita secara tidak langsung.
Sehari kemudian Rabu (27/1/2021) PM Inggris Boris Jhonson mendapat pemberitaan besar-besaran di media. 

Angka kematian di Inggris tembus 100 ribu. Jhonson secara gentlemen menyampaikan permintaan maaf. Dia bertanggung jawab atas semuanya.

"Saya sangat menyesal untuk setiap nyawa yang hilang. Tentu saja sebagai perdana menteri ini menjadi tanggung jawab penuh saya terhadap apa-apa saja yang pemerintah telah lakukan," kata Boris dalam konferensi pers dan dikutip dari BBC.

Silakan bandingkan. 

Pada hari yang sama angka kematian di Indonesia yang dilaporkan sebanyak 28.855 orang. 

Mengingat kacaunya data yang dimiliki pemerintah, kemungkinan angkanya jauh lebih besar. Tidak menutup kemungkinan sudah mendekati, atau bahkan lebih dari 100 ribu.

Apa sesungguhnya yang sedang terjadi Pak Jokowi? end.

(Oleh: Hersubeno Arief)