Anjing Menggonggong, Erdogan Berlalu


Anjing Menggonggong, Erdogan Berlalu

Oleh: Dr. Nandang Burhanudin

Abdulkhaleq Abdulla penasihat kerajaan UAE, tanggal 10 Juli 2020 menanggapi: "Sekelompok orang ekstrimis dan yang terkena sihir gila keagungan Erdogan saja yang turut bangga, bahagia, dan mengelukan pemindahan fungsi Aya Shopia menjadi masjid."

Orang yang sama, pada tanggal 21-4-2019 mengelukan peletakan batu pertama Kuil Hindu terbesar di Timur Tengah dengan luas 55.000 meter persegi di jalan utama Abu Dhabi Dubai.

Rerata, tanggapan tokoh-tokoh buzzer Ben Zaid, Ben Salman, AsSisi menyoroti intoleransi Presiden Erdogan dan partai penguasa Turki, AKP terhadap kaum minoritas. Seakan mereka paling toleran, paling demokratis, dan paling menjaga HAM.

Hamza Tekin, wartawan Turki yang dekat dengan Presiden Erdogan menyampaikan bahwa era AKP dan Presiden Erdogan adalah masa kekuasaan yang paling toleran, termasuk kepada pemeluk Kristen di Turki.

Sebagai contoh, gereja pertama kali yang dibangun di era Republik adalah gereja yang dibangun oleh pemerintahan Erdogan. Tidak terhitung gereja yang direnovasi. Sebab dirinya meyakini, tugas penguasa adalah melayani seluruh segmen masyarakat tanpa terkecuali.

Ada yang menuduh, mengubah Aya Shopia sebagai bagian dari upaya Erdogan untuk mendapatkan dukungan kaum "Radikal", menutupi krisis ekonomi Turki. Sebuah asumsi ngawur yang hanya dilandasi hasad atas kemajuan Turki.

Pertama, siapakah kaum radikal yang dimaksud? Jika kaum radikal adalah mereka yang menyuarakan kemerdekaan bangsa Palestina, bukankah kemerdekaan hak segala bangsa yang diakui PBB?

Kedua, krisis ekonomi. Apa yang menjadi standar krisis? Apakah mata uang lira? Tentu jika sedikit saja memahami kondisi Turki di era pra dan pasca Erdogan, kita akan paham di masa Erdogan ekonomi Turki mengalami surplus. Jika krisis, tidak mungkin mampu memelihara 4 juta pengungsi, mustahil melakukan operasi militer, dan tidak mungkin mampu melunasi hutang ke IMF.

Suara-suara anti Turki, lebih didasari kekhawatiran penjajah Barat, AS, Rusia, dan Israel atas kehadiran negeri Muslim di pentas geopolitik kawasan dan internasional. Itu saja.[]