Kita Belajar Dari Kejadian Asmadi dan Habib Umar


Kita Belajar Dari Kejadian Asmadi dan Habib Umar

Dalam penegakan peraturan, ada yang disebut diskresi. Saya mengetahui diskresi ini ketika saya pernah berdebat seru dengan Kapolsek Singosari 20 tahun yang lalu. Saya meminta beliau untuk menegakkan satu peraturan.

Menurut beliau, tidak semua peraturan harus dijalankan semestinya. Tapi ada hal-hal tertentu, yang menyebabkan suatu peraturan bisa diabaikan.

Semisal lampu lalu-lintas yang sedang merah, tapi dalam kondisi tertentu Polisi justru menyuruh pengendara untuk jalan terus. Atau sebaliknya, saat hijau, malah Polisi memerintahkan para pengendara untuk berhenti. “Itu adalah diskresi,” jawab beliau.

Terkait peraturan PSBB yang tidak memperbolehkan satu mobil pribadi ditumpangi lebih dari 50% kapasitasnya, jelas peraturan ini bermasalah. Koplak, tidak masuk akal dan bahkan cenderung bodoh.
Sementara angkutan umum diperbolehkan berdesakan. Bandara diperkenankan berhimpitan. Serta masih banyak lagi hal yang kontradiksi.

Tapi baiklah, itu adalah peraturan yang sudah terlanjur dibuat. Apapun itu tetap harus dilaksanakan. Tapi dalam hal tertentu, tidak bisakah Polisi atau Satpol PP memberikan diskresi. Semisal pada satu rombongan keluarga, yang memang mereka harus pergi bareng semobil.

Apalagi para kiai, habaib yang memang tidak mungkin mereka dipisah dari istrinya. Terlebih kalau istrinya harus dibawa atau diantar laki-laki yang bukan mahram.

Meminjam istilah Bu Sirikit Syah, petugas di lapangan itu harus punya wisdom.

Satu hal yang pasti, menegakkan aturan tidak boleh dengan melanggar aturan. Apalagi bertindak kriminal. Itulah yang kita saksikan pada cekcok yang melibatkan Habib Umar dengan Satpol PP.
Makanya, saya pribadi tidak dalam rangka membela salah satu pihak. Tapi keberpihakan saya adalah pada nalar. Otak kita jangan sampai diinjak, demi sekedar konon untuk menegakkan peraturan. Atau ada celotehan yang menyebut, “Jangan membela orang yang melanggar peraturan PSBB. Siapapun dia!”

Perhatikanlah akibat dari nalar yang disingkirkan, hanya demi membela aturan yang koplak itu, nyaris saja merembet panjang pada masalah yang tidak berkesudahan. Karena ada banyak orang yang tidak terima terhadap pemukulan dan tendangan yang dialami Habib Umar.

Untung saja, Asmadi segera mendapatkan kesadaran atas kesalahannya. Habib Umar pun mempunyai kelapangan untuk memaafkan. Sehingga karena kerelaan masing-masing pihak, masalah bisa diselesaikan. Suasana kembali kondusif.

Habib Umar bukan sekedar memaafkan. Tapi memperlakukan seorang Asmadi demikian mulia. Bahkan beliau berkenan memberikan hadiah umroh dan sejumlah aksesoris kepada Asmadi.

Pada kesempatan tersebut, Habib Umar juga meminta maaf kepada Asmadi dan Polisi. Karena bagaimana pun sebenarnya beliau pun merasa bersalah, karena tidak mengindahkan aturan PSBB. Terlepas memang aturannya bermasalah.

Damai berhasil disepakati tidak lepas dari andil banyak tokoh. Bu Risma walikota Surabaya, Kapolda Jawa Timur Irjen M Fadil Imran dan Kapolres Pasuruan AKBP Rifiq Ripto Himawan. Nama terakhir adalah orang yang paling bertungkus lumus melakukan mediasi antara kedua belah pihak. Beliau melakukan sowan pendahuluan kepada Habib Umar dan sejumlah habaib lain di Bangil dan Pasuruan.

Pun, para habaib yang telah terlibat memediasi perseteruan tersebut. Ada banyak yang terlibat, di antaranya Habib Nizar Bin Syekh Abu Bakar dan Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf.

“Iya, Brar. Cek ndang mari,” kata Habib Nizar ketika kemarin saya kontak, “Gawe opo rame-rame. Iki kate riyoyo.”

Sementara Habib Abu Bakar berujar, “Apapun itu, ini harus segera didamaikan. Sebab terlalu banyak madharratnya kalau ini berlarut-larut. Apalagi kita masih di bulan Ramadhan. Sebentar lagi lebaran.”

Ala kulli hal, kita semua mendapatkan pelajaran dari kejadian tersebut. Pelajaran berharga bagi para petugas di lapangan yang telah menjadi korban dari peraturan yang bermasalah tersebut. Pun bagi masyarakat, sebisa mungkin mari kita taati peraturan PSBB ini. Karena sekoplak apapun, peraturan tersebut telah sah untuk dilaksanakan.

(By Abrar Rifai)

loading...