Fahri Hamzah: Sikap ekstrem negara lebih berbahaya dari sikap ekstrem rakyat biasa


Baru membaca pidato guru besar Prof @HaedarNs (Ketua Umum Muhammadiyah) tentang Moderasi Indonesia. Suatu tawaran yang adil bagi negara agar jangan salah dalam melawan fenomena radikal dan ekstremis dengan radikalisme yang sama.. Radikalisme itu terjadi pada agama tapi juga pada negara.

Saya teringat Pidato Bung Karno di Kongres Amerika Serikat 17 Mei 1956. Di sana beliau memperkenalkan Pancasila sebagai “the five guiding principles”. Anggota Kongres AS berdiri memberikan “standing applause” pada setiap Sila diterjemahkan oleh presiden kita itu.

Sila I diterjemahkan oleh Beliau dgn “believe in god”. Tepuk tangan bergemuruh. Lalu humanism, nationalisms, democracy & social justice. Semua mendapat standing applause. Dunia barat menyambut kehadiran Indonesia sebagai bagian dari kemenangan demokrasi melawan komunisme.

Bayangkan saja jika hanya 11 tahun setelah kita merdeka, sambutan dunia kepada Pancasila sebagai norma dasar (karena ada yg menolak menyebutnya ideologi) sudah begitu kuat. Anggota kongres Amerika yang menyambut hangat ini dapat melambangkan kekuatan Pancasila sebagai kesepakatan.

Kekuatan Pancasila pada waktu itu pada bangsa ini adalah kepercayaan diri para pemimpinnya bahwa bangsa ini telah menemukan alasannya untuk bersatu. Itu memancar kepada seantero dunia yang mendatangkan optimisme bahwa sebuah bangsa baru yg kuat bersatu telah lahir.

Tapi mengapa setelah 63 tahun pidato Bung Karno di kongres Amerika itu dan setelah 74 tahun kita merdeka justru Pancasila dijadikan alasan untuk meragukan kekuatan bangsa kita? Sehingga negara bertindak tidak percaya diri? Dan mencemaskan ancaman ideologi dunia maya?

Saya membayangkan, seharusnya setelah 63 tahun pidato presiden Sukarno di Capitol Hill, INDONESIA telah membuktikan kepada dunia bahwa alat pemersatu bernama Pancasila itu telah menjadi sebab kekuatan bangsa dan kita berdiri tegak dan percaya diri kepada dunia. Gagah!

Saya menyambut pidato Professor @HaedarNs sebagai ajakan kepada bangsa ini untuk bertindak moderat. Strategi Moderasi Indonesia yang beliau tawarkan adalah jalan bagi persatuan sejati. Dalam hal ini, sikap ekstrem negara lebih berbahaya dari sikap ekstrim rakyat biasa.

Karena sejak awal, Pancasila adalah titik temu antara negara dan agama bagi rakyatnya. Itulah yang menjadi sumber Moderasi Indonesia sampai kapanpun. Kompromi ini sempurna dan telah diterima dan telah diterima oleh seluruh komponen bangsa. Ayo semua menuju Moderasi Indonesia!

(Twitter @Fahrihamzah 12/12/2019)