Gelora Tidak Sekedar Euforia


Gelora Tidak Sekedar Euforia

(1) Hiruk pikuk soft launching Partai Gelora Indonesia, sudah seharusnya tidak melenakan. Puja puji dan sanjungan, tak ditanggapi berlebihan. Sebab episode tanggal 10 November 2019, baru episode pembukaan. Tahapan masih panjang dan pasti melelahkan.

(2) Para tokoh yang didapuk dan nampak sumringah di panggung bersejarah, seperti dikatakan Anis Matta, harus berjibaku menyiapkan Gelombang Rakyat Indonesia dalam kontestasi politik 2024. Menyingkirkan ketidakpastian, menguatkan azam. Bila tak siap, soft launching akan jadi soft laughing.

(3) Euforia tidak perlu berlama-lama. Pesta selfi tak menggerus jatidiri; menjadi pembelajar. Pengalaman di masa lalu boleh jadi tak lagi kompatibel di masa kini. Belajar lagi, belajar terus, belajar selalu harus menjadi spirit terbarukan yang tertanam dalam jiwa para pendiri, inisiator, FGD, hingga akar rumput.

(4) Tujuannya, ditujukan untuk memperbaiki secara bertahap dan inkremental. Gelora hadir atas kesadaran: krisis multidimensi di level sosial, komunitas, negara dan internasional. Langit tak terlalu tinggi, tapi kita terbang terlalu rendah. Delaying sepatutnya tidak terus terulang, jika memang kelahiran Gelora berbasis pada keyakinan: tahu cara dan bisa membaca map yang ada.

(5) Pembelajaran kedua bertujuan untuk mengubah hal-hal yang mendasar. Pola-pola lama dalam tata kelola organisasi, tidak boleh terulang. Spirit mencetak leader harus terus didengungkan. Sebab pemilik saham terbesar bukan pada siapa pemodal, pendiri atau inisiator, tapi sekuat apa kontribusi dalam memenangkan persaingan ide dan problem solving bagi masalah-masalah di atas.

(6) Kehadiran Deddy Mizwar di arena soft launching, sangat baik untuk marketing politik. Namun marketer sebenarnya adalah para calon leader di pelosok negeri, yang jarang terjamah media. Mereka ini perlu diajarkan pengetahuan cukup tentang:

1. Produk (product) berarti partai, kandidat dan gagasan-gagasan partai yang akan disampaikan konstituen. Produk ini berisi konsep, identitas ideologi yang terpusat pada Islam, Demokrasi, Nasionalisme dan Kesejahteraan.

2. Promosi (promotion) adalah upaya periklanan, kehumasan dan promosi untuk sebuah partai yang di mix sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jubir Gelora harus segera ada, agar seirama dalam nada dan wacana.

3. Harga (Price), mencakup banyak hal, mulai ekonomi, psikologis, sampai citra nasional. Harga ekonomi mencakup semua biaya yang dikeluarkan partai selama periode pembentukan hingga kampanye. Harga psikologis mengacu pada harga persepsi psikologis misalnya, pemilih merasa nyaman, dengan latar belakang etnis, agama, pendidikan dan lain- lain. Sedangkan harga citra nasional berkaitan dengan apakah pemilih merasa kandidat tersebut dapat memberikan citra positif dan dapat menjadi kebanggaan negara.

4. Penempatan (place), berkaitan erat dengan cara hadir atau distribusi sebuah partai dan kemampuannya dalam berkomunikasi dengan para pemilih. Ini berati sebuah partai harus dapat memetakan struktur serta karakteristik masyarakat baik itu geografis maupun demografis. Placing figur yang siap menggelorakan, harus difinalisasi sejak saat ini.

(7) Jika ada mau, pasti ada jalan. Maka tekad itu harus dibuktikan dalam obrolan di grup-grup media daring dan obrolan di gawai. Jika hanya melulu membicarakan lika liku di masa lalu, alias susah move on, boleh jadi kita menzhalimi ide besar Anis Matta. Jangan sampai hiruk pikuk soft launching benar-benar jadi soft laughing. Lalu ide besar Arah Baru Indonesia, terkubur dalam Euforia.

By: Nandang Burhanudin