GOODBENER! Gagasan, Narasi, Karya Anies Baswedan Tentang Ruang Ketiga Jakarta


[PORTAL-ISLAM.ID]  Gagasan, Narasi, Karya Anies Baswedan Tentang Ruang Ketiga Jakarta

Berkali-kali mas Anies mengungkapkan gagasan tentang Ruang Ketiga. "Ruang ketiga yaitu ruang interaksi, pembangunan dari mulai taman dan pembangunannya perlu ada nilai-nilai, sehingga ruang ketiga atau ruang interaksi itu bisa membuat suasana yang nyaman bagi semuanya," ini kutipan pernyataan mas Anies kepada salah satu media. Apa sih gagasan Ruang Ketiga itu? Darimana asalnya? Bagaimana narasinya? Apa wujud karyanya?

Sebagai seorang non sosiolog saya tentu tak terlalu paham konsep sosiologi ruang ini. Kebetulan dosen Sosiologi UGM mas Abdul Ghafar Karim pernah berkomentar di satu status saya. Bahwa konsep Ruang Ketiga itu berasal dari teori sosiologi "Tempat Ketiga/ third place". Penasaran kan, lantas saya pelajari melalui googling sana sini.

Tempat Ketiga atau disini sebut saja sebagai Ruang Ketiga (Third Place) rupanya muncul pada tahun 1980-an di AS. Fenomena Ruang Ketiga ini tidak terlepas dari perkembangan revolusi industri yang mendorong orang-orang, baik laki atau perempuan, untuk bekerja di pabrik/ kantor. Rumah dan tempat kerja terpisah, seringkali jauh karena beli rumah dekat tempat kerja sudah pasti mahal. Maka tempat tinggal kemudian diidentifikasi sebagai Ruang Pertama (First Place) sedangkan tempat kerja disebut sebagai Ruang Kedua (Second Place). Sementara tempat antara tempat tinggal dan tempat kerja disebut sebagai Ruang Ketiga (Third Place).

Dalam perkembangannya, segregasi antara tempat tinggal dan tempat kerja memunculkan keadaan sosial yang tidak manusiawi. Orang-orang yang sudah bekerja jam 08.00 sampai dengan 17.00 di tempat kerja, pulang ke tempat tinggal untuk istirahat sebentar. Lalu esoknya pergi lagi. Antar warga tak saling mengenal, meskipun dalam satu lingkungan RT. Lingkungan pemukiman yang terbentuk juga terasa sangat membosankan dan mengisolasi. Aktivitas warga lebih banyak terjadi di dalam rumah dan tempat kerja yang secara terus menerus menimbulkan rasa bosan, penuh tekanan. Terutama remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, kehilangan ruang belajar, tempat ekspresi diri dan bergaul yang nyaman.

Kemudian, memang muncul tempat-tempat hang out seperti mall, cafe atau pub sebagai pengisi Ruang Ketiga. Pengusaha memang selalu jeli ya menangkap setiap peluang. Tetapi itu semua tidak gratis, dan kemudian terkadang justru menimbulkan masalah sosial baru karena tekanan kebutuhan ekonomi meningkat. Katakanlah kriminalitas, miras, narkoba, penjaja seks illegal semacam itu. Ruang Ketiga semacam itu mengalami krisis, yang berpotensi memunculkan masyarakat yang sakit.

Krisis Ruang Ketiga semacam itu juga terjadi di Jakarta. Mas Anies memahaminya dengan baik. Maka ia membuat narasi bagaimana menciptakan Ruang Ketiga yang yang nyaman, membahagiakan dan aman di Jakarta. Yang dapat diakses oleh semua orang. Yang dapat memberi pengalaman, pelajaran dan inspirasi.

Mas Anies berkali-kali menyatakan narasi Ruang Ketiga macam apa yang ia idealkan di Jakarta. Dengan maksud memberi arahan bagi jajarannya di Pemprov DKI. Dan juga menginspirasi siapa saja warga yang mau kolaborasi.

Setelah narasi Ruang Ketiga diterjemahkan dalam program, jadilah karya yang bisa dilihat di Jakarta saat ini. Trotoar dibuat lebih lebar dan lebih nyaman. Kabel-kabel di masukkan ke dalam tanah melalui program ducting. Taman-taman diperbanyak dan dipercantik. Yellow line dibuat untuk difabel netra. Halte-halte dan stasiun kereta dibuat lebih nyaman dan terintegrasi melalui program Transit Oriented Development (TOD). Karya-karya seni didorong maju di ruang publik. Mulai dari arsitektur cantik JPO, pameran seni lukis di halte dan stasiun MRT, pertunjukan musik tepi barat, kerja sama mural antara Jakarta Berlin dan yang terakhir kemarin pertunjukan seni musik klasik di Monas.

Gagasan dan narasi mas Anies akan Ruang Ketiga rupanya juga ditangkap dengan baik oleh warga dan pihak lain. Ada dari mereka yang ingin berkolaborasi membuat karya. Ada sekelompok anak muda berkolaborasi dengan Pemprov DKI membuat penanda dan penunjuk arah di halte bus dan stasiun MRT. Ada ITDP yang bekerjasama membuat tanda-tanda lalu lintas yang lebih user friendly. Ada Mugi Rekso Abadi yang menyelenggarakan Jakarta Art Week. Dan masih banyak lagi.

Sungguh menyenangkan kan ya melihat antusiasme muncul bukan hanya dari kalangan jajaran Pemprov DKI tapi juga warga Jakarta dan pihak-pihak lain. Kita bisa lihat bahwa pembangunan Ruang Ketiga Jakarta dapat kita lakukan bersama menjadi sebuah gerakan. Gerakan untuk menciptakan masyarakat yang sehat dan bahagia.

Ujung dari gagasan Revitalisasi Ruang Ketiga Jakarta ini pastinya tak hanya sekedar monumen-monumen karya. Tetapi adalah terwujudnya masyarakat Jakarta yang hidup sehat, aman, nyaman, dan bahagia.

Apakah kamu termasuk yang antusias mengetahui Gagasan Ruang Ketiga Jakarta mas Anies?

Insyaallah #jakartabisa #jakartamaju #jakartabahagia

Jumat, 13-09-2019

By Tatak Ujiyati [fb]


Baca juga :