Riset Pakar Sosmed Mentahkan Klaim Fisipol UGM Soal Ketidakpercayaan ke KPU


[PORTAL-ISLAM.ID]  Hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga riset media sosial Drone Emprit dan Media Kernel Indonesia menemukan kesimpulan yang berbeda dengan hasil DPP Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM). Suara-suara ketidakpercayaan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) disuarakan oleh akun-akun riil dan bukanlah akun robot.

Sebelumnya, Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP) Fisipol UGM menyatakan bahwa lebih dari 50 persen percakapan tentang ketidakpercayaan kepada KPU dilakukan oleh bot (akun robot). Dalam kesimpulan dinyatakan, hal ini menandakan bahwa ada yang menggerakkan opini publik untuk tidak percaya kepada KPU, menggunakan bot. Penelitian UGM dilakukan dalam rentang waktu 22 Maret – 1 April 2019, dengan sumber dari media online dan media sosial. Khusus soal robot, data diambil dari Twitter. Total ada 6945 percakapan, dimana 4405 menyatakan ”ketidakpercayaan” dan 2540 menyatakan “kepercayaan” kepada KPU.

Kesimpulan dan klaim Fisipol UGM ini dimentahkan oleh data yang dikemukakan pakar sosial media, Ismail Fahmi, PhD, melalui Drone Emprit.

“Awalnya saya tidak berminat untuk membahas ini. Saya tidak bisa berkomentar karena tidak tahu bagaimana percakapan yang mengekspresikan “kepercayaan” atau “ketidakpercayaan” kepada KPU itu dibuat dalam setting penelitiannya. Beda setting, tentu beda hasilnya,” kata Pakar Media Sosial dan juga pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, Kamis (25/4/2019).

“Namun, banyak sekali yang bertanya kepada saya tentang hasil penelitian dari Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP) Fisipol UGM,” tuturnya.

Menurutnya, untuk menguji apakah sebuah akun terindikasi bot atau tidak, bisa menggunakan alat (tools) yang lazim digunakan yakni Botometer. Ini bisa dilakukan melalui link https://botometer.iuni.iu.edu. Dari top akun influencer yang paling aktif diuji untuk mendapat skala kemungkinan mereka adalah bot atau bukan.

“Hasilnya, akun yang paling aktif menyuarakan itu tidak terindikasi sebagai bot. Bahkan 4 di antaranya memiliki score 1.2-1.8 yang artinya adalah akun riil,” ujar Ismail yang juga founder Media Kernels Indonesia ini.

Dijelaskannya, akun yang diuji tersebut diambil dari lima top influencer yang menyuarakan tema tentang ’KPU’ diambil dari kedua kubu. Masing-masing berasal dari top 3 akun dari cluster pendukung 02, dan 2 akun berikutnya dari cluster pendukung 01.

“Hal ini juga menandakan kedua kubu bersama-sama memiliki pengaruh dalam pembangunan opini tentang KPU, meski narasi dari cluster 02 yang lebih dominan. Ini bisa kita lihat dari top twit tentang ‘KPU’,” sambungnya.

Dari 20 top twit, tampak narasi yang dominan dibangun dari pendukung 02 adalah tuntutan agar KPU jujur di bawah pengawasan observer internasional. Misalnya, akun Rizal Ramli mengusulkan agar Carter Center diundang untuk memastikan pemilu jujur. Sementara itu influencer lain dari 02 mulai mengangkat tagar #IndonesiaCallsObservers.

Saking massifnya netizen menyuarakan tagar #IndonesiaCallsObservers hingga menjadi trending teratas (top trending) dunia.

Penelitian Drone Emprit dilakukan dalam kurun waktu yang sama dengan DPP Fisipol UGM yaitu dalam periode 22 Maret – 1 April dengan melihat tren percakapan di media online, Twitter, Facebook dan Instagram.

Ada empat pertanyaan yang hendak dijawab yaitu apakah ada opini yang masif dibangun tentang ketidakpercayaan kepada KPU sebelum pencoblosan? Apakah upaya ini ada yang menggerakkan? Apakah lebih dari 50% percakapan didominasi oleh akun robot? Dan apakah ada korelasi lokasi pengguna twitter di DKI dan Jawa Barat dengan opini “ketidakpercayaan” kepada KPU?

Menurutnya, dibandingkan dengan jumlah cuitan tentang “ketidakpercayaan” kepada KPU yang digunakan oleh DPP Fisipol UGM yang jumlahnya 4405 percakapan, jumlah cuitan berbasis hashtag #IndonesiaCallsObservers yang menyatakan narasi serupa ternyata menghasilkan percakapan yang jauh lebih banyak, yaitu 333.500 percakapan.

“Dengan data yang volumenya sangat besar ini, diharapkan kita bisa membaca pola dengan lebih akurat,” lanjutnya.

Sedangkan tentang apakah lebih dari 50 persen percakapan tentang “ketidakpercayaan” kepada KPU didominasi oleh akun robot? Menurutnya, jika persentase tersebut diterapkan pada data Drone Emprit, maka akun robot harus membuat sebanyak lebih dari 166.000 percakapan dalam 10 hari, atau 86.000 percakapan khusus pada tanggal 25 Maret 2019 saja.

“Ini jumlah yang sangat besar, jika dilakukan oleh robot, dan akan mudah terdeteksi oleh algoritma Twitter. Di samping itu, untuk menghasilkan trending topik dunia, diperlukan jumlah akun unik yang sangat besar dan terdistribusi di lokasi yang luas. Artinya, sulit ini dilakukan oleh robot,” ujarnya.

Disamping itu, analisis interaction rate yang menunjukkan berapa banyak interaksi per twit baru yang ditampilan oleh Drone Emprit menunjukkan rate yang cukup tinggi untuk #IndonesiaCallsObservers, yaitu 5.92 interaksi per twit.

“Dalam pengalaman analisis kami, angka ini menunjukkan interaksi yang lebih natural dari akun-akun riil. Interaksi oleh robot biasanya memiliki rate yang sangat rendah, seperti kurang dari 2 interaksi per twit,” tegasnya.

Hasil uji robot menggunakan situs Botometer untuk beberapa akun yang paling banyak mengirim twit tentang #IndonesiaCallsObservers juga menunjukkan bahwa mereka ternyata akun asli. Akun yang sangat aktif melakukan retweet, reply, dan juga posting twit baru, yang cenderung militan mengikuti instruksi dari komando top influencer mereka.

Dari peta SNA tentang #IndonesiaCallsObservers juga tampak bahwa akun-akun itu membentuk sebuah cluster tunggal, yang menandakan mereka saling berinteraksi. Jika banyak robot, mereka biasanya membentuk cluster tersendiri yang berada di luar cluster akun riil, karena robot cenderung tidak berinteraksi.

“Jadi berdasarkan analisis di atas, Drone Emprit gagal membuktikan klaim bahwa 50 persen lebih percakapan tentang “ketidakpercayaan” kepada KPU didominasi oleh robot,” pungkas alumni ITB yang meraih doktor Natural Language Processing (NLP) di Universitas Groningen Belanda itu.

Analisa pendiri Drone Emprit ini bisa dilihat lebih detil di laman langsung penulis Ismail Fahmi.

Link: https://www.facebook.com/ismailfahmibdg/posts/10158339941396729
loading...
Loading...