Islamophobia di Era Jokowi


[PORTAL-ISLAM.ID]  Pernyataan ustadz kondang Abdul Somad yang membatalkan sejumlah safari dakwahnya di pulau Jawa menggegerkan publik. Hal tersebut disampaikannya dalam akun Instagram pribadinya. Apakah Indonesia yang mayoritas muslim juga mengalami Islamophobia?

Islamophobia adalah sebuah istilah yang muncul atas ketakutan dunia-dunia barat akan kebangkitan umat islam di dunia. Istilah ini terus digunakan untuk mendeskreditkan kelompok-kelompok islam. Labelling islam teroris, pengacau, dan penghambat sebuah kemajuan selalu didengungkan.

Di Indonesia sendiri, islamophobia telah terjadi semenjak kolonial Belanda. Narasi tersebut dibuat Belanda untuk memecah semangat perjuangan umat islam dalam memerdekakan dirinya. Salah satu narasi terkenal untuk mematahkan semangat perjuangan umat islam saat itu adalah Dharmoghandul dan Gatholoco.

Narasi benturan budaya dan agama digunakan kolonial agar penganut islam merasa Islam itu tidak bagus dan tidak layak dipegangi. Hal tersebut untuk mencegah agar umat islam tidak terlalu tertarik secara lebih serius dan lebih mendalami ilmu agama. Untuk memperkuat hegemoninya, kolonial saat itu melegitimasi ilmu atau pemahaman-pemahaman barat.

Walaupun Indonesia saat ini telah terbebas dari penjajahan, tapi narasi-narasi ketakutan tentang islam selalu digunakan untuk kepentingan politik tertentu. Maka tidak mengherankan kalau beberapa kajian agama dibubarkan begitu saja oleh sekelompok orang. Termasuk juga kajian-kajian yang dibawakan oleh Usatdz Abdul Somad.

Pasca reformasi, baru di era pemerintahan Jokowi inilah umat islam terasa seringkali dideskreditkan. Berbagai isu dibenturkan untuk melemahkan eksistensi umat islam. Narasi Pancasila dibenturkan dengan anti NKRI yag dilekatkan pada umat islam. Bahkan, untuk pertama kalinya pemerintah memverikasi mubaligh dengan daftar mubaligh yang direkomendasikan pemerintah.

Ini adalah ujian berat bagi umat islam di tengah iklim demokrasi. Disatu sisi ia mempunyai hak untuk meyakini agamanya, di sisi lain ia dipaksa untuk menghargai keyakinan orang lain yang tidak sependapat dengannya. Lalu apa yang bisa dilakukan umat islam hari ini?

Tentu berkecil hati bukan jawabannya. Zaman pasti berubah, masa pun ikut berganti. Setiap masa ada masalahnya, dan setiap maslah ada jalan keluarnya.

Hal pertama yang harus dilakukan umat islam hari ini adalah meluruskan sejarah yang terlanjur ada. Umat islam harus mampu meyakinkan masyarakat bahwa anggapan negatif tersebut adalah salah. Citra toleran harus mampu dikedepankan daripada sikap represif memberantas kemungkaran.

Hal kedua yang harus dilakukan umat islam adalah dengan menguasai media. Seperti kenyataan hari ini, semenjak bangun tidur hingga tidur lagi, semua kita tidak lepas dari media. Baik itu dari saluran media masa, elktronik, bahkan maya seperti gadget yang kita bawa kemana-mana.

Yang ketiga adalah umat islam harus mampu berdaulat secara politik. Jika hari ini hak masyarakat dalam beribadah terasa terganggu, maka kedepannya umat islam harus lebih selektif dalam menentukan pemimpinnya. Salah memilih pemimpin itu sial, tapi bertahan pada pilihan yang salah adalah kebodohan.

Penulis: Nusron Khidir