MENGUJI ISI KEPALA CAPRES UNTUK INDONESIA


MENGUJI ISI KEPALA CAPRES UNTUK INDONESIA

Dulu kampanye hanya 3 bulan dan sekarang hampir 8 bulan. Ibarat tinju, dulu 12 ronde sekarang 30 ronde. Kalau tidak jaga stamina bisa-bisa keduanya lempar handuk. Tapi saya sayangkan KPU tidak mengantisipasi ini semua. Sehingga KPU hanya atur 2-3 bulan terakhir.

Dulu, Pileg dulu baru Pilpres. Tenaga partai dibagi dua dalam durasi yang berbeda. Tapi sekarang, Pileg 2019 dan Pilpres 2019 berlangsung sama dengan durasi panjang. KPU lupa bahwa Pileg tak akan menarik. Sementara Pilpres dibiarkan tanpa pengaturan teknis.

Lalu, media mainstream yang didominasi oleh pemilik kepentingan langsung terhadap Pemilu mengambil ruang ini dan menyelenggarakan pemberitaan dan perdebatan yang ala kadarnya. KPU angkat tangan dan kepentingan rakyat seperti tidak lagi penting, tapi rating.

Pikiran awal pembuat UU adalah bahwa waktu yang panjang ini akan diatur untuk menyelenggarakan sebuah perdebatan yang spektakuler dan saling membongkar isi hati dan kepala. Rakyat wajib tahu siapa saudara dan mereka mau dibawa ke mana. KPU gagal dalam hal ini.

Penyelenggaraan Pilpres 2019 dan Pileg 2019 secara bersamaan kita anggap akan memberi tontonan murah yang menarik karena akan terjadi penghematan. Ternyata tidak. Biaya tambah besar tapi tontonan tidak lebih menarik dan miskin kreativitas. Ayo KPU masih ada waktu.

Saya membayangkan akan ada debat capres atau caleg di timur; Jayapura, Makasar, Manado, Ambon, Lombok, dll tentang isu lokal yang akan sengit sebab daerah akan diajak dalam percakapan yang sengit dan seru di kampus-kampus utama dengan panelis lokal yang handal.

Saya kira akan ada debat tentang masa depan Sabang dan Selat Malaka di barat, tentang masa depan industri CPO dan sawit di Medan, tentang industri pupuk dan masa depan industri pertanian dan Agro di Lampung, atau tambang di Kalimantan. Dan tema sektoral lain.

Di pulau Jawa ini ada kampus-kampus besar dan terkenal. Tempat kita perdebatkan nilai-nilai Indonesia, tentang mengapa bangsa ini jadi negara dan nilai apa yang mengikat kita bersama. Kita perdebatkan kembali jalan kita ke depan agar tidak salah arah dan salah melangkah.

Begitulah,
Indonesia ini disusun oleh ide-ide. Dan kita semua mustahil memimpin Republik ini tanpa memahami idenya berasal dari mana. Maka memilih pemimpin RI adalah mengetahui apa ide yang ia bawa. Bukan ketampanan, keluguan atau gimmick semata. Terima kasih.

(by @Fahrihamzah 18/11/2018)