Pelajaran dari Gaza: Perlawanan adalah Solusi Bagi Rakyat Palestina


[PORTAL-ISLAM.ID] Zionis Israel dipermalukan di Gaza. Operasi militer khusus pasukan Israel yang menyusup ke Gaza pada Minggu (11/11/2018) malam pekan kemarin, menuai kegagalan dan tewasnya salah satu perwira pasukan Israel oleh Brigade Izzudin Al-Qasam.

Gempuran Israel dengan bombardir jet-jet tempur mereka juga dihadapi dan dibalas oleh gabungan pasukan perlawanan dari faksi-faksi Palestian di Gaza. Mereka kompak melawan Israel dengan membentuk satu ruang komando bersama.

Buntut kegagalan ini berujung pada mundurnya Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman.

Namun sayangnya, lagi-lagi "Presiden" Palestina Mahmud Abbas yang berkedudukan di Tepi Barat mengancam langkah-langkah hukuman baru dan keras terhadap Jalur Gaza.

Tapi, faksi-faksi perlawanan Palestina justru mendukung perjuangan perlawanan Gaza.

Dengan eskalasi agresi Zionis di Gaza dan keberanian perlawanan dalam membalas agresi; Badran Jaber –pemimpin Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP)– mengecam ancaman yang terus dilancarkan Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas untuk memberlakukan lebih banyak sanksi terhadap Gaza.

Dengan nada mengolok dia mengatakan, "Dia masih seorang presiden badui yang sedang mengepung saudara-saudara kita di Gaza atau dia sedang menunggu apa yang menghentikan roket perlawanan menggempur Ashkelon dan Beersheba?"

Awal pekan ini Abbas mengancam langkah-langkah hukuman baru dan keras terhadap Jalur Gaza.

Jaber menambahkan, salam penghormatan untuk kepahlawanan Gaza dan perlawanan. Para politikus harus belajar dari perlawan yang pemberani di Jalur Gaza, yang telah memberi pelajaran kepada penjajah Zionis dengan darah dan menciptakan perimbangan strategi baru.

Dia menilai, konsensus perlawanan dalam satu ruang operasi di Jalur Gaza adalah bukti jelas bahwa rakyat Palestina dalam perlawanan bersatu. Untuk itu dalam politik juga harus bersatu. Semua kekuatan rakyat dan elitnya berhimpun pada program politik terpadu yang menggabungkan perlawanan dan pembangunan.

Rekonsiliasi Melalui Perlawanan

Pemimpin gerakan Hamas di Tepi Barat, Syaikh Hassan Yusuf, mengatakan bahwa rakyat Palestina kuat dalam perlawanan, persatuan dan ikatan mereka.

Dalam pernyataan khusus kepada Pusat Informasi Palestina, Hassan Yusuf mengatakan, "Perlawanan adalah satu-satunya yang menyatukan kami. Kita harus mengambil pelajaran dari lapangan di Gaza dan ruang operasinya yang luar biasa, yang menjadi penghalang yang kuat dan teguh bagi rakyat.”

Dia menambahkan, "Rekonsiliasi, persatuan nasional dan kemitraan politik semua faksi Palestina dapat berhasil dengan kuat melalui konsensus pada program perlawanan. Karena fatamorgana solusi politik telah memecah belah rakyat, mengoyaknya dan menghancurkan struktur sosialnya."

Perlawanan Adalah Katup Pengaman

Sementara itu, Fahmi Shaheen, pemimpin Partai Rakyat Palestina, menyatakan, “Intifadhah sebelumnya, pertahanan para syuhada, pawai bersama dan perlawanan rakyat telah menjadi katup pengaman untuk persatuan rakyat dan perjuangan panjangnya.”

Dalam wawancara dengan koresponden Pusat Informasi Palestina, Shaheen mengatakan, “Kita dapat mengambil pelajaran dari Gaza tentang persatuan dan perlawanan yang bisa menghancurkan perselisihan dan perpecahan, yang disatukan oleh darah para syuhada. Para syuhada kemarin lusa adalah dari Hamas dan kemarin dari Jihad Islam dan PFLP. Ini artinya bahwa darah kita satu dan persoalan kita satu, yaitu terbebas dari penjajah. Tidak ada yang menyatakan rakyat kecuali perlawanan.”

Mengaktifkan Perlawanan Rakyat

Sekretaris Jenderal Inisiatif Nasional, Dr. Mustafa Barghouti, meminta agar diaktifkan kembali perlawanan rakyat di Tepi Barat sebagai bentuk solidaritas dan dukungan untuk perlawanan di Jalur Gaza. Dia menegaskan bahwa kekuatan-kekuatan politik dapat bertemu pada program nasional yang dimulai dari gerbang perlawanan.

Dalam wawancara dengan koresponden Pusat Informasi Palestina, Barghouthi mengatakan, "Sekarang adalah waktunya untuk persatuan rakyat, mengakhiri perpecahan dan bertemu pada program perlawanan nasional yang menghimpun semua rakyat di manapun berada." Dia menegaskan bahwa misil Israel yang merenggut nyawa rakyat Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat tidak membedakan siapapun, namun menarget siapa saja yang bernama Palestina.

Dia menegaskan pentingnya melindungi perlawanan rakyat di Tepi Barat untuk mengibarkan perlawanan Palestina. Barghouthi menyerukan pembebasan blokade di Gaza, mendukung perjuangan Gaza dan tidak menghukumnya, karena Gaza hari ini menjadi pelindung tanah air dan rakyat. Karena itu Gaza tidak layak untuk diblokade dan dihukum.

Pelajaran Pertama dari Gaza

Wakil Ketua Dewan Legislatif Palestina, Hasan Khuraisyah mengimbau kepada kekuatan-kekuatan nasional Palestina dan rakyat untuk mendukung perlawanan, karena itu adalah satu-satunya yang bisa mengangkat kepala bangsa Palestina tinggi-tinggi.

Dalam pernyataan khusus kepada koresponden Pusat Informasi Palestina, Hasan Khuraisyah meminta kekuatan-kekuatan nasional dan Islam di Tepi Barat untuk melindungi perlawanan dan mendukungnya, agar menjauhkan perselisihan dan perpecahan, kembali bersatu dan bergabung untuk mengaktifkan persatuan nasional di masyarakat bawah Palestina, dan menjadi pelajaran pertama bagi kita dari Gaza.

Sedikitnya 14 warga Palestina telah gugur dan 31 lainnya terluka sejak awal agresi Zionis di Jalur Gaza pada Ahad malam lalu hingga hari Selasa.

Menurut Kepala Kantor Penerangan Pemerintah Palestina di Jalur Gaza, Salamah Ma’ruf, total serangan udara yang dilakukan pasukan penjajah Israel ke Jalur Gaza lebih 150 serangan udara. Dalam serangan tersebut pasukan penjajah Zionis membombardir 80 institusi, termasuk gedung-gedung pemerintah, bangunan-bangunan tempat tinggal, kantor-kantor sipil, lembaga-lembaga media dan lahan pertanian serta pos-pos perlawanan.

Sementara itu untuk menghadapi agresi ini, perlawanan Palestina telah membalas agresi ini dengan meluncurkan ratusan roket, yang menewaskan dua warga pemukim Israel dan melukai 100 lainnya.

Sumber: PIP