PKS tak Lagi Fokus


PKS tak Lagi Fokus

Oleh: Erizal*

Tak hanya tak fokus pilpres, sebetulnya PKS juga sudah tak fokus pileg. Bayangkan, usai caleg disahkan, peluit pertandingan ditiup, PKS masih memecat kepengurusan di tingkat wilayah. Terbaru di Sumut. Sebelumnya di Bali dan Sulteng. Kabarnya juga Kalsel, tapi belum dieksekusi.

Istilahnya pergantian, penyegaran, bukan pemecatan. Permainan istilah ini juga sudah ada sebelumnya di Sulsel, Sumsel, dan lain-lain. Malah tak sekadar pergantian, penyegaran, ada yang berani dan nekat memakai istilah peningkatan atau kenaikan kelas. Pokoknya, tak ada pemecatan!

Bukan satu dua orang, ketua dan sekretaris saja, tapi seluruhnya! Apa itu yang dinamakan penyegaran? Sadisnya, itu dilakukan usai kepengurusan menyelesaikan tugas pemberkasan caleg dan tetek-bengek partai agar bisa ikut Pemilu. Berbusa-busa, pemberkasan itu dikatakan sebagai jihad administrasi, tapi setelah itu ceritanya lain. Malah di Sumut, usai menang pilkada yang seru.

Bukan mengapresiasi, memberikan bintang jasa, mengucapkan ribuan terima kasih, justru pemecatan dibungkus penyegaran yang dikalungkan. Wajar, pengurus dan kader partai berempati dengan ramai-ramai mundur dari anggota partai. Sadistik ini mudah tercium, walau tertutup rapat.

Di Bali, mayoritas kader inti yang aktif memilih hengkang dari PKS. Malah, kantor resmi partai berganti merek, plang partai diturunkan, sekali meledak langsung lumat. Di Sumut mundur satu-satu, dari DPD ke DPD, seperti mengatur irama. Ini lebih berbahaya, karena jadi berita terus.

Di Sulteng, nyaris tak terdengar. Di situ, sedang ada bencana alam. Mereka tak ada reaksi, karena mengurusi diri sendiri saja sudah tak bisa. Mestinya ditolong lahir-batin, tak lagi dibebani urusan yang tak perlu. Sungguh, raja tega. Ada juga cerita pilu dari korban bencana. Ah sudahlah.

Di Kalsel, entahlah? Nanti, akan seperti apa? Konon, sedang bersiap-siap anggota Majelis Syuro yang sudah dipanggil BPDO berkali-kali, tapi tak kunjung datang, bakal dieksekusi. Tentu tak dipecat, diturunkan jenjang keanggotaan. Otomatis tersingkir sendiri sebagai anggota Majelis Syuro. Sudah trauma juga mungkin memecat seperti Fahri Hamzah. Risikonya, terkena 30 miliar yang belum dibayar.

Makanya, apakah tak pantas PKS dikatakan, tak lagi fokus? Tak ada satu pun partai, yang masih berkonflik di internal di tahun pemilu, kecuali PKS inilah. Semua sudah selesai, sudah ada resolusi konflik masing-masing. Anehnya, PKS kerap menyebut diri sebagai partai dakwah. Ironi.

Partai dakwah malah tak bisa berkonflik. Berkonflik secara kuno dan purba. Padahal, jika diurut-urut, masalahnya sangat kecil. Misalnya, soal kasus pidana MSI. FH kan sempat mencabut, tapi kenapa diteruskan lagi? Pasti ada syarat yang tak dipenuhi. Anehnya, MSI justru menjadikan pencabutan itu dalih untuk tak lagi melanjutkan kasusnya. Ini resolusi konflik yang berat sebelah.

Masih mending tak fokus pilpres karena capres-cawapres, keduanya berasal dari Gerindra. Efek ekor jas, hanya untuk Gerindra saja. Fokus ke Sandiaga Uno pun, bukan Prabowo, hasilnya akan sama saja. Sudah tak mudah utak-atik, apa pun, orang sudah berada dalam satu bejana besar.

Terlalu banyak PKS berkorban. Pilkada Jabar, pilkada DKI. Pilkada DKI malah tak dapat apa-apa. Saat kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta ditinggalkan Sandiaga Uno, yang mendampingi Prabowo, kursi itu masih saja diincar oleh Gerindra. PKS mengatakan ada kesepakatan atau janji antar petinggi partai, tapi Prabowo tak pernah merasa berjanji. Jadi tepat tak lagi fokus ke pilpres.

Bukti lain, PKS tak lagi fokus adalah digandengnya motivator untuk memompa, daripada peneliti untuk membuat pemetaan pertarungan, khususnya di tingkat dapil pusat, yang tak mudah. Ini seperti penyakit khusus, tapi diobati dengan obat generik yang mudah didapat dan murah pula.

Mungkin motivator digandeng ke daerah-daerah justru untuk membuat fokus baru. Fokus untuk menyatukan agar melupakan pergantian berbungkus penyegaran di banyak daerah itu. Tapi sayang, semakin dilupakan semakin muncul bola salju, bahwa kader keluar PKS dengan sukarela.

Belum lama di DPD Banyumas, lalu DPD Mojokerto, entah di mana lagi yang menyusul? Wajar saja, Prabowo tak mau menyerahkan kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta ke PKS. PKS-nya sendiri tak lagi fokus. Orang tak fokus, jangankan membantu orang lain, dirinya saja sudah susah. Jadi, mau apa lagi? Apakah ada fokus PKS terhadap yang lain, selain pilpres dan pileg? Entahlah.[]

*Sumber: fb penulis