'KTP Anjing': Program Ahok yang Dibully Pendukung Ahok


'KTP Anjing': Program Ahok yang Dibully Pendukung Ahok

Sedikit selingan dari isu-isu terkait pilpres. Kita lihat isu menarik di DKI, yaitu 'KTP Anjing'. Sejenis identitas atau chip untuk anjing.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI menganggarkan Rp 925 juta untuk pengendalian rabies. Anggaran tersebut termasuk untuk pencetakan 'KTP' bagi anjing sebanyak 10 ribu lembar sebesar Rp 20 juta.

Dasarnya adalah Pergub DKI Nomor 199 Tahun 2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengawasan Hewan Rentan Rabies serta Pencegahan dan Penanggulangan Rabies. Artinya, program ini sudah dibuat sejak jaman sebelumnya, yaitu jaman Ahok.

"Kalau kamu mau pelihara hewan di Jakarta, wajib pasang microchip, supaya kita bisa kontrol. Ini kan standar internasional sebetulnya. Termasuk kalau jual hewan enggak boleh kandangnya kecil, itu kacau tuh. Rumah sakit (hewan) kita juga kita minta buka 24 jam," kata Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di sela acara Kesejahteraan Hewan Menuju Jakarta Maju yang digelar di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Minggu (7/2/2016).

(Link: https://news.detik.com/berita/3136662/ahok-pelihara-hewan-wajib-pasang-microchip-agar-bisa-dikontrol)

Setelah melakukan sosialisasi selama setahun pada 2017, Pemprov DKI membagikan 500 microchip gratis pada anjing peliharaan. Entah bagaimana, berita ini menjadi sedikit ramai di media sosial. Kita lihat, sebenarnya apa yang terjadi?

DATA

Dari data Drone Emprit, percakapan tentang anjing yang difilter dengan 'ktp dan identitas' tidak terlalu banyak. Hanya ada 1.7k mention di Twitter selama 3 hari terakhir ini. Dan 44 mention di online news. Awal muncul tanggal 9 Oktober, puncaknya tanggal 10, dan hari berikutnya turun.

SNA

Dari peta SNA hanya tampak adanya satu cluster. User yang paling banyak mendapat engagement adalah:
@masasikamu 192
@pengarang_puisi 180
@kaskus 115
@Dennysiregar7 112
@Mey_MeynieJ 50
@makLambeTurah 36

Dari profile mereka, sebenarnya tampak bahwa sebagian besar adalah user yang pro dengan Ahok. Dan dari grafik exposure memperlihatkan pola percakapan oleh user organik, bukan robot.

Sama sekali tak tampak pendukung Anies turun membela. Dan tampaknya juga memang Anies tak memanfaatkan buzzer untuk mensosialisasikan program-program yang dilaksanakan. Jadi apa adanya oleh pemberitaan media dan info di FB page, dan pasrah dengan response netijen yang bakal muncul.

TOPIK

Ide pemasangan chip, atau pembuatan kartu identitas kepemilikan anjing, adalah ide brilian, yang sudah diterapkan di banyak negara maju. Tujuannya untuk mendata hewan ini agar tidak liar, serta mencegah terjadinya penyakit rabies yang disebabkan oleh anjing.

Pemasangan microchip ini merupakan kerjasama Jakarta Aid Animal Network (JAAN) dengan Pemprov DKI. Pergub dibuat tahun 2016, dan baru 2018 terealisasi setelah sebelumnya dilakukan sosialisasi.

Namun kebanyakan komentar dari netizen yang sebagian besar adalah pro Ahok ini bukannya positif, tetap malah membully. Misalnya berikut ini.

β„™engarang β„™uisi™
@pengarang_puisi Inilah prestasi terbesar yang ditorehkan Gabener DKI.. KTP Anjing.. πŸ‘πŸ‘πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ https://t.co/5bwbY6DZhP

Denny Siregar
@Dennysiregar7 "Mana KTP lu, anjing !" Sebentar lagi kata-kata ini akan menjadi kata yang ramah. Indonesia mulai berbenah..

Nona Ahokers Manado
@Mey_MeynieJ Wow kerennnnnnn...jakarta siap2 banjir ya...selamat krn pemimpin anda pinter2 bodoh....gabener lebih memilih ngurusin E ktp anjing dgn anggaran Rp.950 juta dari pada ngurusin warganya..... Bahagia anjingnya,menderita warganya,tertawa gabenernya...tepuk tangan yuk https://t.co/E3jZueTPcb

makLambeTurah
@makLambeTurah mak gak miara anjing soal takut digeruduk...soal tetangga pada sensi juga baperan....jadi miaranya kucing.. KTP bua… https://t.co/SiKk2hlmX3

#FOKUS_JKW&MA'RUF2019_ ❤
@Fokus_Jkw2019__ Di Jakarta akan diadakan KTP khusus Anjing ya .... Pertanyaan saya. ..... Klau anjing2 tsb hrus pindah majikan, apa juga hrus urus SKCK dri Kepolisian setempat .... ???? https://t.co/GDLi7mMTpP

Dan seterusnya, dari top status yang paling banyak diretweet, hampir semua bersentimen negatif atau membully program ini.

Sementara status yang netral atau mendukung adalah:

detikcom
@detikcom Ini Bentuk 'KTP' Anjing yang Diterbitkan Pemprov DKI https://t.co/5LfIzZkrjI via @detik_foto https://t.co/mTmlzDRQEo

soulusi.com
@SoulusiID Pemprov DKI merilis KTP untuk anjing peliharaan dalam rangka Hari Rabies Sedunia disertai dengan pemasangan 100 microchip gratis di Jakarta Utara. #savedog #HariRabiesSedunia https://t.co/JGTaEeHRW1

tirto.id
@TirtoID Pendiri LSM JAAN menjelaskan, guna microchip adalah untuk pendataan pemerintah, khususnya soal status kesehatan hewan terkait vaksin rabies. Sedangkan "KTP” anjing untuk memberi nilai lebih pada pemilik hewannya. https://t.co/IUHWfrCtgW https://t.co/9a2MH5pVHx

Historia
@historia_id Pemprov DKI Jakarta mengeluarkan "KTP" untuk anjing. Dulu, pemilik anjing harus mendata dan membayar pajak anjing peliharaannya. https://t.co/Xp9jPhvQzl

Kebanyakan yang netral dan positif adalah media online. Mereka masih berbasis data dan fakta di lapangan.

ANALISIS

Bullying terhadap program KTP Anjing ini adalah contoh nyata dari post-truth. Netijen melakukan standard ganda. Jika yang membuat dan merealisasikan adalah Ahok, maka itu positif dan dipuji. Namun entah karena mereka lupa, ternyata yang mewujudkan program ini adalah Anies. Maka mereka 'merasa' apa yang dilakukan Anies ini adalah absurd. Untuk apa anjing diberi KTP, apakah akan diikutkan program OKEOCE, misalnya.

Kebenaran ukurannya bukan fakta lagi. Meskipun dalam berita sudah disebutkan bahwa ini dasarnya adlaah pergub yang dibuat Ahok. Tetap, peluncuran program ini terus dibuly, karena tidak cocok dengan perasaan mereka.

Fenomena post-truth semacam ini mirip dengan komentar sebagian netijen terhadap penyelenggaraan pertemuan IMF. Digoreng habis oleh oposisi. Padahal pelaksanaan acara IMF agar diadakan di Indonesia ini adalah ide dari masa presiden sebelumnya.

CLOSING

Selamat hari rabies sedunia!

by Ismail Fahmi, PhD
(Social Network Analys)


Baca juga :