UAS, Imam Mahdi Abad Ini


[PORTAL-ISLAM.ID]  Imam Ahmad bin Hambal pernah berkata. Diceritakan dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, bahwa Allah menghantarkan pada umat ini seorang pembaharu dalam agama setiap seratus tahun. Sebagian pemikir menilai, Umar bin Abdul Aziz sebagai pembuka, disusul Imam Syafi'i, terakhir Imam Syahid Hasan Al Banna.

Lalu, di almanak hijriah abad ini yang sudah berjalan 40 tahun, siapa kira dimaksud Rasulullah tersebut. Raja Salman? Al Qaradawi? Erdogan? Mahathir? Zakir Naik? Habib Rizieq? Atau mungkin Ustadz Abdul Somad? Saya menduga yang terakhir ini. Bukan maksud diri nak menepikan yang lain.

Ramadan lima tahun yang lalu, hati sudah bersangka, suatu saat nanti, ustadz yang lahir dan besar di Sumatera bagian timur ini akan dikenal seantero negeri. Kajian rutin pekanan UAS dimulai di Masjid Akramunas, jama'ah tumpah melimpah. Kaji dipindah ke Masjid Al Falah Darul Mutaqin, tak lama, yang terlambat, siap-siap lah duduk di jenjang. Masjid An-Nur yang sepuluh tahun lalu cakap Ustadz Musthafa Umar, lebih banyak tiangnya dari pada jama'ah, menjadi pilihan selanjutnya.

UAS pun tak bisa mengelak viral di dunia gaib dan dunia nyata. Mencerahkan umat lintas provinsi, pulau dan negara. Dari mushola ukuran tujuh kali tujuh meter, sampai tanah lapang yang tak nampak ujung pangkal. Kantor petinggi negara hingga tengah hutan belantara. Semua dianggap sama penting, tak ada beda. Ladang yang harus digarap.

Ditabalkan Datuk Seri Ulama Setia Negara, dimuliakan jama'ah tablig, dibela Front Pembela Islam, didahulukan Muhammadiyah, disanjung Nahdlatul Ulama, disematkan Anggota Kehormatan Pemuda Pancasila, direkomendasikan sebagian kelompok salafi, Bahkan yang tak seaqidah pun ada mengaku tunak mendengar petuah UAS. Pokoknya cukup lokup.

Televisi nasional juga bertekuk tak berdaya, menyesuaikan diri dengan jadwal kajian yang sudah terisi. Live diharap atau record juga tak apa.

Di saat yang sama, jembalang tanah hatinya terus membusuk, mengalirkan nanah ke seluruh saraf. Otaknya mendidih meramu segala muslihat. Lalu api fitnah disembur ke delapan penjuru mata angin. UAS terasosiasi dengan organisasi terlarang. Itu ujarnya. Persekusi, deportasi dan intimidasi dilakoni. Sudah Protap.

Tetiba saya membayangkan UAS mengigau panjang, dan keluarkan pernyataan. Saya Mendukung Rezim Saat Ini Untuk Melanjutkan Kekuasaannya. Simsalabim, karpet merah dengan Tepuk Tepung Tawar akan dihampar bagi hamba dari tanah Melayu di sentra kekuasaan penguasa. Tergiurkah UAS?

Atau seperti Socrates? Dengan nilai kebenaran yang diyakininya, berselisih dengan mitos puja-puji dewa. Diumban ke penjara yang terbuka hingga akhir hayat dipilihnya. Lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup menyembah istana. Pesan Tunjuk Ajar Melayu, Datuk Tenas Effendy. Apabila amanah hendak berlanjut, Serah kan kepada yang patut-patut, Apabila amanah hendak kekal, Serahkan kepada orang yang berakal.

Penulis: Alwira Fanzary Indragiri
Baca juga :