Tak Mau Mendebat Kiai Ma'ruf, Sandiaga Pilih Urun Rembuk


[PORTAL-ISLAM.ID] Bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno mendapat tantangan dari tim kampanye rivalnya, Presiden petahana RI Joko Widodo - Ma'ruf Amin untuk berdebat mengenai situasi dan kondisi ekonomi Indonesia. Namun, Sandiaga mengaku enggan melakukan itu karena diajari untuk tidak melawan kiai.

"Saya diajari untuk tidak boleh berdebat dengan kiai. Kiai itu harus dimuliakan, jadi urun rembuk saya rasa baik sekali karena keadaan ekonomi kita menghawatirkan kita tidak boleh anggap enteng," kata Sandi, Jakarta, Jumat (31/8), seperti dikutip CNNIndonesia.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, 'urun rembuk' didefinisi sebagai 'memberikan sumbang saran; bermusyawarah; urun pendapat'.

Menurut Sandiaga urun rembuk jadi opsi yang lebih baik untuk situasi saat ini. Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini memandang masalah perekonomian negara sedang memprihatinkan. Akan lebih baik menurut Sandi apabila masalah tersebut dicarikan solusi melalui musyawarah ketimbang debat.

"Bersatu saja belum tentu bisa menghadapi gejolak ini, apalagi terpecah-belah. Jadi saya ingin duduk bersama urun rembuk. Dan ini masih 8 bulan kedepan sementara yang kita hadapi keseharian ekonomi kita berat, dolar perkasa," lanjut Sandi.

Sandi pun menyarankan semua pihak untuk saling membantu memperbaiki kondisi perekonomian dengan berbagai cara. Misalnya dengan mengonsumsi lebih banyak produk domestik serta berwisata di dalam negeri.

"Supaya kita bisa tahan devisa untuk yang gemar memproduksi barang-barang impor ditahan dulu," imbuhnya.

Dalam perhelatan Pilpres 2019 mendatang kedua pasang kontestan memiliki peserta dengan latar belakang ekonomi.

Kubu petahana diwakili Ketua Umum Majelis Ulama (MUI) nonaktif Ma'ruf Amin yang lekat dengan ilmu ekonomi syariah. Sementara di kubu oposisi, ada Sandi yang dikenal ulung dalam dunia bisnis dan investasi.

Sementara itu tantangan dari tim kampanye Jokowi-Ma'ruf kepada Sandiaga setelah pendamping Prabowo Mereka mempersoalkan pernyataan kubu oposisi yang kerap menuding perekonomian Indonesia kian terpuruk. (CNNIndonesia)