Mata Uang Terkuat di Dunia Ternyata Dinar Kuwait, Apa Penyebabnya? Bagaimana dengan Indonesia?


[PORTAL-ISLAM.ID] Ternyata bukan dolar atau euro atau poundsterling, melainkan Dinar Kuwait lah (kode: KWD) yang menjadi mata uang terkuat di dunia.

Saat ini [09/09/2018], nilai tukar 1 Dinar Kuwait:
= 2,56 Poundsterling
= 2,85 Euro
= US$ 3,3
= Rp 48.927

Besar banget kan? Punya 1 dinar aja bisa dapat uang hampir Rp 50 ribuan. Gimana punya satu juta Dinar Kuwait? Bisa kaya mendadak nih.

Mata uang dari Kuwait ini dinobatkan sebagai mata uang paling mahal nomor satu di dunia. Soalnya posisi Kuwait sebagai negara pengekspor minyak terbesar, secara langsung berpengaruh terhadap mata uangnya.

Kekayaan Kuwait yang bertambah karena hasil jual minyak turut meningkatkan nilai dari dinar. Gimana gak kaya? Persentase ekspor minyak negara timur tengah ini mencapai 94 persen. Makanya gak usah heran kalau mata uang ini jadi begitu berharga.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia Dahulu Produsen Minyak Bumi, Kini Importir

Lain dahulu lain sekarang, mungkin ungkapan itu pas untuk melukiskan kondisi industri minyak dan gas (migas) Indonesia.

Kalau dahulu pada era Orde Baru berkuasa, negeri ini terkenal sebagai produsen dan eksportir utama minyak di dunia, maka sekarang malah sebaliknya. Saat ini, Indonesia bukan lagi negara pengekspor minyak, melainkan importir minyak.

Ya, pada masa Soeharto berkuasa negeri ini memang masuk dalam jajaran negara penghasil minyak terbesar di dunia. Data BP World Statistic pada 2012 mencatat kalau produksi minyak bumi Indonesia pernah mencapai 1,65 juta barrel per hari pada 1977.

Capaian itu, membuat republik ini masuk dalam jajaran 11 negara produsen minyak terbesar di dunia. Saat itu, Indonesia sebagai anggota organisasi negara-negara pengekspor minyak ( OPEC) pun memiliki pengaruh yang lumayan besar.

Dari segi pendapatan negara, industri migas nasional kala itu juga memberikan sumbangan yang besar kepada penerimaan nasional. Hasil riset Reforminer Institute menyatakan, pada medio 1970-1990 sektor migas memberikan sumbangan 62,88 persen terhadap penerimaan negara. Nilai ekspor migas Indonesia pun mencapai 20,66 miliar dollar AS.

Namun kini, kenyataan berkata lain. Republik ini malah harus mengimpor minyak bumi untuk menyokong kebutuhan energi. Hal tersebut, dilakukan karena Indonesia sudah tak mampu lagi memenuhi kebutuhan minyak nasional.

Data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) 2016 menyebut bahwa produksi minyak bumi Indonesia hanya 831.000 barrel per hari. Angka itu, jauh dari kebutuhan nasional yang mencapai 1,6 juta barrel per hari.

Alhasil, untuk menutupi defisit tersebut, negeri ini mau tak mau harus mengimpor minyak bumi.

Ref:
- https://naijaquest.com/highest-currency-in-the-world-strongest/
https://www.boombastis.com/fakta-dinar-kuwait/87483
- https://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/03/130700626/indonesia-dahulu-produsen-minyak-bumi-kini-importir-kenapa