Jokowi Targetkan Swasembada Kedelai 2017, Namun yang Terjadi Justru Impor Kedelai Makin Tinggi


Presiden Jokowi menargetkan swasembada kedelai terjadi pada 2017. Namun yang terjadi justru impor kedelai makin tinggi.

“Saya sampaikan berkali-kali bahwa dalam 3 tahun saya targetkan kepada Menteri Pertanian untuk bisa swasembada, tiga tahun tidak boleh lebih. Dimulai dengan beras, kemudian nanti jagung, gula, kedelai, terus daging, semuanya.”

Obral janji dari Presiden Joko Widodo itu disampaikan saat Pembukaan Munas HIPMI XV 2015, di Bandung, pada 12 Januari 2015. Tiga tahun berlalu, tanda-tanda swasembada masih belum terlihat. Justru impor yang malah meningkat.

Salah satu komoditas pangan yang terus meningkat di antaranya adalah kedelai. Dari berbagai sudut sumber data perdagangan, Indonesia memang masih bermasalah soal impor kedelai.

Misalnya bila mengutip data dari Comtrade, volume impor bahan baku tahu dan tempe Indonesia mencapai 2,53 juta ton pada 2017, naik 42 persen dari 2013 sebanyak 1,78 juta ton. Kebutuhan impor kedelai tersebut membuat dolar yang digelontorkan juga meningkat. Pada 2013, nilai impor kedelai tercatat US$1,1 miliar. Angka itu kemudian naik 16 persen pada 2017, yakni sebesar US$1,28 miliar.

Tahun ini, impor kedelai masih akan terjadi, bahkan akan lebih tinggi. Tanda-tanda impor kedelai meningkat terlihat saat United States Department Agriculture (USDA) merilis ekspor kedelai AS ke Indonesia pada 16 Agustus 2018.

Berdasarkan data USDA, ekspor kedelai AS ke Indonesia dari awal tahun hingga 23 Agustus 2018 mencapai 2,38 juta ton. Jumlah tersebut naik 4,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2017 sebanyak 2,27 juta ton. “Produksi dalam negeri jalannya statis, sementara kebutuhan terus naik. Makanya, kebutuhan impor juga naik. Jadi, enggak aneh,” kata Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin kepada Tirto.

Aip tidak meleset, produksi kedelai lokal selalu di bawah 1 juta ton per tahun. Berdasarkan catatan BPS, volume produksi kedelai di Indonesia pada 2014 tercatat 954.997 ton. Setahun kemudian, volumenya naik tapi tidak signifikan, hanya 963.183 ton. Pada 2016, produksi malah menurun ke angka 890.000 ton, dan menurun lagi pada 2017 menjadi 786.142 ton. Bisa dibilang, swasembada kedelai masih jauh panggang dari api.

Target swasembada memang jadi mainan saat kampanye atau program-program populis pemerintah. Namun, merealisasikannya ternyata bukan hal yang mudah. Tanpa hitung-hitungan yang matang, program swasembada kedelai ini bisa jadi hanya akan jadi bahan kampanye basi dari tahun ke tahun.

***

[29 September 2014]
Jokowi Janji Bawa RI Swasembada Pangan dalam 3 Tahun
https://www.liputan6.com/bisnis/read/2111527/jokowi-janji-bawa-ri-swasembada-pangan-dalam-3-tahun

Jokowi: Tiga Tahun Belum Swasembada, Saya Ganti Menteri Pertanian
https://ekonomi.kompas.com/read/2014/12/10/121200526/Jokowi.Tiga.Tahun.Belum.Swasembada.Saya.Ganti.Menteri.Pertanian

[2018]
Impor Kedelai Hingga April 2018 Capai 531.000 Ton
https://industri.kontan.co.id/news/impor-kedelai-hingga-april-capai-531000-ton