"Amerika dan Barat membantu Israel dengan dana dan persenjataan, sementara Negara Arab membantu Palestina dengan kecaman dan update status”

Oleh: Saief Alemdar

Melihat dukungan luar biasa negara Barat terhadap Israel dalam perang antara Israel-Hamas sepekan terakhir, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh lobi zionis internasional dalam pemerintahan negara-negara Barat itu.  

Menlu Jerman Annalena Baerbock datang ke Tel Aviv untuk mengatakan, “These days we are all Israelis” (“Saat ini kita semua adalah orang Israel”).

Sementara Menlu AS Antony John Blinken datang ke Tel Aviv dan mengatakan kepada Netanyahu, “If you'll permit me a personal aside, I come before you not only as the United States Secretary of State, but also as a Jew.” (“Jika Anda mengizinkan saya berbicara secara pribadi, saya hadir di hadapan Anda tidak hanya sebagai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, tetapi juga sebagai seorang Yahudi.”).

Zelenskyy, Biden, Emmanuel Macron, Rishi Sunak, Graham, Trump semuanya berpacu dalam pernyataan-pernyataan dukungannya terhadap zionis Israel.

Mereka melupakan semua latar belakang konflik yang sudah berlangsung selama 75 tahun, dan menutup mata atas semua resolusi PBB terkait konflik ini, sejak tahun 1948, dan mereka langsung melompat ke kejadian hari Sabtu tanggal 7 Oktober 2023 saat serangan mengejutkan Hamas, seakan-akan konflik itu baru dimulai. 

Tingkah para penguasa Barat tampak seperti Bos Geng, bukan pejabat negara, dalam menyikapi peristiwa tersebut, sampai menginjak-injak semua nilai kebebasan dan hak asasi manusia yang selama ini mereka junjung dan dengungkan selama beberapa dekade setelah Perang Dunia II. 

Padahal merekalah yang mewujudkan nilai-nilai itu dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pada tahun 1948, Deklarasi Hak Asasi Manusia Teheran pada tahun 1968, dan Deklarasi Hak Asasi Manusia Wina pada tahun 1993.

Mereka melupakan Konvensi Jenewa 4 (tahun 1949) yang mereka susun sendiri mengenai perlakuan terhadap warga sipil di bawah okupasi (pendudukan), yang menetapkan tanggung jawab dan tugas otoritas okupasi untuk melindungi warga sipil dari kejahatan, penyiksaan, kebrutalan, dan diskriminasi berdasarkan ras, kebangsaan, atau Agama, atau pendapat politik. 

Satu tahun sebelum perjanjian-perjanjian ini dibuat pada tahun 1949, Negara Israel didirikan pada tahun 1948, dan sejak hari itu Israel mulai dan terus melanggar segala sesuatu yang terkandung dalam Konvensi Jenewa 4, tentunya dengan dukungan dari Barat.

Jangan lupa Resolusi Majelis Umum PBB No. 3379 pada bulan November 1975, yang menganggap Zionisme sebagai bentuk rasisme dan diskriminasi rasial. Meskipun kemudian pada tahun 1991 Majelis Umum PBB menganulir resolusi ini, dan menggantinya dengan Resolusi 8646. Namun hal ini tidak mengubah apa pun mengenai realitas masalah sifat Zionisme, karena tetap saja didominasi oleh rasisme.

Dulu Negara-negara Barat mendukung rezim apartheid di Afrika Selatan, dan pejuang kemerdekaan Afsel saat itu Nelson Mandela yang memberontak terhadap kebijakan apartheid, dipenjara selama 27 tahun dengan tuduhan “teroris” di mata kaum rasis. Suatu hari hati nurani Barat terbangun dan mereka meminta otoritas rasis Afrika Selatan untuk membebaskannya, karena Mandela bukanlah seorang teroris, melainkan seorang pejuang kemerdekaan. 

Kapankah hati nurani mereka terhenyuh kembali untuk menilai bahwa Hamas dan para pejuang Palestina bukanlah kelompok teroris, tetapi hanya orang-orang yang ingin hidup merdeka dan memiliki hak asasi sepenuhnya…

Semua nilai yang terkandung dalam konvensi dan instrumen Hak Asasi Manusia, yang diciptakan oleh Barat sendiri, kini telah diinjak sendiri oleh Barat. 

Dimana hak atas kebebasan berekspresi, ketika mengibarkan bendera Palestina di sebagian besar negara-negara Barat dilarang? atau untuk mengadakan demonstrasi yang mengecam kejahatan Israel di Gaza pun dilarang?

Sementara itu, bendera Israel dikibarkan di menara Eiffel di Paris, di gerbang Brandenburg di Berlin, dan di Downing Street di London... dll.

Rusia dan Tiongkok mengomentari konflik ini dengan alasan dan logika, dan mereka tentu saja mengikuti apa yang terjadi di arena Palestina dan di Gaza karena memiliki kepentingan. Mereka tidak mungkin membiarkan Barat keluar sebagai pemenang dalam perang ini, karena jika Barat menang dalam perang ini, hal ini akan berdampak negatif bagi Rusia dan Tiongkok. 

Kalau mereka menang di Gaza, kita akan mendengar pidato di Barat yang mengatakan, “Kita harus menang di Ukraina seperti kita menang di Gaza... dan kita harus menang di Taiwan seperti kita menang di Gaza... “

Sementara negara-negara Arab (termasuk Presiden Palestina) dan negara Islam, seperti kata Edi Kohen, jurnalis Israel, “Amerika dan Barat membantu Israel dengan dana dan persenjataan, sementara Negara Arab membantu Palestina dengan kecaman dan update status.”

(*)
Baca juga :