"Tuhan bukan orang Arab"

Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Negara

Beberapa waktu lalu, ada yang bilang, "Tuhan bukan orang Arab", yang kemudian menuai protes dari banyak orang. Lalu ada orang sok bijak yang mengatakan, pernyataan itu tidak salah, memang benar Tuhan kita itu bukan orang Arab, bahkan Dia bukan orang (manusia).

Saya akan buat contoh kalimat lain, yang tampaknya tidak salah, tapi kalau kita pakai sedikit saja akal kita, kita akan tahu bahwa kalimat itu sangat bermasalah.

Contoh kalimat 1: "Kita tidak menyembah Muhammad, yang kita sembah adalah Allah."

Kalau yang mengatakan ini adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, untuk menenangkan para shahabat ridhwanullahi 'alaihim ajma'in saat wafatnya Nabi, itu tidak masalah. Karena kita tahu betul, siapa itu Abu Bakar, apa kedudukan beliau di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wa aalihi wa sallam, dan kita juga sangat paham konteks pernyataan beliau.

Tapi bayangkan kalau pernyataan itu diucapkan oleh kelompok inkarus sunnah, atau kalangan liberal yang mencoba mendesakralisasi ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi. Tentu kita paham, ucapannya itu bukan bertujuan menegakkan tauhid, tapi untuk memisahkan antara ajaran Islam yang dibawa Muhammad, dan ketuhanan itu sendiri.

Contoh kalimat 2: "Jangan jadikan agama sebagai Tuhan!"

Kalau kita baca sekilas, kalimat ini tampak benar. Agama memang bukan Tuhan. Tapi kalau kita mau pakai akal kita, kita paham bahwa kalimat ini ditujukan untuk desakralisasi agama dan menolak "truth claim" (klaim kebenaran) agama tertentu, dan biasanya di negeri ini ditujukan pada Islam.

Jangan jadikan agama sebagai Tuhan, artinya, jangan meyakini kebenaran ajaran agama sebagaimana anda meyakini Tuhan. Pernyataan ini sangat problematik, dan menyiratkan agama itu buatan manusia. Padahal dalam ajaran Islam, jelas Islam itu agama yang diturunkan oleh Allah untuk menjadi panduan hidup kita. Jadi dalam Islam, meyakini Allah ta'ala sebagai Tuhan kita, berkonsekuensi wajibnya kita mengikuti ajaran yang dibawa oleh utusan-Nya. Tidak ada pemisahan antara keyakinan terhadap Tuhan dengan wajibnya kita mengikuti ajaran agama.

Jadi kembali lagi, ucapan "Tuhan bukan orang Arab", kalau diucapkan oleh orang yang teridentifikasi tidak menyenangi hal-hal berbau Arab (baca: Islam), maka ucapan ini sangat bermasalah. Mungkin yang diinginkan, kita memodifikasi agama kita agar sesuai dengan kenusantaraan, jilbab diganti kemben, adzan diganti kidung, dan shalat diganti dengan semedi.

(*)
Baca juga :