ULAMA YANG DIJULUKI SI TULI

ULAMA YANG DIJULUKI SI TULI

Oleh: Ahmad Syahrin Thoriq 

Sosok yang kita bicarakan ini adalah ulama generasi tabi’ut tabi’in yang begitu banyak dinukil nasehat-nasehat indah nan menggugah darinya. Hampir bisa dipastikan, jika kita membaca kumpulan nasehat dari para ulama, selalu ada “quote” terselip yang merupakan untaian nasehatnya. Karena itulah kemudian ulama ini digelari:

‌لقمان ‌هذه ‌الأمة

“Lukmanul Hakimnya umat ini...”[1]

Beliau adalah Abu Abdurrahman Hatim ibn Alwan bin Yusuf rahimahullah, namun lebih dikenal dengan sebutan Imam Hatim al Asham yang artinya Hatim si tuli

Mengapa beliau sampai dilabeli dengan sebutan tuli? Apakah memang pendengaran beliau terganggu sehingga dijuluki seperti itu? Kan tidak sopan menyebut orang tuli meskipun ia tuli beneran apalagi seorang ulama?

Tidak, julukan itu tidak ada kaitannya dengan fungsi pendengaran beliau, sang imam memiliki pendengaran yang normal bahkan cenderung tajam, adapun julukan tuli ini ada kisah yang melatar belakangi.

Dikisahkan bahwa pernah ada seorang wanita datang kepada beliau untuk bertanya tentang sebuah hukum. Namun pada saat wanita tersebut tengah mengutarakan pertanyaan kepada Imam Hatim, entah karena sedang tidak enak perut, tiba-tiba wanita ini kentut.

Bisa kita bayangkan bagaimana rasa malu yang begitu hebat membebani wanita ini. Seketika ia terdiam tidak bisa meneruskan kata-katanya. Sejenak suasana hening. Tiba-tiba Imam Hatim berkata, “Bicaralah aku tidak mendengar ucapanmu.”

Wanita ini berbicara dengan nada gamang karena beban malu yang ia tanggung. Namun baru beberapa kalimat, Imam Hatim kembali menyela, “angkat suaramu (lebih keras) aku tidak bisa mendengar ucapanmu.”

Dan uniknya, ketika wanita ini mulai mengeraskan suara. Lagi-lagi Imam Hatim menyela agar menambah lagi volume suaranya. Ini terjadi berkali-kali, hingga wanita tersebut mengira bahwa Imam Hatim ini pendengarannya bermasalah (tuli). 

Perasaan si wanita ini pun berangsur-angsur membaik dan ia bersyukur karena Imam Hatim ternyata tidak mendengar suara saat ia kentut. Terbukti suara yang lebih keras saja, ia masih meminta untuk dikeraskan lagi.

Singkat cerita, setelah lewat cara berbicara yang setengah teriak-teriak, akhirnya wanita tersebut bisa keluar dari rumah Imam Hatim dengan membawa jawaban fatwa atas persoalannya. Wanita ini dengan pedenya pergi dan mengira bahwa bunyi kentutnya memang tidak didengar oleh Imam Hatim.

Padahal tentu saja Imam Hatim mendengarnya. Bahkan bisa jadi juga mencium baunya. Tapi beliau memilih berlagak tuli demi untuk tidak membuat malu seorang wanita tersebut. 

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa hampir lima belas tahun lamanya beliau menutup rapat-rapat masalah itu hingga wanita itu meninggal.[2]

Subhanallah. Bandingkan dengan perilaku kita, yang kadang gemar mengendus-endus aib seorang muslim yang tersembunyi lalu menyebarkannya dengan perasaan bangga. Innalillah...

Disebutkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal termasuk yang sangat mengagumi Imam Hatim al Asham. Suatu hari datang kepada sang imam lalu bertanya: "Ajarkan kepadaku, bagaimana caranya anda terbebas dari manusia?”

Imam Hatim menjawab:

أن تعطيهم مالك، ولا تأخذ من مالهم، وتقضي حقوقهم، ولا تستقضي أحدا حقك، وتحتمل مكروههم، ولا تكرههم على شيء، وليتك تسلم

"Caranya berikanlah mereka harta milikmu, dan jangan sekali-kali mengharap harta mereka. Tunaikanlah hak-hak mereka, dan jangan engkau menuntut hakmu dari mereka. 

Hadapi gangguan mereka dengan sabar, sebaliknya jangan pernah menyakiti mereka. Setelahnya baru engkau dapat berharap bisa selamat dari manusia.”[3]

Diantara nasehat emas beliau adalah:

أربعة لا يعرف قدرها إلا أربعة: قدر الشباب لا يعرفه إلا الشيوخ، وقدر العافية لا يعرفه إلا أهل البلاء، وقدر الصحة لا يعرفه إلا المرضى، وقدر الحياة لا يعرفه إلا الموتى

“Ada empat  hal yang tidak diketahui hakikat besarnya nilainya kecuali oleh empat pihak: Masa muda, tidak diketahui nilainya kecuali oleh orang yang sudah tua. Keselamatan, tidak diketahui nilainya kecuali oleh orang yang tertimpa musibah. Kesehatan, tidak diketahui nilainya kecuali oleh orang yang sedang sakit. Kehidupan, tidak diketahui nilainya kecuali orang yang sudah mati.”[4]

مصيبة الدين أعظم من مصيبة الدنيا ولقد ماتت لي ابنة فعزاني أكثر من عشرة آلاف وفاتتني صلاة الجماعة فلم يعزني أحد

“Musibah yang menimpa agama itu lebih besar dari pada musibah yang menimpa dunia seseorang. Ketika aku kehilangan putriku, yang menta’ziahiku lebih dari 10.000 orang, namun anehnya ketika aku kehilangan jama’ah shalat shubuh tidak ada satupun yang menta’ziahiku.” [5]

تعاهد نفسك في ثلاث مواضع، إذا عملت فاذكر نظر الله تعالى عليك، وإذا تكلمت فانظر سمع الله منك، وإذا سكت فانظر علم الله فيك

“Komitmenlah kepada dirimu dalam tiga keadaan: Jika engkau berbuat sesuatu, ingatlah bahwa Allah melihatmu. Jika engkau berbicara Allah mendengarmu. Dan ketika engkau diam Allah mengetahui apa yang ada pada dirimu.” [6]

Beliau juga berkata: “Siapa yang mengambil rezeki yang halal dari dunia, maka Allah akan menghisabnya. Dan siapa yang mengambil rezeki yang haram maka Allah akan mengadzabnya. Dunia ini halalnya hisab (perhitungan), haramnya azab (Siksa)."

____
[1] Wafayatul A’yan (2/28)
[2] Siyar A’lam Nubala (11/486- 487)
[3] Tarikh al Baghdadi (9/149)
[4] Tanbighul Ghafilin hal. 39
[5] Mufid al Ulul hal.390
[6] Hilyatul Auliya (8/75)