PDIP Diprediksi Single Fighter, Usung Trah Soekarno di Pilpres 2024

[PORTAL-ISLAM.ID] PDIP berpotensi besar sebagai koalisi tunggal di Pilpres 2024. Pasalnya, partai besutan Megawati ini menjadi satu-satunya partai yang dapat mengusung bakal capres tanpa berkoalisi dengan partai lain.

Analis politik dan Direktur Eksekutif Indonesia Political Power Ikhwan Arif mengatakan, PDIP punya dua nominasi kandidat capres di 2024, berdasarkan hitung-hitungan presidential threshold. PDIP bisa saja nunjuk Puan atau Ganjar tanpa berkoalisi dengan partai politik lain.

“Tapi dalam tradisi Pilpres gabungan partai politik sangat dibutuhkan untuk menambah kekuatan politik dalam merebut suara pemilih," ujar Ikhwan, Senin (2/1/2022).

Menurutnya PDIP akan kewalahan jika mengusung capres dan cawapres sendiri, namun PDIP mempunyai infrastruktur politik yang kuat, berdasarkan pada hasil pemilu sebelumnya PDIP berhasil menjalankan mesin partai sehingga memperoleh kemenangan berturut-turut. Inilah potensi besar PDIP akan membentuk koalisi tunggal.

"Berkaca pada pemilu sebelumnya PDIP berhasil memperoleh kursi terbanyak di tingkat legislatif dan juga eksekutif. Tidak menutup kemungkinan PDIP percaya diri di Pilpres 2024 dengan mengusung kandidatnya sendiri " tutur ikhwan.

Dikatakannya, beberapa waktu lalu PDIP sempat melakukan silaturahmi politik dengan mengunjungi beberapa petinggi partai politik yaitu Ketua Umum partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Ketua Umum partai NasDem Surya Paloh. Alhasil pertemuan tersebut tidak menunjukkan titik temu pembentukan koalisi.

"Penjajakan politik yang dibungkus dengan silaturahmi politik sebenarnya PDIP ingin menawarkan berkoalisi dengan partai politik manapun apalagi yang diutus Puan Maharani sebagai salah satu kandidat untuk maju sebagai Capres dari internal PDIP. Penjajakan politik itu sekaligus branding politik nama Puan Maharani sebagai capres terkuat PDIP" ungkap Ikhwan.

Puan Bakal Diusung PDIP

Lebih lanjut dia mengatakan, Puan Maharani lebih berpeluang besar mendapatkan tiket capres dibandingkan Ganjar Pranowo, hal itu terbukti ketika Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengutus Puan Maharani dalam penjajakan politik beberapa waktu lalu.

Secara garis keturunan atau trah Soekarno, daya tawar Puan memang lebih besar, kedekatannya dengan Megawati sebagai Ketua Umum menjadi faktor utama peluang tiket capres lebih besar. Apalagi saat ini Puan menduduki jabatan kursi ketua DPR RI, sehingga tidak menutup kemungkinan langkah Ganjar semakin sempit.

“Ganjar Pranowo bisa saja merebut tiket capres PDIP, karena sampai hari ini Ganjar menunjukkan sikap disiplin dalam menunggu instruksi pilihan Ketua Umumnya meskipun desakan maju sebagai capres dari relawan politiknya sangat kuat," ujarnya.

Ia juga menuturkan tidak menutup kemungkinan keduanya mewakili suara partai PDIP untuk maju sebagai capres atau cawapres.

Sikap politik Ganjar ini dinilai mampu mempengaruhi arah pilihan petinggi PDIP dalam menentukan siapa yang benar-benar layak mewakili suara partai .

"Pilihan alternatif bagi PDIP bisa saja mengusung keduanya sebagai capres atau cawapres, ini semakin memperkuat potensi besar PDIP sebagai koalisi tunggal nantinya," ujarnya.

Hingga hari ini ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri belum menyatakan secara resmi berkoalisi dengan partai politik pilihan PDIP.

"Menurut saya yang ditunggu saat ini adalah pernyataan resmi Ketua Umum PDIP yang akan mempengaruhi peta koalisi Pilpres 2024, terutama arah koalisi partai politik yang masih tergabung dalam pemerintahan Presiden Jokowi," terangnya.

Menurutnya, jika yang dipilih Puan sebagai capres, dia yakin Ganjar akan jadi rebutan partai politik lain, karena memiliki elektabilitas yang cukup tinggi dalam bursa capres. Besar kemungkinan KIB akan menjadi sekoci alternatif bagi Ganjar, apalagi nama Ganjar sering disebut sebagai salah satu capres pilihan partai pengusung KIB.

”Jadi potensi besarnya akan muncul roadmap koalisi pilpres di 2024 yaitu KIB (PAN, Golkar, PPP), kemudian Koalisi Indonesia Raya (Gerindra dan PKB), Koalisi Perubahan (Nasdem, Demokrat dan PKS) kemudian PDIP sebagai koalisi tunggal,” pungkasnya.