Sorotan Media Internasional akan Potensi Gagalnya Proyek Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia

Sorotan Media Internasional akan Potensi Gagalnya Rencana Ibu Kota Negara Baru Indonesia

Oleh: Adi Ketu

Media internsional seperti Bloomberg, StraitTimes Financial Post juga media tetangga Malaysia The Star ikut menyoroti langkah proyek Ibu kota Negara Indonesia yang dianggap terlalu ambisius dan berpotensi besar berantakan .

Menurutku, bila hanya media lokal yang menyoroti betapa tidak memungkinkan mewujudkan ambisi membuat ibu kota baru Indonesia saat ini, betapa kuatnya ambisi itu, mungkin masih bisa dianggap sepele. Atau dianggap sebagai media oposisi.

Namun bila kemudian media international ikut menyoroti langkah besar Indonesia ini, menjadi beda ceritanya

Mengapa penting memperhitungkan pendapat media internasional apapun arah politik medianya?

Karena yang membaca tentu saja bukan warga lokal semata, tetapi warga dunia.

Termasuk di dalamnya para investor seluruh dunia yang diharapkan akan mendukung terwujudnya poyek ini.

Apakah kemudian pendapat kritis media akan mempengaruhi keyakinan investor? Pasti.

Bahkan langkah mundur yang diambil para pendukung peminat awal proyek IKN seperti pendiri SoftBank Group Corp. Masayoshi Son, bersama dengan Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed Bin Zayed Al Nahyan dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair,
menjadi pertimbangan dan kalkulasi tersendiri bagi investor selanjutnya.

Nah kira kira, bila pebisnis yang telah disebutkan diatas mundur bersikap hati hati, tentu menjadi pertanyaan tersendiri adakah hal yang salah dari proyek ambisius ini? layakkah berpatisipasi dalam proyek ibukota baru Indonesia?

Begitulah sebaiknya kita menduga alam pikiran yang terbentuk, betapapun kuatnya promosi yang dilakukan Indonesia.

Investor bukanlah lembaga sosial.

Mereka diundang datang dan berpartisipasi tentu berharap keuntungan secara cepat dan berkesinambungan.

Namun demikian bahkan dengan telah diobralnya berbagai kemudahan termasuk pajak yang ditawarkan agar berlangsungnya proyek IKN, namun faktanya masih kurang peminat serius.

Demikian pula walau sejumlah perusahaan di negara-negara termasuk China, Korea Selatan, Malaysia, dan Uni Emirat Arab telah menandatangani letter of intent, namun, dokumen tersebut tidak mengikat dan perusahaan masih bisa mundur.

Maka pertanyaannya adalah:

Bersediakah investor mengambil keuntungan dengan menanamkan modalnya di proyek IKN dalam jangka pendek ?

Bila pun keuntungan hanya bisa diraih dalam jangka panjang maka apakah keuntungan jangka panjang itu jauh lebih besar dan berlipat tinimbang menanamkan di bidang dan tempat lain yang lebih cepat asset turn over atau asset conversion cycle nya?

Yang pasti walau tahapan konstruksi berjalan lancar pun, pembangunan sebuah ibu kota negara baru tentu membutuhkan waktu puluhan tahun untuk menemukan pijakan sempurnanya sebagai wajah sebuah ibu kota.

Belum lagi masalah merelokasi orang yang membutuhkan fasilitas publik, pekerjaan, sekolah dan kesehatan yang layak.

Bersediakah investor menaggung resiko “uang mati” selama dan sebesar itu?

Sebagai orang bisnis biasanya akan berpikir sederhana tentang untung rugi real, bukan hanya di atas kertas.

Namun siapa yang berani menjamin bila terjadi perubahan politik, ekonomi dan sosial dalam negeri selanjutnya hingga berdampak kerugian dari sisi bisnis?

Beda lagi bila agendanya adalah diluar bisnis tapi agenda yang lebih mendasar penguasaan geo-ekonomi wilayah.

(Maka itu tak heran ada usulan perubahan tanah di IKN diharap berstatus hak milik yang boleh dimiliki investor)

Akhirnya, sudah saatnya menurutku dilakukan review pemikiran secara arif dan lebih rasional menyikapi hal ini.

Walau seharusnya itupun sudah dipikirkan oleh para pemangku negeri dengan hati hati sebelum memutuskan sesuatu.

Akhirnya aku hanya berharap semoga warga Indonesia tidak makin terbawa arus jurang kerugian yang makin dalam akibat ambisi .

Jangan sampai jadi turis dan numpang di wilayahnya sendiri hanya kaena ambisi hawa nafsu yang kelewat batas.

Bahkan Sang Maha pun telah memperingatkan bila menuhankan hawa nafsu maka manusia akan makin tesesat.

Akan kah kemudian langkah ini tetap diteruskan dan abaikan semua peringatan?

Entah..

Menuruku mundur dan batalkan poyek IKN dengan pertimbangan masuk akal bukan langkah buruk, tetapi sebenanya langkah perwira..eling lan waspodo

Salam.