Cinta Nabi Isa pada Umatnya "Bukan Cinta Manusia Biasa"

"Bukan Cinta Manusia Biasa"

Oleh: Yusuf Maulana

Lagu "Bukan Cinta Manusia Biasa" yang dirilis pada 2009 ini terbilang mahakarya secara musikalitas. Di sisi lirik, yang dibuat Ahmad Dhani ini juga mengundang pelbagai tafsiran.

Sama seperti lagu "Satu", banyak yang menilai sufisme memengaruhi proses penciptaan lirik "Bukan Cinta Manusia Biasa". Sebuah cinta dari Sang Nabi, Rasulullah Muhammad, kepada umatnya. Begitu beberapa penikmat Dewa 19 menafsirkan.

Ya, banyak yang membuat tafsiran seperti itu kendatipun video klip resminya seakan-akan berbicara soal hubungan sepasang kekasih, lelaki dan perempuan.

Ahmad Dhani sendiri dalam sebuah perbincangan bersama Hanin Dhiya, yang melantunkan peremajaan lagu ini dalam versi orkestrasi dengan dominan instrumen string, menyebut makna liriknya seumpana relasi orangtua dan anaknya.

Saya pribadi memilih tafsiran semiotik lagu ini sebagai penghayatan atas tarikh Nabi Isa yang diemohi kaumnya, Yahudi, juga pemeluk risalah yang dibawanya, di tengah politik teologi Romawi. Ini tentang cinta tak biasa seorang manusia istimewa yang dipersekusi kaumnya, manusia biasa yang harusnya menaatinya. Tapi, ia, Nabi Isa, senantiasa memaafkan walau sudah dirundung dan dipersekusi secara biadab.

Sembari memandangi buku Mustafa Akyol (buat menemani koleksi yang ada karya Tarif Khalidi, "The Muslim Jesus"), menyimak lagu Dhani ini seperti mengingat derita Nabi Isa ketika dijauhi umatnya:

Ku tetap mencintaimu masih
Meski kau tak cinta aku

Ku tetap merindukan
Meski kau tak pernah merasa
Sedikit pun untuk merindukan aku

Cintaku ini bukan cinta milik manusia biasa
Cintaku ini cinta sejati yang paling sejati

Ku tetap memaafkan salahmu
Meski kau terus sakiti
Ku tetap menerima
Seribu kata maaf
Yang selalu kau ucapkan
Dari bibirmu yang manis

***

(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada orang-orang, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?’” Dia (Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa pun yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa pun yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa pun yang ada pada diri-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”

Aku tidak (pernah) mengatakan kepada mereka kecuali sesuatu yang Engkau perintahkan kepadaku, (yaitu) “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Engkau Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.

Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

[QS Al-Maidah: 116-118]