Cerita Babe Ridwan Saidi: DIBURU MOSSAD

[PORTAL-ISLAM.ID] Kabar duka datang dari Babe Ridwan Saidi. Budayawan Betawi sekaligus penulis ini meninggal dunia pada hari Ahad, 25 Desember 2022, di usianya yang menginjak 80 tahun. 

Sepanjang hidupnya Ridwan Saidi menelurkan berbagai karya buku, salah satunya buku berjudul DIBURU MOSSAD.

Almarhum merupakan penulis yang produktif dan berhasil menerbitkan berbagai karya di media-media massa yang hingga kini masih terkenang di hati para penggemarnya.

Ridwan Saidi merupakan sosok penggemar seni sastra dan musik. Almarhum berasal dari keluarga yang terbilang sederhana.

Ridwan Saidi lahir di Jakarta pada 2 Juli 1942. Almarhum lahir dari pasangan Abdurrahim dan Muhaya. Pada tahun 1962-1963, Ridwan Saidi pernah menempuh jenjang perkuliahan di Fakultas Publistik, Universitas Padjadjaran.

Sayangnya, pada 1963-1972, almarhum tidak menyelesaikan jenjang pendidikannya di Fakultas Publistik tersebut dan memilih pindah untuk menuntut ilmu di Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan yang sekarang dikenal dengan nama FISIP di Universitas Indonesia.

Semasa masih menjadi mahasiswa, Ridwan Saidi aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. 

Pada 1973-1975, Ridwan Saidi menjadi Sekretaris Jendral Persatuan Mahasiswa Islam Se-Asia Tenggara. Almarhum juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum PB HMI pada 1974-1976. 

Ridwan Saidi lantas berlanjut untuk terjun ke dalam kelompok partai dan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan pada 1977-1982 dan periode 1982-1987.

Setelah masa jabatannya di DPR berakhir, dalam rentang 1995 hingga 2003, Ridwan lantas menjabat sebagai Ketua Umum Partai Masyumi Baru.

Ridwan Saidi juga pernah aktif dalam kegiatan Muktamar Rakyat Islam se-Dunia di Irak pada 1993. Rasanya Ridwan Saidi tak ada habisnya aktif dalam berbagai kegiatan.

Bahkan almarhum juga pernah aktif dalam Festival Budaya Babylonian atau Babylonian Cultural Festival di Irak pada pada 1994.

Sementara pada 2003, Ridwan Saidi kemudian menjadi Ketua Steering Committee Kongres Kebudayaan. Ia pun pernah menjadi Ketua Komite Waspada Komunisme dan menjadi ketua sekaligus pendiri Yayasan Renaissance pada 2013. 

Ridwan Saidi aktif dalam kegiatan tulis-menulis. Almarhum lantas menerbitkan beberapa karya cetaknya dalam bidang politik dan kebudayaan. 

Beberapa karya di antaranya yang masih terkenang ialah:

1. Anak Betawi Diburu Intel Yahudi yang diterbitkan pada tahun 1996 - Cetakan baru buku ini berganti judul jadi "DIBURU MOSSAD".
2. Aku HMI: Narasi Ridwan Saidi, yang diterbitkan pada Yayasan Renaissance tahun 2015
3. Khazanah Tatar Sunda: Tinjauan Historis yang diterbitkan oleh CV. Trinanda pada tahun 2016
4. Si Manalagi: Narasi Epos Betawi yang diterbitkan oleh Yayasan Renaissance pada tahun 2016
5. Sejarah Tangerang Selatan yang diterbitkan oleh Yayasan Renaissance pada tahun 2016
6. Kampungku Kemayoran yang diterbitkan oleh Yayasan Renaissance pada tahun 2017. (*)

DIBURU MOSSAD

Buku ini pertama terbit pada tahun 1996 dengan judul "Anak Betawi Diburu Intel Yahudi".

Buku setebal 410 halaman ini adalah buku fiksi. Berkisah tentang petualangan si Doel, seorang anak Betawi remaja mesjid Jakarta yang diburu intel Yahudi lantaran mendapatkan dokumen top secret agen rahasia Israel dan romantika percintaanya dengan gadis Belanda, yang berlatar sosial-politik tanah air dan kaitannya dengna perkembangan internasioanal sejak 1948-1978. 

Dalam buku ini, ramuan pengetahuan historis serta gaya narasi sastra yang khas dan kaya humor mampu menghadirkan dunia Betawi dengan segala kekhasannya dan nafas Islam yang kental dengan tradisinya.