Gibran Seperti Mengikuti Jejak Anies

Gibran Seperti Mengikuti Jejak Anies

Oleh: Ady Amar

Kesantunan berpolitik, itu Anies Baswedan. Soal itu tidak bisa dipungkiri, jika mau melihatnya dengan fair. Anies menjadikan semua yang ditemui, siapa pun itu, dengan sikap santun selayaknya. Sekalipun pada orang yang akrab menyerangnya, sikap Anies tetap tak berubah.

Jika ditanya pada Anies–ingin suatu saat jika bertemu dengannya bertanya, siapa dan apa sih sebenarnya definisi musuh buat seorang Anies Baswedan–kok Anies memandang biasa saja, bahkan pada orang yang bertubi-tubi menyerangnya sekalipun.

Musuh terbesar manusia, itu memang ada pada diri sendiri, kata Sang Bijak. Jika mampu menaklukannya–lebih pada ego–semua terasa lebih mudah dikendalikan. Terutama pengendalian emosi. Soal ini Anies lulus. Jika jumpa nanti tetap ingin bertanya, apa sih makna “musuh” bagi seorang Anies Baswedan itu.

Pengendalian emosi akan melahirkan ragam sikap kebaikan, dan itu berproses, tidak instan. Tidak ujug-ujug. Semua ditempa dalam berbagai aktivitas yang dilalui–lebih bersifat empiris. Tapi faktor genetik tak terlepas ikut mewarnai pribadinya, dan itu personal.

Karenanya yang muncul paduan sifat yang terejawantah dalam laku-sikap yang terbentuk oleh faktor genetika dan empiris, menyatu dalam diri seorang Anies Baswedan.

Sikap santun pada siapa saja yang ditemui, sambil acap menebar senyum, menjadi ciri khasnya. Menjadi mencari kekurangannya sulit ditemukan, meski sebagai manusia Anies pastilah punya kekurangan, tapi dalam pergaulan dengan ragam khalayak Anies mampu bersikap santun selayaknya.

Tapi dalam tugas-tugas selaku Gubernur DKI Jakarta–Anies menyudahi purna tugas selaku gubernur pada 16 Oktober 2022–sikapnya tegas tapi terukur. Tidak ada kompromi bagi staf yang berbuat kesalahan. Tentu tiap kesalahan punya kosekuensinya masing-masing. Soal itu Anies tidak mentolerir. Semua pekerjaan dikerjakan lewat perencanaan yang matang. Hasilnya bisa dilihat, bagaimana perubahan Jakarta di tangan Gubernur Anies.

Gibran yang Santun

Hari Selasa (15 November) Anies berada di kota Solo untuk menghadiri Haul Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi. Maka, Anies perlu menyapa tuan rumah Mas Gibran Rakabuming Raka, Walikota Solo yang putra sulung Presiden Joko Widodo. Maka, Gibran pun menyambutnya dengan mendatangi Anies di hotel tempat ia menginap, sambil sarapan bersama. Dan bersama-sama pula dalam satu mobil menghadiri acara haul itu.

Pagi itu Anies menunggu kedatangan Gibran di teras hotel. Keduanya bersalaman dan nyaris Gibran mencium tangan Anies, jika tidak saja Anies menariknya, sambil Anies ikut membungkuk menirukan gaya Gibran. Sungguh pemandangan yang elok dipandang. Yang satu tidak merasa anak presiden, sedang yang satunya tidak merasa lebih senior dan digadang-gadang sebagai calon presiden.

Keduanya menampilkan sikap santun selayaknya. Semua dibuat menjadi tidak berjarak. Gibran mampu memerankan sikap tanpa sekat memandang latar belakang perbedaan politik yang ada. Gibran seperti ingin keluar dari bayang-bayang sang ayah. Mencoba mandiri dalam sikap politik.

Setidaknya itu kesan yang muncul saat ia tak segan “mencium” tangan seniornya, yang memang dalam beberapa kesempatan ia sampaikan, bahwa Anies itu role model pejabat yang berhasil.

Sikap Gibran yang mendatangi Anies buat jengah beberapa politisi senior, yang memang asyik terjebak dalam polarisasi politik kawan dan lawan. Dengan menyebut, bahwa pertemuan itu menguntungkan Anies dalam mencari dukungan. Bahkan keterlaluan mengumbar pikiran busuk, menyebut bahwa itu cara Anies memecah belah PDI-P. Absurd.

Gibran menunjukkan sikap elegan sebagai politisi mudah yang tak terjebak pada politisi senior, yang terbiasa berpolitik tanpa kesantunan. Gibran seperti tidak takut cibiran, bahkan teguran yang bisa jadi akan diterimanya. Gibran sadar betul akan pilihan sikapnya, yang untuk ukuran sekelasnya boleh jika mau disebut out of the box. Kasat mata Gibran lebih menampakkan sikap  mandiri dalam berpolitik, bahkan jika dibandingkan sang ayah, Joko Widodo.

Gibran sepertinya belajar banyak dari siapa saja termasuk dari Anies Baswedan, yang memang diidolakannya. Anies bisa jadi mentor yang baik untuknya. Cukup belajar dari jejak digital yang ditinggalkan, bagaimana Anies mampu berselancar menghadapi bertubi persoalan menghadang, yang tetap bersandar pada politik kesantunan.

[Sumber: KBA]