Menguak Lezatnya Uang dari Bisnis Sepak Bola

FIFA merekomendasikan supaya Liga 1 tidak dilangsungkan pada malam hari demi alasan keamanan. Menteri BUMN Erick Thohir langsung berkomentar: "Televisi akan teriak-teriak".

Maksudnya: keberatan!

100 lebih nyawa orang hilang, makam mereka masih basah, dan kita masih 'peduli' rating iklan televisi? Katanya sepakbola tak seharga nyawa?

ET memang businessman 'sejati'. Dalam keadaan apapun, ada saja peluangnya untuk ambil panggung.

Namun, kita tak boleh terkecoh dan mesti fokus terus pada kemanusiaan. Ada baiknya dalam waktu dekat Komnas HAM segera menetapkan peristiwa Kanjuruhan sebagai setidak-tidaknya pelanggaran HAM (human rights abuse atau human rights violation) sesuai UU 39/1999 tentang HAM.

Pelanggaran HAM adalah “setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang ini, dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku."

Tak peduli apapun yang terjadi, nomor satu adalah "hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa..." adalah hak asasi manusia yang tidak boleh dikurangi dalam keadaan apapun atau oleh siapapun.

Demikian kata aturan internasional dan UU HAM. Ini bukan soal tangga yang curam atau pendapatan iklan dari tayangan sepakbola semata.

Kekhawatiran ET malah menunjukkan wajah dunia sepakbola nasional yang lebih lebar. Kita bisa bertanya, apa semangat dasar sepakbola sebagai sebuah olahraga? Bagaimana ia bisa bertransformasi menjadi ladang bisnis yang menghasilkan keuntungan bagi pribadi dan/atau korporasi? Apakah nyawa orang harus dipertaruhkan untuk melestarikan kejayaan sepakbola dan bisnisnya?

Sebagai pebisnis media, ET pasti tahu lezatnya kue sepakbola di negara, yang disebut oleh Majalah Time baru-baru ini, sebagai negara di mana fans sepakbolanya didominasi kalangan tidak terdidik dan miskin yang menjadikan sepakbola sebagai pelarian sulitnya kondisi hidup.

Peristiwa Kanjuruhan pun disebut oleh majalah itu sebagai hasil dari kebodohan kolektif (collective stupidity).

Apalagi ET pernah menjadi Presiden Direktur VIVA Group dan memiliki saham di ANTV, yang dulu menayangkan Liga Indonesia. Ia salah satu pendiri PT Trinugraha Thohir Media Partner yang mengempit 0,79% saham VIVA sampai sekarang.

Jumlahnya terlihat kecil tapi dilansir sejumlah media, pengendali VIVA sesungguhnya adalah perusahaan itu, yang pada 2011 menandatangani perjanjian mandatory exchangble bond.

Kita musti realistis. Sering dibilang sepakbola adalah hiburan rakyat dan penggerak ekonomi. Namun kita harus tahu yang disebut menggerakkan ekonomi itu apa, duitnya berapa, siapa yang dapat paling banyak.

Sepakbola kerap dibilang adalah wajah nasionalisme tapi seberdaulat apapun Indonesia sebagai negara, tetap saja FIFA, PSSI, dan PT Liga Indonesia Baru yang berkuasa menjalankan bak negara dalam negara.

PT LIB adalah kelanjutan dari PT Liga Indonesia yang adalah kelanjutan dari Badan Liga Indonesia. Ia adalah entitas privat yang tak bisa ditembus UU Keterbukaan Informasi Publik jika kita ingin mengakses informasi detail tentang laporan keuangannya.

Yang berkuasa 99% adalah klub-klub yang menjadi pemegang sahamnya dan 1% PSSI. Klub-klub dikuasai segelintir pengusaha dan penguasa yang itu-itu saja, termasuk ET, si pemilik Persis Solo bersama anak Presiden.

Liga 1 musim ini disponsori BRI, bank BUMN yang secara struktural berada di bawah Kementerian BUMN besutan ET. Nilainya diberitakan Rp100-Rp150 miliar.

Secara keseluruhan, Tabloid Kontan edisi pekan ini menghitung nilai ekonomi kompetisi sebesar Rp1,35 triliun. Terdiri dari tiket, transportasi, makan minum, merchandise, iklan kompetisi, iklan televisi, dan sponsor klub.

Anda tahu sendiri grup-grup besar berbisnis sepakbola dalam maupun luar negeri. EMTEK Group pemilik PSIM Yogyakarta (49%) sekaligus klub Italia Lecce (10%). Grup Djarum punya Como 1907 dan mensponsori Garuda Select. ET dan Anindya Bakrie punya Oxford United. Santini Groupnya Sofyan Wanandi punya Tranmere Rovers, dan sebagainya.

Saya dan tim pernah mengulas pada 2015 mengenai lezatnya bisnis sepakbola, yang waktu itu amat kental sentuhan Nirwan Bakrie-nya. Bisa Anda simak di tautan berikut: https://www.gresnews.com/berita/politik/445135-rups-pt-liga-indonesia-menguak-lezatnya-uang-dari-lapangan-hijau

Sepakbola memang olahraga rakyat tapi industrinya adalah milik oligarki tertentu yang berputar-putar antara pejabat FIFA, PSSI, korporasi operator liga, dan media pemegang hak siar. 

Oligarki itu mengakar sangat kuat bertahun-tahun lamanya bahkan kerap bersinggungan dengan isu dan kasus hukum seperti korupsi.

Itulah mengapa pada 2013 lahir CONIFA, federasi independen negara non-FIFA. Anggotanya ada 61, termasuk FC West Papua, Ughyur, Tamil Ealam, Cascadia, Kiribati. Negara-negaranya terdengar asing tapi coba saja Timnas lawan mereka juga belum tentu menang.

ET sebaiknya stop bicara rating televisi saat ini. Indonesia masih berduka. Lebih mending dia fokus pencapresan karena masih banyak politisi yang mengincar back-up finansial dari dia dan kakaknya untuk logistik pemilu.

Ketimbang bikin geram masyarakat yang sedang murka karena hak hidup dan hak untuk tidak disiksanya dikoyak-koyak di stadion sepakbola.

Salam.

(Agustinus Edy Kristianto)