TRAGEDI GONTOR

GONTOR

Oleh: Donny Syofyan

Kasus kematian santri di pesantren Gontor patut disesalkan. Apa pun motifnya dan siapa pelakunya harus diusut tuntas. Bila memang ada unsur kekerasan maka tragedi ini menjadi momen untuk mereformasi pola-pola pembinaan dan pengaderan. 

Hari ini lembaga pendidikan (apalagi pesantren) tidak bisa lagi berjabat tangan dengan kekerasan, tidak transparan, dan mencemplungkan diri dalam relasi senior-junior atas nama ketegasan. 

Dalam banyak hal kekerasan dan ketegasan sudah bersenyawa, saling beririsan dan sukar dibeda-pisahkan. Kita sadar perundungan (bully) mewujud sebagai bola salju yang hari demi hari menjadi gemuk di banyak lembaga pendidikan.  

Namun demikian kita sadar pesantren Gontor bukanlah sebuah ‘new brand’ (baru kemarin sore -red). Para alumninya adalah nama-nama besar dengan kontribusi dahsyat di bidang sejarah, kepemimpinan, politik, sastra, seni, filsafat, pendidikan dan sebagainya di Tanah Air. Mereka adalah ‘men for all seasons’ sehingga nama besar Gontor ini harus tetap dipertahankan. Terlepas dari aksi kelam yang telah berlaku, hal yang perlu tetap dikawal adalah jangan sampai proses-proses intelektualisasi redup di pesantren ini. Apatah lagi gendang untuk mendelegitimasi Gontor secara khusus maupun pesantren secara umum kian kencang ditabuh.

Zaman keemasan Islam membuktikan bahwa huru-hara politik kekuasaan tidak menghentikan proses-proses intelektual dan tradisi ilmiah. Meskipun dinasti Abbasiyah mengalami apa yang disebut ‘Anarki di Samara’ (فوضى سامراء/fawdhâ sâmarâ’)—periode instabilitas internal yang ekstrem dari 861 hingga 870— proses intelektualisasi terus bergulir. 

Karena pendidikan dan seni telah menjadi kerangka Islam, banyak penguasa dinasti di berbagai kawasan kekhalifahan memberikan perlindungan bagi para ilmuwan dan ulama. Intelektual-intelektual brilian lahir di seantero kekhalifahan Islam. Sebut saja Al Farabi, yang memberikan sumbangan besar dalam bidang fisika, kimia, matematika dan psikologi. Ia juga mumpuni dalam filsafat, etika dan musik. Atas penguasaan keilmuannya yang menyeluruh, Al Farabi diberi gelar Guru Kedua (Second Master) setelah Aristoteles. Tokoh lain yang menikmati patronase adalah adalah Ibnu Haitsam, yang banyak menulis tentang matematika, fisika, astronomi, optik dan persepsi visual. Ia mewariskan kepada kita apa yang disebut metode saintifik modern, lima abad mendahului para sarjana Renaisans di Eropa. 

Meskipun saat itu doktrin keagamaan resmi mengikuti Ahmad Ibnu Hanbal yang lebih ortodoks sebab ia menjegal dominasi Mu`tazilah pasca wafatnya Al Ma’mun, poros pengkritik penafsiran literal al-Qur’an tetap berkembang. Salah satunya adalah Al Biruni. Gagasannya yang mengalkulasikan bahwa bulan mengitari matahari dan matahari bergerak di porosnya menunjukkan pentingnya mempertanyakan apa pun, mulai dari filsafat hingga keagamaan. Pandangan ini sebagai pukulan bagi  kredo Ibnu Hanbal bahwa memahami al Qur’an cukup secara literal, artinya menutup pintu penafsiran. Pandangan rasional ini juga diadopsi oleh Al Razi, yang gagasannya memberikan pengaruh besar bagi Leonardo Da Vinci. Ia menyatakan Islam tanpa rasionalitas tidak punya nilai sama sekali. 

Pemimpin datang-pergi dan mood penguasa bisa saja berubah dalam sepersekian detik (in a split second), tapi kerja-kerja amal dan keilmuan yang telah dan tengah dilakoni oleh pesantren Gontor jangan sampai terhenti, esok dan lusa. 

Happy Friday akhi dan ukhti.

(fb)