Rocky Gerung menunjukkan kelasnya dalam diskusi "Politik Identitas"

Politik Identitas

Diskusi kemarin (Sabtu, 24/9/2022) tentang politik identitas di hotel Alia sangat menarik. 

Rocky Gerung menunjukkan kelasnya dalam diskusi buku ini.

Ia menyatakan bahwa identitas itu sudah inheren dalam bangsa Indonesia. Bangsa ini dibentuk dari identitas yang berbeda beda sehingga butuh persatuan.

Mereka yang mengharamkan politik identitas, menurut Rocky, adalah mereka yang menghalangi politik Muslim. Itu tujuannya.

Mereka takut atau fobia terhadap muslim yang memegang kekuasaan politik. Padahal negeri ini dimerdekakan dan dibentuk oleh mayoritas tokoh Islam.

Presiden Jokowi yang melarang identitas ini menurut Rocky 'bodoh'. Itu karena Jokowi dikelilingi orang orang dungu.

Dalam diskusi itu juga mengemuka bahwa politik identitas itu dipakai kaum non Muslim di Indonesia. Seperti Ahok yang dalam pemilihan gubernur 2017 banyak didukung oleh kaum non Islam dan Cina. Sedangkan Anies banyak didukung kaum Muslim.

Politik identitas juga terjadi di Jerman misalnya. Disana yang berhasil menang justru partai Kristen Demokrat.
 
Di Amerika beberapa tahun lalu juga ramai dibicarakan tentang bolehkah muslim menjadi presiden Amerika. Kelompok republik menyatakan tidak boleh. Sedangkan Demokrat menyatakan boleh.
Identitas justru harus dibicarakan dalam forum terbuka, sehingga dapat dimusyawarahkan bersama.

Nampaknya saya harus membaca bukunya agar tulisan tentang politik identitas lebih menarik. Buku yang dihadiahi dari mas Andi ini harus dibaca segera. Mudah mudahan beberapa hari ini bisa.