Pedesss Bangettt Omongannya Om Wawat Ini....

Dagangan kita RUGI, itu wajar karena SAINGANNYA BUANYAK. PLN PERTAMINA yang dimonopoli aja BISA RUGI TERUS...

PLN itu didirikan sebagai strategi Konstitusi dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sesuai Pembukaan UUD 1945.

Tegasnya PLN didirikan guna menjabarkan pasal 33 ayat (2) UUD 1945 ASELI di Sektor Ketenagalistrikan! 

Makanya Perusahaan-Perusahaan Belanda seperti NV Ogem, Aniem, Gebeo, Ebalom, NIGMN dll itu di-Nasionalisasi menjadi Jawatan Gas dan Listrik Negara pada 27 Oktober 1945, yang selanjutnya menjadi PLN!

Ketika berdiri PLN, biaya operasi kelistrikan tetap tinggi. Tetapi untuk menutup kekurangan biaya operasi tersebut, pengguna diminta membayar kekurangannya dengan istilah IURAN LISTRIK. 

Maka jaman dulu orang membayar listrik ke PLN itu dengan istilah MEMBAYAR IURAN LISTRIK! Bukan membayar listrik, dimana RAKYAT disebut PELANGGAN (masa Negara BERDAGANG ke RAKYATNYA?), kemudian ada istilah SUBSIDI dari Pemerintah. 

Istilah SUBSIDI baru muncul setelah ada infiltrasi Ideologi Kapitalis/Liberal (seperti John Perkins) yang menggiring PLN yang semula ber "Ideologi" Infrastruktur, kemudian "merangkak" secara Ideologis menjadi BPU PLN - PERUM PLN - PT. PLN (PERSERO) yang bukan Infrastruktur lagi tetapi menjadi alat Kapitalis (yang saat ini bekerja sama dengan NEOKOLIM Gaya Baru).

Mafia Listrik itu kemudian membentuk Oligarki "Peng Peng" seperti JK, Luhut BP, Dahlan Iskan, Erick Tohir! Dan saat ini mereka bersama Asing telah kuasai 85% asset PLN, dan sebentar lagi akan hapus subsidi listrik (seperti maunya LOI 31 Oktober 1997).

Sebenarnya skenario "Perampokan" PLN dan Liberalisasi Kelistrikan ini sudah dimulai seperempat abad yang lalu!

Dan baru berhasil pada era Rezim "Bego" nan KORUP ini!

Saat ini Menteri BUMN sedang membentuk Holding-Subholding PLN (yang sebenarnya merupakan konsep Bank Dunia (WB), ADB, dan IMF pada 1998 berupa "The Power Sector Restructuring Program" sebagai follow up dari LOI 31 Oktober 1997).

Apapun alasannya, Rezim ini sebelumnya telah gembar gembor dengan jargon NAWA CITA!

Pertanyaannya inikah praktek NAWA CITA itu??

Bulshit !!!

(Wawat Kurniawan)

*fb penulis