Ahli Fisika Setuju dengan Mulan Jameela: Kompor Listrik Tidak Cocok Untuk Masakan Indonesia, Pemerintah Bikin Kebijakan Asal Jebret

Dikutip dari Twit @nurfiadi1:

Sebagai lulusan Fisika, gua menilai pendapat Mulan Jameela ini ada benarnya. 

Seseorang itu akan mengerti how things work (bagaimana hal-hal bekerja) tidak harus kuliah Fisika dulu. Ibu rumah tangga paling sering berkaitan dgn Fisika dalam pekerjaannya sehari-hari. 

Orang luar negeri kebanyakan pake kompor induksi ya karena jenis makanannya yang simple dan proses memasaknya sebentar. 

Hal itu agak sulit diterapkan ke masakan Indonesia yg kebanyakan proses masaknya lama. 

Pemerataan panas pada kompor induksi ga cocok dengan masakan Indonesia. Malah akan lebih boros energi listrik.

Pemerintah bikin kebijakan tapi ga dipikiran dari sisi fisisnya. Main asal jebret suruh gonta-ganti aja. 

Inilah bahayanya kalo di pemerintahan minim orang sains. Sains di Indonesia juga semakin ke sini semakin diperlemah. Akan bobrok suatu negara tanpa ketahanan sains.

(Sumber: Twit)

***

Mulan Jameela Kritik Kompor Induksi: Nggak Cocok buat Masakan Indonesia! Saya Sudah Coba Sendiri

JAKARTA - Mulan Jameela meminta konversi kompor LPG dengan kompor induksi dikaji lebih dalam oleh pemerintah. Anggota Komisi VII itu menyatakan kompor induksi belum tentu cocok digunakan di Indonesia.

Menurut pengalamannya, kompor induksi tak cocok digunakan untuk memasak masakan lokal Indonesia. Bahkan, Mulan mengaku di rumahnya sudah punya kompor listrik tapi masih juga menggunakan kompor gas. Pasalnya, lebih cocok memasak pakai kompor gas menurutnya.

"Ini saya jujur ya, kapasitas saya sebagai anggota dewan dan sebagai emak-emak. Kami di rumah aja punya kompor listrik tetap tak bisa lepas dari yang gas, karena masakan Indonesia ya beda bukan masakan orang bule yang pancinya ya seukuran gitu aja," ungkap Mulan dalam rapat kerja Komisi VII dengan Ditjen ILMATE Kemenperin, Rabu (21/9/2022).

Maka dari itu, dia meminta program konversi kompor induksi ini jangan buru-buru dilakukan. 

Jangan sampai program yang niatnya baik untuk menekan impor LPG malah menimbulkan masalah baru.

Mulan juga menyoroti soal listrik yang akan digunakan, dia khawatir penggunaan kompor listrik membuat tagihan listrik masyarakat membludak.

"Masyarakat yang kekurangan daya listriknya kan 450 VA, ini kebutuhannya 1.200-1.800 watt, gede sekali," kata istri Ahmad Dhani ini.

Lebih lanjut program ini rencananya akan dilakukan dengan skala nasional, padahal menurutnya masih banyak daerah yang listriknya belum tersambung. Ada juga daerah yang listriknya byarpet.

Dia mengaku punya rumah di Cisarua, dan di sana aliran listriknya tidak stabil. Ketika mencoba menggunakan kompor induksi, katanya malah tidak kuat. Karena listrik yang tidak stabil, akhirnya kompor induksinya itu rusak.

"Jadi saya juga ada pengalaman ini saya punya rumah di Cisarua. Saya punya kompor listrik di sana, karena listrik nggak stabil kayak di kota itu kompornya rusak. Padahal, nggak diapa-apain cuma karena listrik nggak stabil," cerita Mulan.

Masalah lain yang bisa muncul adalah mahalnya harga kompor induksi. Meskipun wacananya pemerintah mau memberikan seperangkat kompor secara cuma-cuma, Mulan pun tetap khawatir masyarakat akan kesulitan membeli wajan dan panci yang mahal harganya.

"Tadi disampaikan kompor induksi ini harganya aja Rp 1,5 juta. Oke gratis. Apakah sudah termasuk wajan dan panci? Apa tersedia dalam berbagai ukuran? Belum lagi masalahnya kan wajan dan pancinya mahal-mahal," ungkap Mulan.

Mulan menyarankan ada baiknya konversi kompor induksi ini jangan diarahkan ke masyarakat kurang mampu seperti yang direncanakan pemerintah. Baiknya, kompor induksi diarahkan konversinya di tengah-tengah masyarakat yang mampu.

"Misalnya nih kompor induksi ini diwajibkan untuk masyarakat yang memang mampu, ya mungkin bisa. Mereka sudah memang membutuhkan. Jadi bukan mereka masyarakat yang kekurangan, karena mereka secara daya listrik juga tak mampu," kata Mulan.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Rida Mulyana menjelaskan penyaluran kompor induksi akan dilakukan untuk keluarga penerima paket kompor listrik ini yang terdaftar di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Rencana itu akan diberikan bertahap pada tahun ini.

Paket kompor induksi itu terdiri dari satu kompor, satu alat masak, dan satu Miniature Circuit Breaker (MCB) atau jalur daya khusus untuk kompor induksi secara gratis.

"Rencananya tahun ini 300 ribu (penerima). Jadi satu rumah itu dikasih satu paket, kompornya sendiri, alat masaknya sendiri, dayanya dinaikin," ujar dia saat ditemui di Gedung DPR RI, Selasa (20/9/2022).

[Sumber: Detikcom]