Islamisasi Jawa vs Desa-Desa Kristen di Jawa

Desa-Desa Kristen di Jawa

Oleh: Arif Wibowo

Proses dakwah di Jawa adalah sebuah sejarah panjang, penuh tantangan dan bertahap. 

Dalam pandangan Zamakhsyari Dhofier, setidaknya ada dua tahap Islamisasi Jawa, yakni tahap pengislaman raga, dimana orang Jawa yang penting masuk Islam karena sudah tidak nyaman dengan sistem keagamaan lama, dan tahap pemantapan, dimana orang Islam Jawa mulai serius belajar dan menjalankan agama Islam. 

Gelombang pertama selesai pada abad 16. Gelombang kedua, fase pemantapan dilaksanakan dengan baik pada masa kesultanan Demak, Pajang dan Mataram era Sultan Agung. 

Meskipun akhirnya fase pemantapan terhambat oleh kolonialisme dan tunduknya para penguasa Jawa kepada Belanda, akan tetapi penetrasi Islam sudah dalam dan membentuk apa yang disebut sebagai sintesis mistik Islam-Jawa. Ritus Islam bukan hanya ada pada ritus pribadi tapi juga ritus komunal, ritus bersama yang diikuti semua penduduk desa. 

Salah satu ritus yang bertahan sampai sekarang adalah ritus tahlilan kematian dan selamatan

Pada ritus-ritus tersebut do’a hanya bisa dilakukan oleh kaum santri dengan do’a berbahsa Arab. Sehingga ritus tersebut menjadi ritus pemersatu semua elemen masyarakat baik priyayi maupun abangan dengan kaum santri. Masyarakat yang tidak mau mengikuti acara tahlilan dan selamatan akan mengalami pengucilan.

Tradisi tahlilan dan selamatan inilah yang menjadi jaring pengaman akidah bagi masyarakat Jawa sehingga mereka tetap terjaga keislamannya. Tidak ikut yasinan dan selamatan, berarti menolak menjadi warga kampung. Oleh karena itu, kalau ada masyarakat Jawa yang murtad, masuk agama Kristen, disebut wong Jawa ilang Jawane (orang Jawa yang kehilangan kejawaannya), atau Jawa wurung Landa durung (Gagal menjadi Jawa tapi juga belum diterima sebagai Belanda). 

Untuk menghadapi kenyataan ini, para missionaris Belanda membangun desa-desa Kristen untuk menampung orang kristen pribumi yang tidak nyaman tinggal di desa-desa muslim. 

Hal ini tertuang dalam surat J. Verhoeven (J. Verhoeven adalah misionaris yang menginjil di Majalengka di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20), kepada Nederlandsche Zendings Vereeniging, 15 Desember 1884, hal. 50.

“Dengan memperhatikan pengalaman banyak teman, dan karena banyak bergaul di desa-desa kaum muslimin di daerah pedalaman, saya yakin bahwa untuk sementara waktu, tidak mungkin mengharapkan kaum penganut Kristus  dapat tinggal sedesa bersama kaum penganut Muhammad. Belum lama berselang telah dikemukakan suatu contoh yang membuktikan bahwa susunan pemerintah desa serta keseluruhan tatanan hidup peerekonomian dalam suatu desa Muslim, merupakan suatu benteng pertahanan yang kokoh, yang sementara waktu tak tertaklukkan, melawan penyebaran agama Kristen. Olehnya juga ditimbulkan keadaan yang menyebabkan setiap individu yang telah masuk Kristen hamper tidak mungkin tetap setia dan mencapai pertumbuhan rohani yang membuat kita dapat menyaksikan kehidupan jemaat yang sehat dan kuat.”

*Nederlandsche Zendings Vereeniging atau Serikat Misonaris Negeri Belanda adalah suatu organisasi yang berkarya dalam bidang pengabaran Injil dan penyebar agama Kristen, berpusat dahulu di kota pelabuhan Rotterdam, Belanda.

Dalam pandangan sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara, pembentukan desa-desa Kristen itu bukan semata-mata untuk menjaga keselamatan “keyakinan dan ritus” para penganut Kristen saja, tapi desa-desa Kristen itu juga dipergunakan untuk memutus jalur komunikasi antar wilayah yang mempunyai potensi perlawanan Islam.

Di Jawa Tengah, dipilih Kota Ungaran, Salatiga dan Magelang guna membelah wilayah dakwah ulama di Kota Semarang dan sekitarnya, yang merupakan pusat kota Wali Sanga di Jawa Tengah dengan Surakarta dan Yogyakarta.

Di Jawa Timur, dipilih Mojoagung, Jombang dan Mojokerto guna membelah kontak umat Islam Surabaya dan Gresik, pusat kota Wali Jawa Timur dengan Jombang dan Kediri. Kemudian untuk kota sayap luarnya, dipilih Malang untuk memutuskan hubungan Kediri dengan Jember dan Banyuwangi.

Di Jawa Barat, dipilih Majalengka untuk memutuskan kontak umat Islam Cirebon, pusat kota Wali Jawa Barat dengan Bandung. Kemudian Ciranjang, Cianjur dijadikan wilayah untuk memutuskan wilayah Jawa Barat dengan Banten.”

Demikian ungkap sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara.

(fb)