Bergembira di Atas "Musibah" ACT

Bahkan beberapa punggawa filantropi juga ngeshare ngeshare "musibah ACT" dengan bangganya... dan membandingkan dengan filanfropinya yang hebat dan lain sebagainya....

Padahal gelombang ini kalo diterusin bisa membunuh banyak entitas fund raising yang masih tumbuh... masjid-masjid yang baru menumbuhkan Baitul Maal.. baru rapat mau buat gerakan fund raise.. akan ketakutan dan memilih diam gak ambil resiko...

Kembali ke teman teman filantropi sosial dakwah... mari satu saf.. jangan salah pilih musuh...

Tegakkan integritas yes..
Usut penyelewangan yes..

Menjelekkan entitas lain.. lalu menaikkan diri sendiri... nampak bukan adab yang baik....

(Ustadz Rendy Saputra)

***

Seorang tokoh intelektual sebuah ormas besar mengusulkan ke pemerintah agar dana yang dihimpun ACT diserahkan ke Kementerian Agama. 

Tokoh ini lupa, baik kelompok ormasnya ataupun Kementerian Agama punya rekam jejak tak elok dalam soal tata kelola amanah. 

Sekelompok pencinta dakwah sunnah mendapat tambahan "dalil" dari kasus ACT bahwa berdonasi yang tepat adalah dengan sesama entitas sunnah, entah berupa lembaga atau pribadi alim kelompok "sunnah".

Kelompok penggaung sunnah itu lupa, cara mengelola kelompoknya juga tak steril dari peluang penyelewengan. Harus dibedakan personal dan lembaga yang khianati amanah umat. 

Dua sampel suara umat menimbang nestapa dan dukacita saudara seimannya  yang tengah dirundung itu malah memperlihatkan: kita belum satu saf. Bahkan saat ada yang batal kentut, kita justru senang tertawa dia tak ikut shalat berjamaah. Lebih suka mengusirnya dari barisan saf ketimbang menegur untuk segera berwudhu lagi dan masuk saf. 

(Yusuf Maulana)