39.577 Komunitas Missionaris Mengepung Jawa

Oleh: Widi Astuti

Saya adalah pendatang di Salatiga. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika akhirnya akan menetap disini. Tidak pernah terbetik sekalipun dalam pikiran jika harus tinggal di kota unik ini. Karena Salatiga itu memang lain daripada yang lain. Identik sebagai kota non muslim.

Perjalanan pertama kali menuju Salatiga sudah membuatku kaget. Saat itu aku lewat Kopeng, sepanjang perjalanan yang terlihat adalah rumah ibadah non muslim.

Beda sekali dengan pemandangan di kampung halamanku yaitu Gombong. Di kampung halamanku, dan juga mayoritas Pulau Jawa, pemandangan musholla ataupun masjid di sepanjang jalan itu biasa. Jarang sekali terlihat rumah ibadah non Muslim. Beda ceritanya dengan Salatiga.

Pemandangan unik ini membuatku penasaran dan membuka literature. Kenapa sih Salatiga beda dengan yang lainnya? Sejarahnya seperti apa sih, kok bisa beda sendiri? Dan aku pun menemukan jawabannya di beberapa buku sejarah.

Semuanya berawal dari masa penjajahan kolonial Belanda. Saat itu tahun 1816. Raja William I dari Belanda mengeluarkan dekrit yang menyatukan bahwa para missionaris akan diutus ke Indonesia oleh pemerintah. Dan memberikan sejumlah fasilitas kepada para missionaris, termasuk subsidi dan sumbangan financial serta keringanan pajak.
Upaya penyebaran agama Kristen di Jawa awalnya dilakukan oleh perseorangan. Pulau Jawa menjadi tujuan utama karena disinilah pusat aktifitas ekonomi.

Salatiga juga menjadi salah satu tujuan. Karena disini banyak warga Belanda yang mengelola perkebunan. Bisa dikatakan saat itu Salatiga menjadi kota favorite warga kulit putih. Iklimnya yang sejuk serta lokasinya yang strategist menjadikan Salatiga sebagai primadona. Tercatat nama Nyonya Oostrom Philips dan Nyonya Le Jolle aktif melakukan Kristenisasi di Salatiga.

Di tahun 1850 sistem tanam paksa baru saja usai. Pemerintah Belanda menikmati keuntungan yang sangat besar dari culturstelsel ini. Di era ini juga terjadi kebangkitan relijius dan misioner di Belanda. Efek ini menular ke daerah jajahan termasuk ke Hindia Belanda. Banyak missionaris Eropa berdatangan ke Hindia Belanda, termasuk ke Salatiga.

Era tanam paksa berlalu, berganti dengan era liberalisasi ekonomi. Banyak sekali kaum swasta Belanda berdatangan ke negri jajahan. Mereka mengelola aneka perkebunan. Disamping motif ekonomi, mereka juga mengemban misi agama.

Saat itu Kota Salatiga sudah dikenal oleh warga Belanda. Banyak warga Belanda yang berbondong-bondong datang kesini. Reputasi sebagai kota sejuk, cantik, dan strategist menjadikan kota ini sebagai kota favorite area Jateng. Perkebunan yang subur di lereng Merbabu menghasilkan pundi-pundi emas bagi warga kulit putih.

Dengan banyaknya warga kulit putih disini, maka dibangunlah sekolah dan gereja cukup banyak. Kaum missionaris juga aktif membimbing jemaat kulit putih. Termasuk mengajak warga pribumi. Saat itu warga pribumi yang beragama Kristen mendapat hak istimewa.

Sierk Coolsma dalam bukunya Dezendingseeuwvoor Nederland she Post Indie menyebutkan bahwa Abad 19 adalah Era Misi (Age of Missions). Pada Abad 19 terjadi perkembangan Kristen yang sangat pesat di Indonesia.

Pada tahun 1920-an Pulau Jawa yang mayoritas muslim mirip sarang lebah missionaris yang sibuk. Jawa menampung enam wilayah misi Katholik yang kurang lebih sama luasnya. Misi itu terbagi antara Jesuit di Semarang dan Batavia. Kemudian Rahib bertongkat di Bandung. Missionaris Hati Kudus di Purworejo. Lasarus di Surabaya. Carmel di Malang.

Pada saat yang sama, daerah zending Protestant Belanda terbagi antara Menon, Calvin Orthodox, misi Reformis-Belanda. Serta organisasi lokal semi merdeka seperti yang ada di Salatiga. Kesemua organisasi missionaris itu didukung oleh pemerintah Belanda. Secara keseluruhan tercatat ada 39.577 komunitas missionaris serta mengelola 210 sekolahan dan 38 rumah Sakit. 

(fb penulis 16/7/2022)