Si Liberal Udik Kena Semprot Geisz Chalifah, Akibat Komen Dulu Dongok Kemudian

[PORTAL-ISLAM.ID]  Politikus PSI Guntur Romli makin ngelantur saja ocehannya. Dia menuding pergantian nama-nama jalan di Jakarta dengan nama-nama Tokoh Betawi sebagai politisasi isu SARA.

Tokoh Liberal ini mengatakan harusnya Jakarta mencerminkan Kebhinnekaan, karena sebagai Ibu Kota, jangan diidentikkan dengan satu suku saja.

"Perubahan nama2 jalan hanya dr tokoh-tokoh Betawi, bagi saya semakin meneguhkan Anies sbg Bapak Politik Identitas. Ini politisasi isu SARA di balik perubahan nama jalan. Harusnya Jakarta mencerminkan kebhinnekaan, ini ibu kota, jgn diidentikkan dgn satu suku saja," kicau si Guntur Romli @GunRomli.

Guntur Romli entah dia tinggal di mana, sampai tidak tahu (baca: bodoh) betapa nama-nama Tokoh Nasional dari berbagai daerah dan suku menjadi nama-nama jalan di Ibu Kota.

Bahkan sebelum memberi nama-nama Tokoh Betawi, Anies Baswedan memberikan nama jalan dengan nama pahlawan nasional dari Aceh Laksamana Malahayati.

"Si Liberal Udik mengatakan: Perubahan nama2 Jalan dgn nama Tokoh Betawi sebagai Politik Identitas (Sara). Menurutnya Anies harus memberi nama2 jalan jgn hanya tokoh Betawi krn JKT adalah Ibukota. Kaum Otak Dikit mmg selalunya Koment Dulu Dongo Kemudian," ujar Geisz Chalifah @GeiszChalifah.

Netizen menimpali si Romli itu sesekali diajak jalan-jalan ke daerah Menteng.

Di Menteng ada jalan Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Prof Moh.Yamin, Sutan Syahrir, Diponegoro, Imam Bonjol, dll. 

Kemajemukan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika sudah ada dari jaman dulu di Ibu Kota Jakarta.