SANG IMAM YANG PENUH COBAAN

SANG IMAM YANG PENUH COBAAN

Konon, ia menghafal 1.000.000 (1 juta) hadits.
Abu Zur’ah yang mengatakan hal itu. 
Ia pun ditanya: “Bagaimana engkau mengetahui hal itu?”
“Aku pernah mengulangi hafalan itu dengannya…”

Imam Abu Dawud, sang penyusun kitab “Sunan Abi Dawud” yang tersohor itu
menuturkan tentangnya: 
“Bermajlis dengannya adalah bermajlis akhirat.
Ia tak pernah bertutur tentang dunia. 
Bahkan aku tak pernah melihatnya menyinggung dunia sedikitpun.”

Ketika berguru pada ‘Abdurazzaq al-Shan’any di Yaman,
Ia kehabisan bekal, hingga menyewakan dirinya menjadi kuli panggul di Shan’a.
Beberapa kawannya menawarkan bantuan,
Namun ia tak sudi menerima bantuan siapapun.

Sang guru, ‘Abdurrazzaq al-Shan’any –penyusun kitab “al-Mushannaf-
pernah menangis bercerita tentangnya.
“Ia datang berguru padaku, dan perbekalannya habis.
Aku pun mengambil 10 dinar. 
Dan di balik pintu, hanya ada aku dan dia,
Aku menawarkan uang 10 dinar itu.
Namun ia hanya tersenyum dan menolaknya dengan halus.
Ia bilang padaku: 
‘Wahai Syekh, andai saja aku menerima bantuan seseorang,
Maka engkaulah yang paling pantas kuterima bantuannya’.” 

Ketika istrinya, Ummu Shalih, meninggal dunia,
Ia meminta tolong salah satu kerabatnya untuk melamarkan putri pamannya.
“Lamarkan aku putri yang matanya hanya satu (yang berfungsi).”
Wanita shalehah inilah yang kemudian dikenali sebagai: Ummu ‘Abdillah;
Ibu dari putranya yang bernama Abdullah.

Sehari-harinya –kata putranya, Abdullah-,
Ia mengerjakan shalat sunnah sebanyak 300 rakaat.
Tapi setelah hukuman cambuk bertubi-tubi padanya,(*)
Ia “hanya” sanggup mengerjakan shalat sunnah 
Sebanyak 150 rakaat saja!
Dan saat itu, usianya menjelang 80 tahun…

Di hari kewafatannya,
Konon ada sekitar 800.000 orang yang menghadiri jenazahnya.
Konon pula –wallahu a’lam dengan kebenarannya- di hari itu:
Ada 20.000 orang Yahudi, Kristen dan Majusi yang masuk Islam.

Perlu juga Anda ketahui:
Imam al-Syafi’i pernah menjadi gurunya,
Dan mengakuinya pula sebagai guru.
Jika Anda kenal Imam Bukhari dan Imam Muslim,
maka mereka berdua ini pun adalah muridnya.

Imam Ahmad bin Hanbal.
Itulah pria yang sedang saya tuturkan secuil hidupnya di sini.

Semoga menginspirasi pada kebaikan!

(Muhammad Ihsan Zainuddin)

***

(*) Masa Fitnah Hukuman Cambuk

Pemahaman Jahmiyyah belum berani terang-terangan pada masa khilafah Al Mahdi, Ar-Rasyid dan Al Amin, bahkan Ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr bin Ghiyats Al Marisi yang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluq. Namun dia terus bersembunyi pada masa khilafah Ar-Rasyid, baru setelah dia wafat, dia menampakkan kebid’ahannya dan menyeru manusia kepada kesesatan ini.

Pada masa Khalifah Al Ma’mun, orang-orang Jahmiyyah berhasil menjadikan paham Jahmiyyah sebagai ajaran resmi negara, di antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Al Qur’an makhluk. Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa Al Qur’an makhluk, terutama para ulamanya.

Barangsiapa mau menuruti dan tunduk kepada ajaran ini, maka dia selamat dari siksaan dan penderitaan. Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa Al Qur’an Kalamullah bukan makhluk maka dia akan mencicipi cambukan dan pukulan serta kurungan penjara.

Karena beratnya siksaan dan parahnya penderitaan banyak ulama yang tidak kuat menahannya yang akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa zhalim meski cuma dalam lisan saja. 

Namun Imam Ahmad Bin Hambal bersikukuh.

Banyak yang membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk menyembunyikan keyakinannya agar selamat dari segala siksaan dan penderitaan, tetapi dia menjawab, “Bagaimana kalian menyikapi hadits “Sesungguhnya orang-orang sebelum Khabbab, yaitu sabda Nabi Muhammad ada yang digergaji kepalanya namun tidak membuatnya berpaling dari agamanya”. HR. Bukhari 12/281. lalu dia menegaskan, “Saya tidak peduli dengan kurungan penjara. Penjara dan rumahku sama saja”.

Ketegaran dan ketabahan dia dalam menghadapi cobaan yang menderanya digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim, “Saya belum pernah melihat seorang yang masuk ke penguasa lebih tegar dari Imam Ahmad bin Hambal, kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat”.

Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa, dia masih berpikir jernih dan tidak emosi, tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang yang lebih rendah ilmunya. 

Ia mengatakan, “Semenjak terjadinya fitnah saya belum pernah mendengar suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku, “Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati syahid, dan jika anda selamat maka anda hidup mulia”. Maka hatiku bertambah kuat”.