OLIGARKI & CAPRES BONEKA

OLIGARKI & CAPRES BONEKA

Catatan: Naniek S Deyang (eks wartawan senior)

Semalam saya keliling dengan mantan pacar (suami -red) naik motor, ke beberapa wilayah di seputar Muntilan Jateng. Sengaja naik motor biar bisa masuk ke gang-gang.

Saya menangkap suasana yang sunyi dan lengang, toko-toko dan jaringan supermarket Indomart dan Alfamart juga terlihat sepi, warung-warung yang buka juga sepi.

Akhirnya kami mampir ke warung mie yang masih ada 1-2 pembeli. Terlihat wajah penjual dan pembeli yang sedih. Tak lama seorang bocah berlari-lari membawa uang 5.000 perak minta dikasih satu porsi mie.

Kemudian saya kasih kode, biar saya saja yg bayar dan saya minta tambah beberapa porsi, karena bocah itu membelikan utk keluarganya.

Pembicaraan antara kami dengan tukang mie pun akhirnya akrab. Menurut tukang mie kondisi sepi ini karena rakyat bersedih dan tidak berani keluar kemana-mana karena mau beli apapun semua harga-harga mahal.

Saya tercekat mendengar cerita-cerita tukang mie tentang kesulitan rakyat lantaran harga-harga kebutuhan pokok yang melambung. 

Lantas pikir saya pun melayang bagaimana di Jakarta (Pusat) para politikus menghimpun kekuatan untuk bertransaksi dengan oligarki untuk mengusung capres boneka pilihan oligarki. Anak-anak muda bermain proyek di Departemen karena akses dekat dengan kekuasan atau menterinya. Para crazy rich makin gila pamer kekayaan di medsos padahal yg saya dengar mereka hanya menjadi tempat pencucian uang koruptor yg sekarang susah bawa duit hasil korupsinya ke LN.

Rakyat bawah sekarang jadi obyek! Obyek eksploitasi politik para oligarki dan calo2 politik baik orang dari partai maupun mereka yg menamakan diri relawan. Para oligarki dan gerombolannya paham bener, bahwa di situasi rakyat yg sulit, kalau dikasih duit 100-200 ribu itu sudah seperti dapat durian runtuh berton-ton. 

Mereka (rakyat kecil) hanya karena duit 100-200 ribu sudah seperti kerbau dicucuk hidungnya disuruh milih siapapun mau, gak peduli habis itu mereka menderita luar biasa. Sungguh ini hal yg merisaukan dan saya masih belum menemukan caranya mengatasi ini, agar rakyat jangan mau memilih calonnya oligarki! 

Andai seluruh kawan saya di sosmed ini tiap hari bisa bicara bahaya oligarki pada rakyat kecil, sambil mengatakan, nanti ambil uangnya saja dan jangan pilih orangnya, mungkin bisa sedikit demi sedikit mengikis demokrasi yg dikangkangi oligarki ini.

Balik ke laptop, saat ini rakyat menjerit ditimpa harga2, padahal harus bayar seragam, uang sekolah dll pada saat tahun ajaran baru dan kenaikkan kelas Juli - Agustus ini.

(11/6/2022)

*fb penulis