Luhut Putuskan Tiket Masuk Candi Borobudur Rp 750.000, Memangnya Borobudur Milik Mbahmu?!

Bukan Punya Kamu

Duh Gusti,

1. Yang bangun candi Borobudur itu adalah orang2 dulu. Bukan Jokowi, bukan Luhut, bukan BUMN yg ngurusin itu Borobudur sekarang. Dan 100% TIDAK pakai APBN.

2. Tahun 1973, saat Candi Borobudur dipugar, itu menghabiskan sekitar 100 milyar. Banyak loh habisnya. Siapa yg ngasih duit? Sebagian dari UNESCO, bersama negara2 penyumbang, ada 26 negara.

3. Argumen tiket mahal Rp 750.000 biar pengunjung dibatasi, kelestarian, perawatan lebih baik, bla-bla-bla adalah argumen lucu! Heh, itu teh kebanggaan bersama Indonesia. Dgn elu bikin mahal seperti itu, yg datang siapa sih? UMP/UMR Jateng, Yogya itu cuma berapa? Bahkan UMP/UMR Jakarta cuma berapa? Masa' mau masuk candi kebanggaan Indonesia, setara 25% gaji sebulan. Mending nonton di bioskop deh, bisa 20x.

4. Nah, kocaknya argumen orang2 ini, mereka bilang, TAPI, tapi, tapi tiket pelajar sy bikin cuma 5.000 deh. Mereka peduli deh. Tapi bapak Ibunya elu paksa bayar 750.000! Baiklah, jadi target candi ini cuma buat study tour pelajar? Kok aneh, katanya mau ngurangin pengunjung cuma 1.200? Kontradiktif. Kalau kamu memang mau ngurangin pengunjung, biar lestari, tutup saja total dari pengunjung umum. Beres. Hanya utk acara agama, dan sejenisnya.

5. Nafsu kalian menaikkan semua harga itu cobalah ditahan dulu. Hanya gara2 presentasi sedikit, ada yg ngoceh bla-bla-bla, ooh masuk akal, naikin deh. Astaga? Coba sesekali rasakan situasi di lapangan. Lihat realitas rakyat Indonesia.

Hanya karena tiket 750.000 tetap ada yang beli, jutaan yg tetap bisa beli, bukan berarti lu tutup mata dgn fakta, puluhan juta rakyat Indonesia itu miskin. Mereka juga berhak lihat candi Borobudur. Karena negeri ini punya bersama loh? Yg lain juga mau foto2 di Borobudur, datang ke sana, merasakan kemegahan sejarah bangsa. Masa' mereka nanti cuma bisa photoshop. Dan lebih ngenes lagi, itu jomblo2 cuma foto bareng lemari deh.

Jangan semua keputusan itu cuma pakai logika ekonomi, investasi, bla-bla-bla. Hanya karena secara logika tim elu itu kayaknya mulia, keren, kan tidak otomatis menurut orang banyak keren. Mereka yg susah jadinya.

Lu mah enak, bahkan jika tiket ini jadi 750 juta, elu gratis masuknya. Pejabat sih. Kalian gratis, kemana2 dari anggaran, jadi nggak mikir. Enak memang mutusin semaunya. Coba dibuka, urusan haji misalnya, ada berapa pejabat, keluarga pejabat, yg berangkat naik haji tahun ini, lewat jalur 'monitoring', 'pengawasan', 'tupoksi', dll, dsbgnya. Rakyat antri 30 tahun, orang2 ini langsung berangkat gratis dibayari negara, dgn fasilitas terbaik. Coba dibuka deh, dari pemerintah berapa, dari DPR berapa, dll. Nanti kaget kalau dibuka semua.

(By Tere Liye)