Jangan sampai suatu saat nanti negara kita menjadi seperti Singapore, penduduk asli Pribumi terpinggirkan

OH SINGAPORE!!!

Oleh: Jonru Ginting

Tahun 2015 lalu saya pernah berkunjung ke Singapore. Waktu itu ada acara di Batam, dan panitia di sana mengajak saya jalan-jalan ke Singapore. Berangkat pagi, pulang sore.

Saat berada di Singapore, saya kagum melihat kemajuan kotanya. Tak ada kemacatan lalu lintas. Semua warganya hidup tertib dan teratur. Kereta api bawah tanahnya sangat canggih. Intinya, Singapore adalah negara kecil yang sangat modern.

Sore harinya kami kembali ke Batam. Sesampai di Batam, saya tiba-tiba menyadari satu hal:

Memang dari segi teknologi, kebersihan, ketertiban warga, dst, Singapore jauh lebih bagus dibanding Indonesia.

Namun ada satu hal penting di Indonesia yang tidak dimiliki oleh Singapore, yakni keramahtamahan warga.

Selama di Singapore, saya berpapasan dengan banyak orang yang tingkah lakunya seperti robot. Mereka semua diam, tidak ada yang bicara, apalagi saling menyapa.

Jika Anda berada di dalam kereta api di Singapore, maka suasana di dalam sangat sunyi senyap. Anda tidak akan mendengar ada orang yang berbicara, walau hanya sekadar berbisik-bisik.

Saya tiba-tiba merasa sangat bangga pada Indonesia, pada keramahtamahan warganya yang NOMOR SATU sedunia.

Singapore adalah negara yang sangat unik. Pemerintahannya berideologi kiri, namun negaranya diapit oleh sejumlah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Malaysia dan Brunei adalah negara yang menerapkan syariat Islam, walau dalam porsi yang berbeda.

Indonesia tidak menerapkan syariat Islam, namun suasana beragama di sini sangat terasa.

Situasi seperti ini membuat pemerintah Singapore tidak berani "macam-macam" terhadap warga negaranya yang beragama Islam. Mereka membiarkan umat Islam di sana beribadah dengan bebas. Bahkan Singapore termasuk negara yang sangat peduli pada WISATA HALAL.

Namun soal penyakit Islamophobia, Singapore termasuk penderita paling akut.

Ada teman saya yang tidak boleh masuk Singapore, hanya karena namanya berbau Arab. Bahkan sekadar transit di bandara pun sangat dipersulit.

Nah, hari ini kita dapat kabar tentang Ustadz Abdul Somad (UAS) yang dideportasi dari Singapore. Di satu sisi, peristiwa ini tentu sangat disayangkan. Namun dengan penjelasan seperti di atas, sebenarnya perlakuan pemerintah Singapore tersebut bukan hal baru. Mereka sudah sangat biasa melakukan hal seperti itu. Kita menjadi heboh karena "korbannya" kali ini adalah ulama yang sangat populer dan dihormati di Indonesia.

Dengan peristiwa ini, semoga kita makin sadar bahwa negara tetangga yang satu ini memang BEDA SENDIRI.

Penduduk asli Singapore adalah Melayu. Namun kini penduduk Melayu di sana justru terpinggirkan, dikalahkan oleh pendatang yang akhirnya menguasai negara tersebut.

Jangan sampai suatu saat nanti negara kita menjadi seperti Singapore. Sebab kalau dilihat dari fenomena.... hm kok tiba-tiba ada tukang bakso lewat di depan rumah. Sudah dulu ya. Terima kasih 🙂

Jakarta, 18 Mei 2022
Jonru Ginting