Agustinus: Mari kita kuliti pembelaan Telkom Group terkait GOTO

Mari simak pembelaan Telkom Group mengenai isu GOTO. Saya coba berikan catatan.


Dari sekian berita yang dimuat media sepanjang hari kemarin, saya pilih dari Republika (milik Mahaka Group, yang pemegang saham pengendalinya masih Menteri BUMN Erick Thohir). Narasumber dari Telkom adalah Senior Vice President Corporate Communication & Investor Relation TLKM Ahmad Reza. Dulu dia Head of Corporate Communication Bank Mandiri. 

Mari kita kuliti dua poin saja (dari pembelaan Telkom Group):

1. Dinamika harga saham merupakan hal lazim. Saham bisa naik, bisa turun sesuai kondisi pasar. Tahun lalu Telkom mencatatkan unrealized gain atas investasi GOTO Rp2,5 triliun. 

Catatan saya: 
Kita ikuti hitungannya. Buka Laporan Keuangan TLKM per 31 Desember 2021 hlm. 50. 

Telkomsel kasih utang (Convertible Bond tanpa bunga, tenor 3 tahun) ke GOTO US$150 juta (Rp2,1 triliun) yang bisa dikonversi ke saham. Telkomsel juga punya opsi beli saham GOTO senilai US$300 juta (Rp4,2 triliun) pada harga US$5.049/lembar (Rp73 juta, kurs Rp14.500). 

Pada 18 Mei 2021, setelah merger Gojek-Tokopedia, semua dieksekusi lewat perjanjian pembelian saham antara Telkomsel dan GOTO. Rp2,1 triliun menjadi 29.708 lembar, Rp4,2 triliun menjadi 59.417 lembar. Berarti totalnya 89.125 lembar senilai Rp6,3 triliun. 

Lalu pada 14 Oktober 2021 (lihat prospektus GOTO hlm. 713) GOTO melakukan penyesuaian nilai nominal saham menjadi Rp266/lembar untuk semua seri saham dari sebelumnya Rp1. (Rasio 1:266). Maka jumlah lembar saham bertambah. Saham Telkomsel di GOTO menjadi 23.722.133.875 lembar. 

Telkomsel menilai nilai wajar investasi di GoTo setelah stock split itu adalah Rp375 per saham berdasarkan harga transaksi YANG DAPAT DIAMATI dari data transaksi terakhir sebelum akhir tahun.  

Tinggal hitung deh. 

23,7 miliar lembar x Rp266 = Rp6,3 triliun.
23,7 miliar lembar x Rp375 = Rp8,8 triliun.
Selisih = Rp2,5 triliun (unrealized gain). Sebelum IPO.

Simpel, kan, kalau mau kelihatan keren dan terpelajar di depan masyarakat.

Tapi, mereka tidak memahami apa yang dimaksud masyarakat, terutama di dinding ini. Profit/loss dan fluktuasi harga di market adalah hal umum. Semua orang paham itu. Ada risk, ada return. Ada teknikal, ada fundamental. Ada trader, ada investor. Ada bullish, ada bearish. 

Justru pesan pentingnya adalah GOOD GOVERNANCE. Transparansi sangat penting. JANGAN SAMPAI melakukan tindakan yang menjurus korupsi, kolusi, nepotisme. Jangan pada utak-atik buku dan press release untuk menyelubungkan kejahatan. Jangan jadikan BUMN sapi perah. Malu sama nama gedung Telkom: Merah Putih!

MASALAHNYA adalah kok bisa BUMN memberikan Rp6,3 triliun ke perusahaan yang pengurus dan pemegang sahamnya adalah kakak Menteri BUMN, padahal Menteri BUMN adalah wakil NKRI (dalam RUPS) sebagai pemegang saham mayoritas (52%) di TLKM, yang mengendalikan Telkomsel? Audit atau proses hukum mungkin bisa dikondisikan TAPI hubungan darah sebagai keluarga tak bisa ditutupi, yang sangat potensial memicu konflik kepentingan dan ketidakadilan bagi warga negara yang lain. 

Itu dulu dipikirkan baru bicara tentang realized or unrealized, valuasi, analisis pengukuran nilai wajar, unsur tindak pidana dan kawan-kawannya. 

Yang sering menyimak tulisan saya tentu tahu bahwa saya pernah melaporkan dugaan tindak pidana nepotisme itu ke penegak hukum (KPK) tapi ditolak, padahal UU 28/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN mengatur ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara bagi pelaku pidana nepotisme. 

Tapi, by the way, karena terlanjur buka Laporan Keuangan Telkom 2021, sekalian saja disenggol mengenai kasus investasi Telkom melalui anak perusahaan PT PINS di PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE). Salah sendiri, harusnya jangan dibawa-bawa lagi yang tahun 2021. Toh, publik nggak ngeh. 

18 September 2014, PINS membeli 25% saham Tiphone senilai Rp1,395 triliun. PINS beli dari Boquete Group SA, Interventures Capital Pte. Ltd, PT Sinarmas Asset Management, dan Top Dollar Investment Ltd. 

Sama seperti GOTO, yang dinilai paling besar adalah aset tak berwujud (Rp188 miliar) dan GOODWILL (Rp647 miliar). 

Tahun 2020, Telkom mengakui penurunan nilai penuh atas investasi di TELE dan menyisihkan untuk menutup kerugian, yang dicatatkan sebesar Rp485 miliar (per 31 Desember 2020). Itulah mengapa Laporan Keuangan TLKM Q1 2022 (31 Maret 2022), 'bersih' dari urusan TELE.

TELE sendiri mengalami defisiensi modal Rp4,2 triliun (per 31 Maret 2022). Bos Tiphone, HS, yang dulu dijuluki Raja Voucher, yang sultan pada masanya itu, berstatus pailit berdasarkan Putusan PN Jakarta Pusat tahun 2020. 

Kejagung sempat mengusut perkara dugaan korupsi itu, lantas---mungkin karena mangkrak---diambil alih KPK. Penyelidikan diumumkan. Desember 2020, mantan Dirut PINS pernah diperiksa, tapi tidak ada kabar kelanjutan perkara itu sampai sekarang. Belakangan salah satu deputi penindakan di KPK dikabarkan 'terciduk' bertemu dengan pihak Tiphone untuk 'berdiskusi' tentang kasus. 

Hanya keledai yang jatuh di gorong-gorong yang sama untuk kedua kalinya. Jika soal GOTO ini luput dan di kemudian hari berakhir seperti TELE maka keledai itu adalah kita. 

2. Telkom berkata, "Merger Gojek-Tokopedia diharapkan semakin memperkuat investasi Telkomsel di Gojek untuk menjadi solusi digital yang lengkap dengan nilai sinergi value yang cukup tinggi. Telkomsel juga memberikan solusi kepada pengemudi dan merchant Gojek untuk meningkatkan engagement melalui penggunaan layanan digital connectivity dan platform advertising Telkomsel. Sehingga dengan adanya program sinergi ini, kami berharap akan tercipta nilai tambah (value creation) yang berkelanjutan baik bagi Telkom, GoTo dan Indonesia di masa depan."

CATATAN Saya: 
Mual saya.

Apa bedanya dengan ini (saya kutip dari Indotelko, 29 Juni 2015)?

"Aksi korporasi itu kami lakukan tahun lalu demi mengamankan value chain. Saat ini Telesindo merupakan distribusi channel yang paling strategis untuk mendukung sustainibility revenue Telkomsel. Kenapa kita tidak beli pesaing TiPhone tahun lalu? Soalnya mereka distribution channel pesaing Telkomsel. Jadi, pembelian TiPhone itu untuk memperkuat value chain distribusi Telkomsel," kata Direktur Utama Telkom Alex J Sinaga saat itu di Rapat Dengar Pendapat DPR. 

Memang benar. Bahasa menunjukkan bangsa.

Salam.

(Agustinus Edy Kristianto)

Baca juga :