SEKULARIS BERJAS ULAMA... Innalillahi wa inna ilaihirrajiun!

SEKULARIS BERJAS ULAMA!

Saya pernah berdebat dengan seorang sahabat yang mengagumi seorang "Ulama" yang menjadi Pengagum Rezim sekarang.

Menurut mereka, Rezim sekarang sudah sangat Islami. Paling tidak, bukan Rezim Anti Islam. Alasannya, menurut "Ulama-mereka" Negara kita mayoritas Muslim. 

Para Pemimpin kita juga mulai Presiden, Wakil Presiden, Kapolri, Panglima TNI, Ketua DPR dan Ketua MPR, semuanya muslim.

Ok, coret. Kapolri kita sekarang non muslim (bayangkan kurang toleran apalagi Muslim di Negeri ini. Dengan Muslim mayoritas, Kapolri-nya Non Muslim). Dan satu lagi Panglima TNI, muallaf. Hebat.

Saya katakan, Turki juga sebelum jadi Negara Sekularis adalah mayoritas Muslim. Presidennya yang membawa Negara itu berubah jadi Negara Sekuler adalah "ngaku" Muslim. Saya juga yakin, semua Pejabat Tingginya Muslim. Tapi lambat laun berubah jadi Negara Sekuler yang bahkan sampai merubah Azan jadi Bahasa Turki.

Pola yang dibangun oleh Kemal Laknatullah hampir mirip dengan sekarang yang terjadi di Indonesia. Membangun Nasionalisme sempit yang anti Arab (contohnya di atas tadi, sampai Azan dia rubah jadi Bahasa Turki).

Mulai kelihatan clue-nya kan?

Negara kita juga sejak Rezim sekarang berkuasa mulai ramai anti Arab. Menuduh orang lain yang anti Pemerintah dengan sebutan Kadrun (Kadal Gurun). Memaki-maki Yaman (padahal yang menjajah Nusantara adalah Belanda).

Lanjut sahabat saya juga melalui "Ulama mereka" itu dengan mata melotot berteriak-teriak dari atas Mimbar " Apakah di Negera ini dilarang Sholat, dilarang Puasa. Dilarang Haji dan Mengaji?"

Swalayan. Dasar Manusia berotak cetek.

Apa dia pikir dulu Kemal Laknatullah langsung melarang orang Turki Sholat?

Lagipula begitu sempit pemahaman si Ulama mata melotot itu. Islam itu bukan cuma sholat, puasa, haji dan mengaji. Islam bukan cuma ritual ibadah dan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Tapi Islam juga mengatur Hubungan Antara Manusia dan antara Manusia dengan Alam semesta.

Saya yakin, minimal untuk kondisi saat ini, Islamphobia sekalipun tidak akan perduli apalagi berani melarang Ritual Ibadah Umat Islam. Tapi mereka akan berjuang setengah mati menjadikan Islam hanya sebatas urusan Pribadi (Tapi kalau urusan Haji akan tetap urusan Pemerintah karena ada cuannya).

Sampai disini kalangan Islamphobia sudah menang. Mereka berhasil melokalisir Islam jadi hanya sekedar ritual ibadah pribadi.

Padahal Islam juga mengatur Hubungan Antara Manusia. Hubungan antara Pemimpin dengan rakyat. Hubungan Bisnis. Hubungan Kerja dan lainnya.

Sampai disini, si Ulama mata melotot, dan jamaah doengoenya apa bisa paham?

Kalau syariat Islam ditegakkan sesuai Dasar Negara kita, Pancasila Sila pertama, berarti Sistem Perbankan kita melarang Riba, khususnya untuk nasabah Muslim.

Ini contoh kecil. Dan tentu saja hal ini akan merugikan kelompok yang kita tahu mereka siapa. Segelintir Non Muslim yang mengatur negara ini dari balik layar (lewat wayang).

Kalau syariat Islam diakomodir sesuai Dasar Negara kita, maka tidak ada penguasaan Lahan Negara oleh segelintir manusia rakus yang bahkan memilih tinggal di Singapura.

Kalau syariat Islam ditegakkan, apa yakin masih ada yang berani Korupsi?
Potong tangan loh, bukan potong masa tahanan!

Tapi justru Syariat Islam yang seharusnya jadi jalan keluar dari carut-marut dan merajalelanya Praktek Korupsi di Negara ini dianggap sangat membahayakan. 

Kalau yang menganggapnya cuma Non Muslim, wajar. Lha, ini yang ketakutan juga Umat Islam sendiri. Padahal kerjanya cuma Buruh Pabrik. Ngapain keberatan Pejabat Negara diancam potong tangan kalau Korupsi?

Jadi tolonglah Ulama mata melotot,termasuk Kelompok Islam Nusantara berhenti disesatkan dan menyesatkan Umat Islam.

Islam bukan cuma sekedar urusan ritual ibadah pribadi. Jangan mengecilkan Islam jadi sekedar keyakinan yang menjadi urusan pribadi.
Atau lebih parah lagi, menganggap Islam lebih kecil dari Ormasnya.

Ayo berhenti memecah-belah unat dengan terlalu meninggikan Ormasmu. 

Mosok Islam dihina mereka diam dan bersikap sok bijak dengan meminta tabayyun dan saling memaafkan. Tapi giliran Ormasnya atau Kyainya disentil, orangnya dilaporlan bahkan sampai meninggal di Tahanan!

Innalillahi wa inna ilaihirrajiun!

(By Azwar Siregar)